Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Penulis Novel

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Hari Ulang Tahun Bunda

24 Mei 2019   06:00 Diperbarui: 24 Mei 2019   06:13 0 32 26 Mohon Tunggu...
Hari Ulang Tahun Bunda
Pixabay.com

Hari Ulang Tahun Bunda

Kelas Jose kedatangan murid baru. Namanya Tamara Aisyah Sayidina. Tamara berambut panjang dan berwajah perpaduan Jawa-Eropa. Ia secantik Silvi. Bedanya, Tamara bermata hitam dan Silvi bermata biru.


Semua anak menyukainya. Selain cantik, Tamara pintar dan baik. Ia sering berbagi bekal dengan teman-temannya. Bekal bawaan Tamara banyak sekali. Kata Tamara, semua itu buatan tangan Bundanya.

Tamara tinggal bersama Bunda Dinda. Tiap hari, ia diantar-jemput Bundanya. Jose iri melihat Tamara dan Bunda Dinda begitu dekat. Keinginan Jose untuk punya Bunda tak kesampaian.

"Tamara, gimana sih rasanya punya Bunda?" tanya Jose sebulan setelah kepindahan Tamara.

"Enak dong. Bunda manjain Tamara, masakin yang enak-enak buat Tamara, bikinin kue ulang tahun, jahitin gaun, waaaah pokoknya asyik." jawab Tamara riang.

Jose menggigit bibirnya. Kalau saja ini bukan mulia, ia sudah menghambur ke ruang direktur yayasan dan memprotes Ayahnya. Ayah Calvin tidak pernah mau memberikan Bunda baru buat Jose.

"Boleh nggak aku ketemu Bundamu lagi?" Jose memohon penuh harap.

"Boleh banget dong. Anggap aja Bundaku Bundamu juga."

Tamara baik sekali. Dia mau berbagi Bunda dengan Jose. Kira-kira, Ayah Calvin keberatan tidak ya?

Bel pulang berdering. Anak-anak mendesah lega. Sekolah dipulangkan lebih awal selama bulan mulia.

"Jose, ayo! Katanya mau ketemu Bunda!" Tamara berseru di depan pintu kelas.

Cepat-cepat Jose berkemas. Lalu ia menyusul Tamara. Keduanya berlari menuju gerbang.

Di depan gerbang, berderet mobil jemputan. Jose dan Tamara mengedarkan pandang ke sekeliling. Ah, itu dia.

Bunda Dinda melangkah anggun menghampiri mereka. Lengannya terentang memeluk Tamara. Hati Jose berkecamuk, antara senang dan sedih. Sepertinya menyenangkan ya, punya Bunda.

"Hei Jose Sayang...kenapa? Kok sedih?"

Pertanyaan Bunda Dinda mengalihkan perhatiannya. Ternyata Bunda Dinda tahu jika ia sedih.

"Jose nggak punya Bunda..." lirihnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6