Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Malaikat, Lily, Cattleya] Apel Tergigit Merana

23 September 2019   06:00 Diperbarui: 23 September 2019   06:00 96
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Body mentereng, tapi nggak laku! Makanya jangan kemahalan!" ejek Xiaomi.

Aku bergeming. Kubiarkan saja. Kujelaskan pun mereka tak paham. Hal-hal spesial memang sulit dimengerti.

"Iya dong. Kayak kita-kita ini ajalah. Kualitas ok, harga ok." timpal Vivo.

"Hahaha, iPhone nggak laku! iPhone kemahalan!" Huawei menari-nari kegirangan di atas rak. Dia tertawa-tawa, puas sekali membullyku.

Kemarahanku tersulut. Tidak, ini tidak benar. Kudengar dari penciptaku kalau penjualan iPhone membuat saham Apple melonjak tinggi. Ketika kusampaikan fakta ini pada teman-teman penghuni rak, mereka tertawa.

"Itu kan di Amerika sana! Nah kalau di toko ini...? Kamu nggak laku-laku tuh, karena kemahalan!" seru Oppo sambil tertawa.

"Ah, susah berdebat sama barang biasa kayak kalian." cetusku kesal.

"Mendingan barang biasa tapi laris manis, dari pada barang mahal tapi nggak laku." Huawei membela diri.

Aku mencibir. Lihat saja, sebentar lagi aku pasti laku.

Aku larak-lirik ke kanan dan ke kiri. Para pegawai toko dan calon pembeli anteng saja. Mereka sama sekali tak terganggu dengan perdebatan kami. Bukankah dari tadi kami berisik sekali? Mereka tenang-tenang saja tuh. Sibuk memilih produk, menjelaskan spesifikasi, dan melakukan pembayaran. Sebagian besar pembeli sudah beralih membayar secara nontunai. Selamat tinggal uang cash. Dalam hati aku berdoa agar cepat laku.

"Permisi,"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun