Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Eunicha Salsabila

10 Juni 2020   06:00 Diperbarui: 10 Juni 2020   06:05 174
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

“Hanya ingin tidur saja, Sayang.”

Mata Calvin tak bisa berdusta. Aku melirik Silvi gemas, berusaha memberi kode.

“Putri Ayah temenin ya? Silvi juga ngantuk. Good night, Cha.”

Mereka berjalan bergandengan tangan ke kamar utama. Aku beranjak ke kamar di sebelahnya. Calvin dan Silvi tidak pernah tidur di lantai atas karena kondisi tubuh Calvin yang agak khusus. Sebagian orang mungkin tak setuju bila seorang gadis tidur bersama ayahnya. Bukan masalah bagiku, takkan kuhakimi mereka seperti mereka menerimaku tanpa tendensi.

Di kamar yang kutempati, terdapat connecting door yang mengarah ke kamar utama. Pintu penghubung itu agak terbuka. Aku terlanjur berbaring di ranjang dan enggan turun lagi untuk menutupnya. Tak sengaja kutangkap suara-suara lembut dari kamar utama.

“Ayah, aku selalu berdoa agar Ayah diberi umur panjang sampai seratus tahun,” ujar Silvi.

“Tambahkan lagi doanya, Sayang. Agar Ayahmu ini kuat dan sehat. Untuk apa umur panjang bila Ayah hanya tergeletak di ranjang? Kamu hanya akan lelah merawat Ayah.”

“Aku bisa menghadapi apa pun asalkan bersama Ayah. Aku ikhlas melewati apa saja asalkan ada Ayah di sisiku...”

Kutebak mereka sedang berpelukan. Bola mataku memanas. Tak dapat kucegah kristal bening ini berjatuhan. Silvi beruntung memiliki ayah sebaik Calvin. Samar kudengar denting piano dari kamar sebelah dan suara nyanyian.

Tergoda aku ‘tuk berpikir

Dia yang tercinta

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun