Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Psikolove, Akhirnya Ku Menemukanmu (10)

15 Desember 2017   05:50 Diperbarui: 15 Desember 2017   05:58 1124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Iya. Kamu ingat kan? Dia cukup baik. Kalau tertarik, aku akan usaha. Tapi aku tidak janji." ujar Calvin lembut.

Lagi-lagi Silvi menggigiti bagian dalam pipinya. Menatap Calvin sendu, wajahnya sedikit tertunduk. Terkadang, sekali saja, sebentar saja, Silvi ingin memikirkan dirinya sendiri. Memperhatikan dirinya sendiri sebelum memperhatikan orang lain. Terdengar jahat dan egois sekali, namun Silvi ingin merasakan manisnya dicintai seperti gadis-gadis normal lainnya.

Kesedihan menyeruak tanpa permisi. Sedih yang tak terkatakan. Calvin tidak pernah mendengar suara hati Silvi. Selalu ada nama Calvin dalam rindu yang mencabik jiwa. Sungguh, Calvin tak pernah tahu betapa jiwa Silvi berteriak menegaskan perasaan cintanya pada Calvin. Calvin Wan, si penyembuh luka hati. Kini hati Silvi justru jatuh padanya. Sayang sekali, Calvin tidak pernah tahu. Atau tidak mau tahu.

"Aku tertarik, Calvin. Silakan saja berusaha. Aku tak butuh janji."

Pedih hati Silvi saat mengatakannya. Mana mungkin ia mengatakan yang sesungguhnya? Ia sama sekali tak tertarik pada pria pilihan Calvin itu. Satu-satunya pria yang benar-benar dekat dan mau mengerti dirinya hanyalah Calvin. Calvinlah pria yang dekat secara emosional dan sesuai rasnya dengan hati Silvi. Pria tampan dan konsisten yang mau direpotkan untuk menolongnya, mau menyesuaikan pola komunikasi dengannya via surat elektronik, dan mau berusaha memahaminya. Sayang sekali, Calvin sepertinya tak sejalan dengan isi hati Silvi.

Silvi yang cantik dan kesepian, akan tetap kesepian dan tak pernah dicintai sebagai wanita untuk pria. Sampai kapan pun, Calvin takkan pernah mengerti. Calvin terlalu sibuk dengan Clara, Aurora, dan usahanya untuk menyatukan Silvi dengan pria lain. Sudah jelas, Silvi tak pantas untuk Calvin. Mungkin saja Calvin terlalu sempurna dan terlalu baik untuk Silvi. Wajar bila pria oriental itu mencintai wanita yang jauh lebih baik. Pastinya, wanita itu bukan Silvi Mauriska. Gloomy.

**     

Paris van Java, 15 Desember 2017

Tulisan cantik dari keresahan hati Young Lady.

**      

https://www.youtube.com/watch?v=99AGTFIkJWE

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun