Mohon tunggu...
Usman Kusmana
Usman Kusmana Mohon Tunggu... Seorang Lelaki Biasa Dan Pegiat Sosial Politik

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan caci maki. Menulis juga merangkai mozaik sejarah hidup, merekam hikmah dari pendengaran dan penglihatan. Menulis mempengaruhi dan dipengaruhi sudut pandang, selain ketajaman olah fikir dan rasa. Menulis Memberi manfaat, paling tidak untuk mengekspresikan kegalauan hati dan fikir. Menulis membuat mata dan hati senantiasa terjaga, selain itu memaksa jemari untuk terus bergerak lincah. Menari. Segemulainya ide yang terus meliuk dalam setiap tarikan nafas. Menulis, Membuat sejarah. Yang kelak akan dibaca, Oleh siapapun yang nanti masih menikmati hidup. Hingga akhirnya Bumi tak lagi berkenan untuk ditinggali....

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kalau Bisa Mengkritik Dengan Santun, Kenapa Harus Mencaci Maki?

16 Juni 2019   13:56 Diperbarui: 16 Juni 2019   14:36 0 0 0 Mohon Tunggu...

Dalam ajaran agama Islam, dikenal sebuah hadist yang populer di kalangan para pegiat dakwah " man ra'a min kum munkaaran fal yughayyirhu biyadih, fain lam yastati fabilisaanih, fa inlam yastati fabi qalbih wa daalika ad'aaful iimaan" Jika kau melihat keburukan maka rubahlah dengan tanganmu, jika tak mampu maka dengan lisanmu, jika tak mampu maka dengan hatimu, dan (meskipun) itu selemah-lemahnya iman.

Pada hakikatnya amar ma'ruf nahi munkar merupakan bagian dari upaya menegakkan agama dan kemaslahatan di tengah-tengah umat. Secara spesifik amar ma'ruf nahi munkar lebih dititiktekankan dalam mengantisipasi maupun menghilangkan kemunkaran, dengan tujuan utamanya menjauhkan setiap hal negatif di tengah masyarakat tanpa menimbulkan dampak negatif yang lebih besar. Istilahnya mengajak kepada hal yang ma'ruf dengan cara yang ma'ruf, mencegah hal yang munkar juga harus dengan cara yang ma'ruf. Jangan mencegah kemunkaran dengan cara yang munkar dan menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Amar ma'ruf bil ma'ruf wan nahyi anil munkar bil maruf.

Menerapkan amar ma'ruf mungkin mudah dalam batas tertentu tetapi akan sangat sulit apabila sudah terkait dengan konteks bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu orang yang melakukan amar ma'ruf nahi mungkar harus mengerti betul terhadap perkara yang akan ia tindak, agar tidak salah dan keliru dalam bertindak.  Terlebih jika kehidupan sosial kemasyarakatan dan kenegaraan kita sudah diatur oleh peraturan sosial dan hukum positif negara serta ada alat negara yang mengurusnya.

Amar Ma'ruf nahyil munkar dalam menyikapi persoalan kehidupan sosial dan kenegaraan kita umum diwujudkan dalam kata "Kritik". Kritik sejatinya membaca ada sesuatu yang dianggap melenceng, menyimpang dan salah. Atau ada sesuatu yang dianggap lebih baik dan menginginkan hal baik itu yang terjadi dalam persfektif keyakinan dan bacaannya. 

Menyampaikan kritik kurang lebih semangatnya sama dalam aktifitas amar maruf nahyil munkar diatas. Kritik itu hak setiap warga negara terhadap pemimpinnya di setiap tingkatan, yang mengurus persoalan kehidupan masyarakat secara umum. Mulai Presiden beserta jajarannya hingga Tingkat RT sekalipun. 

Masalahnya terletak pada sejauhmana dan bagaimana kita menyampaikan kritik itu. Judul Tulisan diatas saya pinjam dari ungkapan Prof Mahfud MD. bahwa "Kalau kritik bisa disampaikan dengan Santun, kenapa harus mencaci dan memaki". Hari ini kita menyaksikan dengan sangat kentara, beberapa kalangan elit politik maupun tokoh "agama" dan merembes ke rakyat dibawah, melalui fasilitas panggung yang dimilikinya termasuk fasilitas medsos yang berada dalam genggaman tangannya, mengkritik dengan cara-cara yang jauh dari kesantunan dan akhlak. Mereka lebih menunjukan kritik dengan cara memaki dan mencaci, mending kalau yang dikritik itu sesuatu hal yang benar dan faktual. Nah kalau isi kritikannya saja berisi hoax dan fitnah semata maka sangatlah mengerikan.

Akhirnya semangat Kritik itu melenceng dari nilai amar ma'ruf nahyil munkar tadi sebagaimana diajarkan agama itu sendiri. Padahal kita punya aturan dan hukum positif yang mengaturnya. Akhirnya banyak yang berurusan dengan hukum dan harus mendekam di penjara. Lebih jauhnya menimbulkan madharat sosial rusaknya hubungan ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah dan Basyariah.

Kritik dengan santun dan bahasa yang lembut sejatinya diperintah oleh Al-Qur'an. Dalam Al-Qur'an sosok penguasa paling dzalim dan sombong adalah Fir'aun namanya. Siapa yang lebih sombong selain Fir'aun. Kedzalimannya sampai membunuh setiap anak laki-laki yang lahir, supaya tidak ada generasi yang akan mengganggu kekuasaannya, bahkan dia sampai mengaku Tuhan segala. 

Ketika Nabi Musa di utus dan menjadi Nabi Alloh dan berhadapan dengan Fir'aun yang sangat berkuasa, maka perintah Alloh SWT dalam ayatnya berbunyi" Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya ia telah melampai batas.' (QS. 20:24) Berkata Musa: 'Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, (QS. 20:25) dan mudahkanlah untukku urusanku, (QS. 20:26) dan lepaskanlah kekakuan lidahku, (QS. 20:27) supaya mereka mengerti perkataanku, (QS. 20:28) dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (QS. 20:29) (yaitu) Harun saudaraku, (QS. 20:30) teguhkanlah dengan dia kekuatanku, (QS. 20:31) dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, (QS. 20:32) supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, (QS. 20:33) dan banyak mengingat Engkau. (QS. 20:34) Sesungguhnya Engkau adalah Mahamalihat (keadaan) kami.'" (QS. 20:35). (QS.ThaaHaa: 24-35). Lalu dilanjutkan dalam surah Thaha ayat 44: "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut" (QS. Thaha: 44)

Adakah yang lebih Dzhalim dengan kekuasannya selain Firaun? Apakah ada yang mengklaim kita seperti Musa AS?