Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Andai Semua Dosen dan Mahasiswa Melihat Senyuman Mereka

6 Februari 2018   05:58 Diperbarui: 6 Februari 2018   06:59 919 22 16

Sama sekali tak ada maksud riya' atau membanggakan diri di sini. Hanya berbagi perasaan saja, ok?

Terus terang saja, Young Lady cantik masih galau. Galaunya galau cantik ya. Oh iya dong, galau pun harus cantik. Walaupun jalan tengahnya sudah ketemu, kadang-kadang masih terlintas kegalauan itu.

Galaunya Young Lady cantik bukan karena asmara. Tapi karena soal lain.

Hmm....mulainya dari mana ya? Ini semua berawal dari salah satu kebiasaan di keluarga. Keluarga inti, bukan keluarga besar. Layak bila kebiasaan ini disebut Jumat Berbagi.

Jadi, satu kali dalam seminggu, Young Lady dan keluarga inti punya kebiasaan berbagi di Hari Jumat. Seringnya berbagi makanan gratis pada orang-orang yang membutuhkan. Turun ke jalan secara langsung dan membagi-bagikannya. Ada kalanya pula mendatangi panti asuhan dan memberikan amplop kecil. Begitu terus bergiliran. Namun berbagi makanan lebih sering. Sebab langsung terasa manfaatnya, dan dapat disampaikan pada orang-orang yang tepat. Kalau ke panti asuhan, belum tentu dirasakan langsung oleh anak-anaknya. Namanya manusia, siapa yang tahu?

Kebiasaan positif ini berlangsung tiap Hari Jumat. Ini kaitannya dengan spiritualitas. Ajaran agama yang dipeluk menjanjikan banyak keutamaan saat berbagi di Hari Jumat. Intinya, Jumat ibarat hari spesial, hari ibadah, hari yang jauh lebih baik dari hari-hari lainnya.

Namun, sayang sekali. Kebiasaan berbagi di Hari Jumat menemui sedikit kendala. Semester ini, ada kelas di Hari Jumat! Oh my God.

Semula, Young Lady cantik kesal, khawatir, dan sedih. Mengapa jadwalnya tidak dipindah ke hari lain saja? Tidak bisakah Hari Jumat dikosongkan? Jumat minggu kemarin, ada jalan tengah. Berbagi seusai Subuh. Pagi-pagi sekali, sebelum berangkat ke kampus, turun dulu ke jalan. Berbagi dengan cantik. Berbagi sarapan gratis dengan cantik pada orang-orang yang membutuhkan. Berbagi dengan cantik di sepanjang jalan, lalu meluncur ke universitas yang ingin segera ditinggalkan karena sudah tidak betah.

Yups, itu jalan tengahnya. Paling tidak, ada solusi. Tapi Young Lady masih belum menyerah. Coba mencari ke kelas sebelah. Menanyai jadwal mereka. Adakah kemungkinan merevisi ulang kontrak kuliah dan mengganti jadwal dengan kelas sebelah? Ternyata mereka sama saja: kelas di Hari Jumat.

Dan kemarin, Young Lady berusaha memengaruhi si penanggung jawab mata kuliah itu untuk melobi agar jadwal bisa diganti ke hari lain. Tentu si teman sekelas penanggung jawab itu tak tahu mengapa Young Lady begitu ngotot dengan cantik untuk pindah jadwal. Ia hanya tahu, kalau Young Lady cantik itu orang sibuk. Dia tak perlu tahu apa yang sebenarnya dilakukan di Hari Jumat.

Setelah dipengaruhi dengan cantik, ia bersedia mengusahakannya. Walau tak bisa janji. Soalnya tahu betul karakter dosennya. Tahu pula bahwa jenis mata kuliahnya MKDU. Biasanya susah dipindah ke hari lain. Terlebih dosen-dosen MKDU kebanyakan menyebalkan dan susah diajak kompromi.

Entahlah bagaimana hasilnya. Mudah-mudahan bisa diganti ke hari lain. Kalaupun tak bisa, ya sementara pakai jalan tengah yang tadi: berbagi ala Calvin. Mengapa disebut begitu? Baca saja kisah-kisah fiksi Young Lady yang ditulis dengan cantik. Kalau Kompasianer tergolong observant, pasti tahu jawabannya.

