Mohon tunggu...
Chris Ryan
Chris Ryan Mohon Tunggu... Dokter - Hanya seorang pencinta bahasa Indonesia

Hanya seorang pencinta bahasa Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Sebuah Curahan Hati, "Ya, ini aku..."

26 Maret 2019   01:20 Diperbarui: 3 Mei 2020   16:21 605
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Seiring berjalannya waktu, aku semakin matang dan digdaya dalam mengungkapkan banyak hal yang terbetik di hati dan pikiranmu. Dari yang terkecil, terhalus, tersederhana hingga yang terbesar, tergamblang dan terumit. Apa pun yang mungkin berkelebat dalam alam pikirmu, aku mampu mewujudkannya dalam untaian kata yang meluncur mulus dari mulutmu. 

Aku mampu menampung segala niat, tujuan, rasa dengan segala nuansanya, beserta gagasan yang berlompatan dengan tidak sabar dan kegirangan dalam pikiranmu, bahkan yang terliar dan teraneh sekalipun, lalu membawakannya pada pikiran yang lain dan mewujudkannya di sana, persis seperti apa yang kau ciptakan di pikiranmu, sampai ke rincian terkecilnya.

Pernahkah air matamu meleleh saat kisah pilu menyentuh batinmu? Atau bahkan menganak sungai saat kenestapaannya kau rasakan tak tertahankan?

Atau pernahkah kau berguling-guling di lantai dan perutmu sakit karena tak kuat menahan tawa? Pernahkah kau terbahak-bahak, diselingi cekikikan sembari agak megap-megap mencuri napas karena sibuk menghasilkan suara berlenggek yang khas, dan mampu menulari orang lain yang mendengarnya?

Tentu tak lucu bukan, jika kau sekonyong-konyong tertawa di siang bolong atau di tengah malam tanpa sebab? Kurasa tak ada yang mau dikatai sebagai orang gila baru, bukan?

Sesuatu yang menggelitik sanubarimu, perasaan geli yang sukar kau terangkan dengan kata-kata, tapi secara umum, kau menyebutnya sebagai "lucu".

Lalu kau tertawa. Wajar.

Tahukah kau apa yang membuatmu bisa begitu?

Hah, tak hilang juga kerutan itu.

Kesal sekali aku. Padahal sudah sejelas itu.

Tunggu.

HALAMAN :
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun