Mohon tunggu...
Eni Kus
Eni Kus Mohon Tunggu... wiraswasta

suka menari bali

Selanjutnya

Tutup

Politik

Radikalisme Asia dan Pemuda Kita

25 April 2019   16:41 Diperbarui: 25 April 2019   16:50 27 0 0 Mohon Tunggu...

 

Hari Minggu lalu adalah Paskah terkelam dalam sejarah dunia Kristiani seluruh dunia. Bagaimana tidak. Pada hari itu terjadi enam ledakan bom bunuh diri di negara Srilanka yang sampai pada Rabu (24/4/2019) telah menewaskan 350 orang dan melukai sedikitnya 500 orang.

Ledakan yang terjadi di enam titik itu; tiga titik gereja dan tiga titik lainnya di hotel mewah, juga melukai puluhan anak-anak yang dibawa orang tuanya beribadah Paskah dan sedang menikmati sarapan pagi di hotel.

Aksi teror itu tidak sekali ini saja terjadi. Beberapa insiden ladakan juga terjadi di Asia dalam setahun terakhir ini. Sekitar 12 april lalu bom meledak di pasar buah dan sayur di kota Quetta Pakistan . Bom itu menewaskan sekitar 16 orang dan 30 lain luka-luka. Saat itu pasar cukup ramai oleh masyarakat yang sedang berjual beli.

Bom itu menyasar korban penduduk yang beragama muslim syiah dan kelompok ISIS mengumumkan bahwa mereka bertanggung jawab atas bom itu tapi pemerintah Pakistan membantah adanya pengaruh ISIS di negara mereka.

Sebelumnya yaitu sekitar Januari tepatnya 27 Januari 2019 bom juga meledak di Gereja Katedral Bunda Maria dari Gunung Karmel , Mindanao, Filipina. Bm tersebut menewaskan sekitar 23 orang dan menyebabkan 100 orang lebih terluka. Dalam waktu tak terlalu lama, anggota milisi Abu Sayyaf menyerahkan diri kepada pemerintah pada awal Februari.

Begitu juga bom juga meledak di gereja dan lokasi wisata Pyramid di Mesir. Dua kejadian itu di waktu berbeda yaitu Desember 2018 dan Januari 2019. Bom yang meledak di gereja Koptik Mesir menewaskan setidaknya satu orang polisi yang sedang berjaga-jaga. Kejadian itu berlangsung dua haris sebelum hari Natal.

Selain di Asia, bom yang terkait dengan agama berlangsung di negara Nigeria. Kali ini berlangsung di kota Mubi Nigeria, Afrika. Saat itu beberapa orang melakukan shalat dhuhur ketika dua bom meledak.

Ledakan pertama terjadi sesaat pelaku bom bunuh diri masuk ke masjid, dan menewaskan empat orang. Setelah orang-orang berlarian keluar masjid, pelaku bom bunuh diri kedua yang berjarak beberapa ratus meter meledakkan bom yang dibawanya dan menewaskan 20 orang. Ledakan diduga terkait dengan kelompok teroris Boko Haram.

Dari berbagai ilustrasi soal peledakan Bom di berbagai negara kita bisa menyimpulkan bahwa faham radikal tidak dimiliki oleh satu bangsa saja terhadap satu golongan tertentu. Sifat radikal bisa dimiliki oleh banyak bangsa terhadap banyak kelompok pula. Tapi memang penyebab yang paling parah adalah karena keyakinan.

Karena itu, kita sebagai bangsa yang tumbuh di kawasan Asia, dimana jalur radikal juga dekat dengan kita yaitu Filipina, Malaysia dan negara kita sendiri, maka sudah selayahnya kita mewaspadainya. Terlebih pengaruh radikalisme masa kini sering teramplifikasi dengan internet dan media sosial yang akrab dengan generasi muda.

Jika kini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengadakan semacam workshop untuk belajar narasi narasi kontra radikalisme maka hal itu adalah sebuah langkah tepat agar generasi muda kita bisa terhindar dari bahaya narasi radikal yang sering terdapat di internet dan media sosial.

VIDEO PILIHAN