Actually, kegalauan ini sudah dipecahkan dengan jalan tengah "Berbagi Ala Calvin". Namun, seperti kata Isyana Sarasvati dalam lagunya, Young Lady masih berharap jadwalnya bisa diganti ke hari lain. Agar Hari Jumat bisa digunakan full time untuk fokus berbagi.

Eits, jangan samakan Young Lady cantik dengan kebanyakan mahasiswa lainnya. Jumat bukan digunakan untuk bersantai, tidur sepuas-puasnya, pacaran, atau hang out dengan teman-teman. Tetapi untuk berbagi. Untuk memberi pada orang lain yang membutuhkan.

Mau tak mau Young Lady sedih juga memikirkan hal ini. Memang tak mudah bila meniti jalan yang berbeda dari yang lainnya. Kalau kebanyakan mahasiswa seumuran Young Lady pikirannya cuma sebatas IPK, tugas kuliah, organisasi, biaya kuliah, biaya hidup di rantau bagi mahasiswa luar daerah, dan asmara, ada hal lain yang dipikirkan Young Lady. Hal lain yang jarang dipikirkan oleh mereka: membuat orang-orang kecil, lemah, tak berdaya, dan fakir bisa tersenyum.

Bila Zaadit Takwa berani memberi kartu kuning pada Pak Jokowi, Young Lady cantik berani take action dengan berbagi tiap minggu. Bila kebanyakan mahasiswa hobinya turun ke jalan, demo sana-sini, berteriak minta didengar aspirasinya, Young Lady cantik suka turun ke jalan tapi untuk membuat orang-orang kecil di pinggir jalan tersenyum. Kalau para mahasiswa turun ke jalan dengan membawa massa begitu banyak, Young Lady hanya dengan orang tua. 

Tak banyak orang, tak usah berteriak mengungkapkan slogan-slogan organisasi. Cukup bagikan makanan dan melihat senyum menebar di wajah orang-orang terpinggirkan itu. Jika para mahasiswa yang suka berdemo itu datang dengan jas almamater mereka, menunjukkan dari mana asal kampus mereka, Young Lady cantik turun ke jalan dengan pakaian dan perlengkapan lainnya yang sangat biasa. Malah sering pakai piyama dan sandal saja saat berbagi. 

Tidak pernah menunjukkan siapa, dari mana, dan asal universitas. Orang-orang terpinggirkan, anak piatu dengan adik-adiknya yang banyak itu, tak perlu tahu siapa gadis cantik bermata biru yang setiap Jumat membagikan makanan untuk mereka. Bila kebanyakan mahasiswa lebih memilih berkelompok atau bersama organisasinya saat berbagi dan melakukan kegiatan sosial, Young Lady lebih suka berkegiatan sosial sendiri. Sebab tak ada gunanya mengajak teman-teman sekelas dan sejurusan di kampus. Mereka beda prinsip.

Young Lady bukanlah Ketua BEM seperti Zaadit Takwa. Hanya gadis cantik salah satu penyanyi di paduan suara, hanya gadis cantik yang mencoba menulis dan bermain piano dengan cantik, hanya gadis cantik yang mencoba konsisten berbagi, mendalami ajaran Tuhan, dan belajar mengasihi. Belajar mengasihi lewat hal-hal kecil yang dibagikan.

Lama Young Lady merefleksikan hal ini. Berpikir, andai saja semua dosen dan mahasiswa dapat melihat senyuman mereka. Senyum orang-orang kecil dan terpinggirkan yang menerima uluran tangan. Pasti mereka takkan berpikir dua kali untuk melakukan hal yang sama. Pasti mereka takkan berpikir dua kali untuk berhenti mempersulit gerak seseorang yang senang melakukannya. Andai saja semua dosen dan mahasiswa dapat melihat senyuman mereka. Hati tergerak, tangan pun mengeluarkan sedikit rezeki yang dimiliki. Andai saja mereka dapat melihatnya, andai saja...tergugah hati mereka, dan pikiran mereka tak hanya berkutat pada urusan akademik, penelitian, nilai, jurnal ilmiah, seminar, simposium, Ormawa, dll.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2