Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Hukum Pilihan

Kisah Kasih Konsultan Politik dan Kliennya, 8 Alasan Saya Tak Percaya Denny Siregar

17 September 2019   14:48 Diperbarui: 10 Oktober 2019   07:15 2810
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sayangnya, kawan dan sahabat saya yang cinta buta jagoannya di Pilpres menjadi galau. Lalu, teorinya berjalan soal banyak hal. Seru juga sih menyaksikan begitu banyak aktivis yang begitu terpelajar, dan melihat proses revisi UU KPK yang tergopoh dan terkesan ceroboh dan pongah itu sebagai 'normal'. Belum lagi lihat 'fit proper test' di jam 1 malam buta. Saya kok merasa dibodoin ya. Apalagi melihat sidang Komisi III. Seperti terbirit teken di penghulu karena penghulu segera pindah gedung lain. Ketika pengukuhan pimpinan KPK, Fahri Hamzah menyebut yang hadir hanya beberapa puluh lalu yang ijin sekian ratus, dan dok dok dok sesuai quorum. Alah mak jan. Apakah ini normal, saudaraku yang sekolahnya sudah hebat hebat? Anda tidak merasakan itu? 

Delapan, seperti tulisan saya sebelumnya, Denny adalah konsultan politik. Ia memang hidup dari analisisnya dan advis politiknya. Di masa yang lalu, mungkin ia bisa dipercaya ketika mengatakan akurasinya soal 212 dan 411. Sebagai konsultan, ia bisa memiliki beberapa klien. Bahkan bisa juga klien dengan partai politik yang berbeda, yang punya kebijakan berbeda, atau malah bertubrukan.  Saya rasa, ia bisa kaya raya untuk menjadi konsultan partai sebesar PDIP, Kantor Kepresidenan atau BAIS untuk kasus seheboh UU KPK. 

Siapa Denny Siregar?

Denny Siregar dalah pegiat di medsos. Tentunya waktunya bisa 20 sampai 24 jam di depan gadget membaca dan melakukan 'riset', membaca gejala dan tren. Bila ingin menemui Denny, bisa dijumpai twitter, FB dan Instagram. Tapi mungkin sulit ditemui di dunia nyata. 

Pada awalnya ia adalah Jurnalis Radio. Besar di Bandung dan 'sempat' kuliah di Surabaya. 

Di masa Pilpres, Denny Siregar nampak sangat rasional. Apa yang ia tulis ringan renyah gurih, kayak keripik Taro. Namun, saya melihat terdapat yang janggal, khas konsultan politik. Biodatanya tak terdapat di manapun. Tak juga di Linked-in.  

Dan keraguan saya pada kredibilitas Denny muncul dalam beberapa hal:

1. Denny tidak obyektif melihat Firli Bahuri. Kita bisa melihat bahasa tubuh dan gaya Firli Bahuri serta sepasukan anggota DPR yang melakukan wawancara 'fit and proper test'. Bagi seorang konsultan politik yang handal, ia tentu punya kemampuan membaca diluar yang tekstual. 

Bahasa tubuh, simbol simbol, prosedur dan proses dan konektivitasnya perlu tahu. Ia bahkan tak menyentuh betapa prosedur revisi UU KPK itu janggal, bergesa, dan menutup konsultasi publik. Undang undang anti terorisme yang berkenaan dengan keamanan negara saja dikonsultasikan. Ini malah ditutup tutupi.  

Ia dengan ringan memproteksi Firli Bahuri dengan memelas bahwa Firli dibunuh karakternya. Di mata saya Firli nampak sudah tahu bakal jadi apa, bahkan sebelum melamar. 

Di sisi lain, dituliskan betapa 'cemen' dan 'cengeng'nya Agus Rahardjo, yang begitu saja kok mundur, tidak professional. Kepada rekan saya yang anggota DPR yang membagi beberapa kisah melalui pesan Whatsapp, saya ucapkan terima kasih atas tulisan itu ya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hukum Selengkapnya
Lihat Hukum Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun