Mohon tunggu...
Lalu AzizAlAzhari
Lalu AzizAlAzhari Mohon Tunggu... Penulis

Dalam hal apapun kita semua masih dalam proses pembelajaran

Selanjutnya

Tutup

Travel

Bukit Propok

19 Februari 2020   00:16 Diperbarui: 27 Februari 2020   10:28 17 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bukit Propok
Foto wisata baru kaki gunung rinjani pasca gempa lombok


Berbicara sedikit tentang sebuah pengalaman disalah satu tempat wisata yang berada di daerah Prov Nusa Tenggara barat khususnya di daerah lombok timur. Sebuah pengalaman hidup yang subjektif, sebuah pengalaman hidup yang sangat ekstrim karena kami diberikan dua pilihan waktu itu antara HIDUP atau MATI. Perjalanan tanpa persiapan yang matang dan kurangnya pengetahuan tenyang trak tersebut.

Awal cerita dumulai ketika salah seorang teman berinisiatif untuk melakukan sebuah perjalanan wisata disalah satu Kab. Lombok timur tepatnya didaerah sembalun, sembalun adalah daerah dataran tinggi dengan suhu rata-rata 16-18 drajat celcius.

Perjalanan kami lakukan dengan bekal dan perlengkapan seadannya, kami membawa bekal dan perlengkapan seadanya karena kami sedah sering bolak balik pergi ke sembalun dan kami berniat camping waktu itu. 

Dengan perlengkapan dan konsumsi yangbpas karena telah diperhitungkan dari sebelumnya, krang lebih 20 menit perjalanan kaminsempatkan mampir disalah satu rumah keluarga disapit yang satu jalur dengan sembalun niat kami kesana adalah untuk bersilaturrahmi dengan keluarga, jarak sembalun dengan sapit jika dinperhitingkan menggunakan waktu kira 10 menit lagi perjalanan kita akan sampai disembalun. Berbincang sebentar dengan keluarga, tentang anak gadisnya yang belim saja dipinang oleh perjaka-perjaka tangguh yang siap membinannya, dan kebetulan yang datang kerumahnya waktu itu adalah para perjaka yanh mencari keberuntungan.

Berbicara panjang lebar kami disuguhkan makanan seadanya oleh sang gadis yang katanya ingin menikah itu, waktupun kami tak pedulikan karena sedangbasyik berbincang ditambah ada gadis yang sangat cantik menjadi pemanis obrolan kami. Kira-kiranpukul 17.00 waktu setempat kami tersadar kami akan melakakan camping di sembalun, tak lupa kami menceritakan tentang hal tersebut kepada tuan rumah namun ia merekomendasikan kami tempat camping yang asyik adalah disalah satu bukit didekat rumahnya yaitu bukit propok dengan ketinggian kurang lebih 2000 mdpl di kaki gunung rinjani.

Tanpa menambah lerlengkapan sepertinsleeping bag, senter sebut saja peralatan untik mendaki gunung, dikarenakan tidak ada penjelasan tentang bukit propok sebelum-sebelumnya, beranjaklah kamindari kediaman keluarga untuk pergi ke bukit propok tanpa peralaran dan pengetahun tentang salah satu surga yang dititipkan tuhan dimuka bumi ini.

Aku cari-cari artikel tentang bukit propok di platform google tapi tak ada orang yang menjelaskan tentang propok, karena kebetulan propok baru dibuka 1 minggu menjadi destinasi wisata oleh pemuda-lemuda setempat.

Sesampainya di bagian admistrasi pun tidak ada penjelasan oleh pihak penjaga, dan hanaya menunjukan jalan yangbtelah ditandai oleh mereka. Berjalan menyusurihutan belantara disinari terangnya cahaya bulan, ketika cahaya sang rembulan redup karena ditutupi oleh rindangnya dedaunanan, kami terpaksa menggunakan smartphone kami sebagai penerang jalan. Langkah demi langkah kami lalui hembusan nafas yang menandakan lelahnya tubuh salah satu teman kami dan harus beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga. 

Hembusan angin menambah dinginnya malam, keringat, emosi bercampur baur menjadi satu menyerang otak untuk mnyuruh kami lebih sabar lagi. Perjalanan kami lanjutan, dipertengahan jalan kami melihat dua pasang kekasih yang sudah lelah dan tak mampu lagi melanjutkan perjalanan, dengan peralatan lengkapnya, masing-masing dipeluk oleh karielnya dari belakang, dengan harapan agar cepat sampe ke tujuan, minuman ditangan kanannya sedangkan cokelat itu ia makan menggunakan tangan kirinya.

Singkat cerita, kami sampai di pncak propok dengan perjalanan yang sulit, dengan rintanagan yang kami berhasil lalui. Kira-kira jam menunjukan pukul 09.00 waktu setempat, kamipin berbagi tugas, ada yang memasak dan sebagian mendirikan tenda. Kebetulan aku ditugaskan untuk memasak. Beberapa menit kemudian tenda kamintelah berdiri kokoh, mie instan dan kopi hitam telah siap disantal oleh perut-perut yang sedang menggerutu kelaparan karena lelahnya mengarungibmalam dipendakian, menilmati malam dibukit propok dengan secangkir kopi yang bertengkar dengan dinginnya malam yang memberikan kami sedikit kehangatan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN