Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Diary Calisa

13 Agustus 2017   05:51 Diperbarui: 13 Agustus 2017   06:41 199 18 9

Buku berwarna soft pink dan bergambar hati itu dibukanya lagi. Ia bersiap menuliskan semuanya. Kembali mencurahkan isi hatinya di sana. Tangan Nyonya Calisa bergetar hebat saat membuka-buka halaman buku. Tak mudah mencurahkan semuanya dalam kata-kata. Terlalu sakit, terlalu pedih untuk dituliskan kembali. Namun ia harus melakukannya. Dari pada harus memendamnya. Memendam perasaan justru menimbulkan bibit penyakit di dalam tubuh dan jiwa.

Wanita blasteran Sunda-Belanda itu membaca ulang isi diarynya. Dua setengah tahun berlalu sejak semuanya bermula. Sejak Syarif diam-diam memata-matai Clara, Tuan Calvin kembali terserang Hepatocellular Carcinoma, dan Nyonya Lola kembali ke Indonesia. Dua setengah tahun pula Nyonya Calisa tak menyentuh diarynya lagi.

Ia selalu menangis dan membenci dirinya sendiri tiap kali menyentuh diary itu. Apa yang salah? Entahlah, ia hanya terlalu membenci diri dan kenangan-kenangannya di masa lalu.

**    

Friday, 22 July

"Bangun, Sayang. Sudah Subuh. Ayo shalat. Tidurnya pulas sekali ya? Gara-gara kamu kelelahan setelah banyak kegiatan ya?"

Pagi ini, kudengar sapaan halus Mama diikuti belaian hangatnya. Mama membangunkanku dengan cara yang sangat halus. Begitulah yang sering terjadi.

Jika kita ingin membujuk, mempengaruhi, atau meminta seseorang melakukan sesuatu, lakukan dengan lembut. Aku pun begitu. Berusaha memperlakukan siapa saja dengan kelembutan dan kehalusan sikap. Bahkan pada orang yang tidak kusukai sekali pun.

Sayangnya, kelembutanku kerap kali disalahgunakan. Beberapa teman memanfaatkanku. Menyalahgunakan kepercayaanku, lalu meninggalkanku. Mereka panggil aku "Princess" dan "Peri Kecil". Mungkin mereka menganggapku manusia setengah malaikat. Yang terlalu lembut dan sabar, yang tak pernah marah. Jangan salah. Aku pun pernah marah. Pernah dan bahkan sering tidak sependapat dengan mereka. Namun aku lebih memilih diam. Menurutku, diam jauh lebih baik.

You know, diary?

**      

Sunday, 24 July

Mama dan Papa tersenyum puas. Aku cum laude lagi, as usual. Dan mereka bangga. Sebaliknya, perasaanku biasa-biasa saja. Bukan bermaksud sombong atau meremehkan nilai. Tapi bagiku, IP tinggi yang mencapai cum laude bukanlah hal yang membanggakan. Tiap semester selalu begitu: cum laude. Sampai-sampai aku bosan dan malas mengingatnya.

Aneh juga, diary. Kenapa aku bisa cum laude ya? Rasanya aku tidak seserius teman-teman lainnya. Kehadiranku di kelas pun tidak full. Kata orang terlalu banyak aktivitas, terlalu senang kegiatan non akademis. Aku hampir tak pernah belajar. Kecuali bila menginginkannya dan ada mood. Penjelasan dosen tak pernah kucatat. Cukup kudengarkan saja. Merekamnya pun tidak pernah. Tapi aku mengerti materi yang mereka bahas. Entahlah, kemampuan intelegensi tiap orang berbeda-beda.

Diary, aku tetap bersyukur. Setidaknya aku cukup beruntung. Aku masih diberi kesempatan untuk memperoleh nilai tinggi. Tak perlu mengeluh tentang beratnya materi perkuliahan seperti teman-temanku yang lain. Bisa membantu mereka dengan ilmu yang kumiliki. Itu sudah lebih dari cukup.

**     

Monday, 25 July

Happy birthday Papa. Ya diary, hari ini Papaku ulang tahun. Kebiasaan di keluarga kami, ulang tahun tiap anggota keluarga selalu dirayakan. Tapi diaryku sayang, sesungguhnya ada makna yang jauh lebih dalam dari seremonialnya saja: rasa syukur. Syukur karena bertambahnya usia. Usia seseorang bertambah, tapi jatah hidupnya di dunia ini berkurang. Selama kita masih punya sisa waktu hidup di dunia, gunakan dengan baik. Jadikan diri kita bermanfaat untuk orang lain.

Sabda Rasulullah menggugah perasaanku. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Aku ingin seperti itu. Ingin berbagi dan memberi manfaat pada banyak orang.

**      

Saturday, 12 August

Diary, aku mulai resah. Sebentar lagi semester baru dimulai. Aku takut kembali ke rutinitas perkuliahan. Bukan apa-apa, aku tak suka berada dekat-dekat dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Semua teman sekelasku sama saja: egois. Mereka hanya dekat bila ada butuhnya. Kelihatan sekali individualisnya.

Mata batinku bergerak perlahan menembus relung jiwa. Sudah kubaca karakter mereka satu per satu. Mereka bukan orang baik. Tak bisa dipercaya. Egois, apatis, dan individualis. Diary, maaf ya aku to the point.

Belum lagi, aku masih mengingat hal-hal tidak menyenangkan dari mereka. Walaupun tidak pernah merasakannya secara langsung, tapi mereka senang sekali membully orang lain. Menjatuhkan yang lemah dan menyingkirkan orang yang tidak sejalan dengan mereka. Aku tahu, mereka tidak berani cari gara-gara denganku karena takut tidak dibantu lagi dalam urusan relasi dengan lawan jenis, akademik, dan hypnotherapy. Syukurlah ada power dalam diriku yang membuatku terlindungi dari kasus bullying.

Satu lagi yang kutakutkan: melihat sepasang kekasih bermesraan di dalam kelas. Diary, kamu tahu kan? Beberapa teman sekelasku mengalami cinta lokasi. Lalu mereka menjalin relasi yang disebut pacaran. Mereka tak segan memperlihatkan kemesraan di depan kelas dan dosen. Bayangkan diary, di depan dosen. Sampai-sampai para dosen mengkritik mereka. Tapi mereka tak peduli.

Aku tidak tahu dan tidak mau tahu bagaimana rasanya punya kekasih dan menjalani hubungan semacam itu. Syukurlah selama ini aku tak pernah terlibat hubungan spesial dengan pemuda-pemuda seusiaku. Toh aku tak suka berelasi dengan mereka yang seumuran denganku. Childish, dan tidak ada yang memenuhi kriteriaku.

Terserah apa penilaian orang terhadapku. Dinda Calisa memang perfeksionis. Dan dia takkan peduli pada perkataan orang lain terhadap dirinya, kecuali orang-orang yang paling dekat dengannya.

Itulah yang kutakutkan, diary. Sayangnya, waktu cepat sekali berlalu. Aku ingin segera lulus dan lanjut S2. Seperti program yang telah direncanakan dan disepakati oleh Mama-Papaku. Dengan begitu, aku takkan bertemu teman-teman sejurusan yang beda prinsip dan egois itu.

Well, aku rindu sahabat-sahabatku. Aku rindu grup musikku. Sayangnya, kami semua berbeda universitas. Sulit sekali bagi kami untuk bertemu lagi.

**    

Thursday, 8 October

Sudah lama aku tidak menyentuhmu, diarry. Sorry...akhir-akhir ini aku sibuk sekali. Tapi meski sibuk, aku selalu mengusahakan tetap one day one article di media citizen journalism tempatku bergabung. Aku termotivasi oleh Calvin. Dia saja bisa, kenapa aku tidak? Dan karena Calvin, aku mau kembali lagi ke media jurnalisme warga itu.

Diary, sampai sekarang aku belum bisa melupakan cintaku. He's my true love, but...

Yah, kamu tahu sendirilah. Tak terlukiskan bagaimana hancur hatiku setelah kejadian ini. Seperti kata Rossa dalam lagunya, dengan cinta yang tak termiliki.

Ironis ya, diary. Aku bisa mengajari klien-klien hypnotherapyku untuk mengelola perasaan dan bertahan dari kesedihan. Tapi aku sendiri masih bertahan pada perasaan yang sama: mencintai seseorang yang takkan mungkin termiliki. Terkadang kita bisa bijak untuk orang lain, tapi sulit untuk bijak pada diri sendiri.

Calvin membantuku bertahan. Dia pria hebat menurutku. Konsisten, sabar, dan setia. Sedikit sekali orang yang mau konsisten di zaman sekarang ini. Lama kuanalisis, aku yakin jika Calvin mampu menghargai proses. Salah satu hal yang kusukai dalam diri Calvin adalah konsistensinya. So, aku termotivasi untuk konsisten seperti dia. Kuharap Calvin bisa tetap konsisten dalam apa pun.

**    

Wednesday, 11 December

Diary, ternyata bukan hanya teman-temanku yang suka pamer kemesraan. Saudara-saudaraku pun begitu. Hal paling tidak mengenakkan bagiku malam ini adalah melihat sepupu-sepupuku menelepon kekasihnya. Mereka sering sekali bercerita tentang kekasihnya di depanku. Mengapa tiap kali berkumpul, keluarga besarku selalu membicarakan love and relationship? Seakan tak ada topik lain saja. Aku merasa terasing. Sepertinya, sepi mengurungku di tengah keramaian. Kalau boleh memilih, lebih baik rumahku tetap sunyi seperti hari-hari biasanya. Hanya ada aku, Mama, dan Papa. Begitu lebih baik menurutku. Berkumpul dengan keluarga besar sama sekali bukan hal yang kusukai.

Calvin menenangkanku. Kata dia, semua orang butuh cinta. Bahkan Calvin membesarkan hatiku. "Kamu punya cinta dari orang tua dan saudara-saudaramu". Kata-katanya cukup menenangkan. Namun aku setengah tak percaya. Benarkah mereka mencintaiku? Kalau mereka mencintaiku, mengapa mereka terus menyakitiku dengan membangga-banggakan kekasih mereka? Diary, aku sulit mempercayai orang lain. Sekali pun keluargaku sendiri. Aku lelah mempercayai orang lain, diary. Mungkin mudah bagi Calvin untuk mempercayai orang lain. Hatinya yang lembut dan selalu berpikiran positif itu pastilah tak sulit mempercayai banyak orang. Sedangkan aku? Aku tidak seperti itu. Diary, jika aku jadi mereka, aku takkan menceritakan siapa kekasihku. Biar mereka tahu sendiri.

Aku kesepian, diary. Sesaat tadi Calvin menemaniku. Ia menenangkan hatiku. Tapi tak mungkin bagiku meminta Calvin terus di sisiku. Dia sakit lagi. Demam akibat efek samping kemoterapi dua hari lalu membuatnya harus tidur lebih awal. Apa lagi sepanjang hari tadi aktivitasnya cukup padat. Aku paham, pasti dia kelelahan dan butuh istirahat. Aku selalu mendoakan kesehatan dan kebahagiaan untuk Calvin. Entah dia akan mendoakanku juga atau tidak, tapi aku akan selalu berdoa untuknya.

**    

Membaca potongan masa lalu itu membuatnya sedih. Cepat-cepat Nyonya Calisa menutup kembali buku diarynya. Tepat ketika pintu balkon bergeser terbuka. Tuan Calvin mendekat. Wangi Hugo Boss menyertai kehadirannya.

"Calisa, are you ok?" Ia bertanya lembut. Duduk di samping Nyonya Calisa, memeluknya erat.

"I'm ok..." lirih Nyonya Calisa tanpa memandang mata Tuan Calvin.

Pria berwajah tampan itu mengulurkan tangan. Lembut menghapus air mata istrinya. Merengkuhnya ke dalam pelukan hangat.

"Kamu butuh pelukan dan belaian lembut. Apa yang membuatmu menangis, Sayang?"

Sebagai jawaban, Nyonya Calisa menunjukkan buku hariannya. Tuan Calvin menatap covernya sekilas.

"Itu diarymu. Boleh kubaca?"

"Tidak. Maaf Calvin, itu..."

"Privasi? Aku mengerti, Calisa."

Tuan Calvin tak memaksa. Ia menghargai privasi istrinya.

"Diary itu membuatmu sedih. Mungkin saat ini kamu belum siap bercerita padaku. Tapi kapan pun kamu siap, aku akan selalu ada untuk mendengarkanmu. Sekarang waktuku lebih banyak untukmu dan Clara."

"Thanks, Calvin. Iya, waktumu jauh lebih banyak untuk kami berdua. Sejak kamu memutuskan dengan berani untuk resign dari kantor."

Sejak Februari lalu, Tuan Calvin resign dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia mengundurkan diri dengan berani. Bagaimana tidak, posisi business development manager ditinggalkannya. Kini Tuan Calvin fokus sebagai trader dan freelancer. Independent worker nampaknya menjadi pilihan terbaik baginya saat ini.

"Kamu sangat berani, Calvin. Mengubah jalan hidup dan berhenti dari pekerjaan yang telah membuatmu mendapat karier cemerlang tidaklah mudah. Banyak orang berpikir ratusan kali untuk resign." puji Nyonya Calisa tulus.

"Calisa, jangan samakan aku dengan orang lain. Mereka tidak mau resign karena memikirkan dirinya sendiri. Sedangkan aku? Aku punya anak yang jauh lebih membutuhkan waktu, perhatian, dan kasih sayang. Aku memikirkan masa depan Clara dan kesehatan psikologisnya. So, aku ingin selalu berada di dekatnya. Dengan pekerjaanku sekarang, aku bisa memberikan waktu lebih banyak untuk Clara. Untuk kamu juga." Tuan Calvin menjelaskan dengan lembut dan sabar.

"Iya, Calvin. Aku suka keberanian dan keputusanmu. Kamu tak pernah memikirkan dirimu sendiri. Dengan begini, kita punya banyak waktu untuk bersama."

Keduanya kembali berpelukan. Lebih erat dari sebelumnya. Nyonya Calisa merasa tenang dalam pelukan Tuan Calvin. Hatinya dialiri kehangatan. Beban kesedihannya berkurang perlahan.

"Semalam aku buka profil Linkedin milikmu, Calvin." kata Nyonya Calisa, tetiba teringat sesuatu.

"Lalu?"

"Aku melihat rekomendasi keahlian dari mantan atasanmu. Dia merekomendasikan keahlian leadership. Katanya, kamu punya sifat kepemimpinan yang baik. Dia akan senang jika bisa bekerjasama denganmu lagi. Aku tahu apa artinya itu. Artinya, kamu pergi dari perusahaan itu dengan reputasi yang baik. Kamu punya cerita yang indah dan berkesan tentang perjalanan kariermu di sana. Salut padamu, Calvin. Kamu pergi setelah memberikan kesan berarti pada perusahaan tempatmu bekerja."

"Aku tidak sehebat itu, Calisa. Aku hanya berusaha bekerja dengan baik. Rekomendasi dari mantan atasanku hanyalah bonus. Bekerja bukan untuk mencari pujian atau mendapatkan karier bagus. Melainkan bekerja untuk kebaikan. Tapi terima kasih pujiannya, Sayang." Sejurus kemudian Tuan Calvin mengecup pipi Nyonya Calisa. Sukses membuat pipi wanita jelita itu merona.

Tanpa sadar Nyonya Calisa menyentuh pipinya sendiri. Di tempat dimana tadi Tuan Calvin menciumnya. Ganjil, terdapat noda merah di telapak tangan Nyonya Calisa. Sedetik. Lima detik. Tujuh detik. Sepuluh detik...

"Ya Allah...!" seru Nyonya Calisa tertahan.

Noda merah itu adalah darah. Benar saja. Inilah yang ditakutkannya.

"Calvin...kita ke rumah sakit ya? Ini tidak boleh dibiarkan." pinta Nyonya Calisa.

Tuan Calvin terbatuk. Darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Detik berikutnya ia jatuh pingsan dalam pelukan Nyonya Calisa.

**    

"Hasil dari kemoterapi, radiasi, ablasi, dan proton beam therapy selama ini tidak membawa hasil positif. Sel kanker justru menyebar dengan cepat."

Sudah diduganya. Langkah medis yang diikuti tidak berhasil. Tuan Calvin telah siap dengan kemungkinan terburuk. Mendengar ungkapan internis yang menanganinya bertahun-tahun terakhir, ia sadar seberapa parah kondisinya.

"Satu-satunya jalan adalah transplantasi hati. Operasi pengangkatan bagian hati yang terkena kanker, lalu diganti dengan sel hati dari donor."

Operasi? Wajah pria berdarah keturunan itu semakin pias. Benarkah treatment satu ini harus dilakukannya?

Penjelasan internisnya makin menguatkan kesedihannya. Nyonya Calisa merasakan hal yang sama. Namun ia mencoba kuat di depan Tuan Calvin.

Begitu tim medis meninggalkan ruang rawat, Nyonya Calisa menutup pintu rapat-rapat. Mematikan lampu. Lalu mengenyakkan tubuh di sisi ranjang. Berpelukan erat dengan Tuan Calvin. Seperti inilah yang sering mereka lakukan tiap kali keputusasaan hadir akibat masalah kanker itu. Cukup mereka berdua yang tahu, cukup mereka berdua yang merasakan. Orang lain tak boleh tahu kesedihan mereka.

Tuan Calvin dan Nyonya Calisa berpelukan erat. Nyonya Calisa tak dapat menahan isak tangisnya. Mata Tuan Calvin memerah. Dua titik bening terjatuh dari pelupuknya.

"Apakah ini satu-satunya jalan? Benarkah hanya operasi jalan keluarnya?" tangis Nyonya Calisa.

"Aku tahu apa artinya ini. Harapanku untuk sembuh semakin kecil. Mencari donor hati sangat sulit. Selain tingkat kecocokan, hanya sedikit yang mau mendonorkan hati. Meski sekarang ini donor hidup sudah bisa memberikan hatinya." ujar Tuan Calvin sedih.

Nyonya Calisa mempererat pelukannya. Rasa takut kehilangan semakin kuat.

"Kamu tak boleh menyerah, Calvin. Kita pasti akan menemukan orang yang mau menjadi donor hati. Kamu pasti sembuh. Percayalah."

"Bagaimana bila aku tidak sembuh?"

"Kamu tetap yang terakhir dan satu-satunya pemilik hatiku. Aku takkan menggantikanmu dengan pria mana pun."

Sudah lebih dari cukup. Tuan Calvin sadar sepenuhnya. Kini hati Nyonya Calisa hanya untuknya. Tahun-tahun pernikahan yang mereka jalani selama ini telah membuktikannya. Sebaliknya, cinta dan hati Tuan Calvin hanyalah milik Nyonya Calisa. Sekali pun maut memisahkan mereka.

**     

Bagaimana harus kulupakan semua

Saat hati memanggil namamu

Atau harus kurelakan kenyataan

Kita memang tak sejalan

Namun kau adalah pemilik hatiku (Calvin Jeremy-Pemilik Hatiku).

**      

Calvin Jeremy - Pemilik Hatiku

Instagram