Mawan Sastra
Mawan Sastra Pelajar

Hanyalah seorang pemuda yang selalu mendaulat dirinya sebagai penulis urakan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Pulangnya Aristoteles Muda

11 November 2017   19:06 Diperbarui: 12 November 2017   19:24 2020 8 2
Cerpen | Pulangnya Aristoteles Muda
ilustrasi (@kulturtava)

Masih melekat dalam pikiran Elika akan sosok Dinal. Laki-laki yang mengidolakan Aristoteles. Anehnya lagi hal-hal yang menyangkut Aristoteles hanya sedikit yang ia ketahui. Yang ia tahu kalau Aristoteles hanyalah seorang filsuf yang berguru pada Plato, dan Plato berguru pada Socrates, mentok sampai di situ.

Pemikiran-pemikiran filsafat dari Aristoteles  satu pun tak pernah terdengar keluar dari mulutnya, yang ada hanyalah klaimnya kalau ia adalah Aristoteles muda. Ia mahasiswa matematika, namun suka sastra mengidolakan seorang filsuf, sedikit aneh bukan?

Malam minggu, satu hari sebelum ia menghilang. Dinal menyempatkan berkunjung kerumah Elika. Elika masih ingat betul kejadian itu, Dinal mengenakan kameja kotak-kotak coklat yang lusuh, dengan rambut ikal acak-acakan menutupi telinganya. Malam itu gerimis, ia berjalan dari indekosnya menuju rumah Elika yang berjarak satu kilometer.

"Lik, kamu mungkin sedikit kaget kedatanganku malam ini. Sebelumnya pun saya tidak menginfokanmu. Saya hanya ingin meyakinkanmu kalau saya memang Aristoteles muda. Jika dalam ajaran Hindu dikenal reinkarnasi, maka akulah Aristoteles. Kalau kau masih ragu  akan kubacakan sebuah puisi karanganku."

Belum pernah Elika mendengar puisi seperti itu. Tidak seromantis puisi Aku Ingin karangan Sapardi Djoko Damono. Namun Elika dengan terpaksa berbohong kalau puisi Dinal  romantis dan ia suka.

"Dalam puisi ini ada tiga hal yang perlu kau tahu, Lik. Yang pertama, mungkin kamu sudah bosan mendengarnya kalau saya adalah Aristoteles muda." Dinal berhenti sejenak menghela nafas panjang, dengan memandangi lekat-lekat wajah Elika nan ayu.

"Yang kedua harus kamu tahu, kalau saya mencintaimu, sungguh! Dan percayalah!"

Dinal diam beberapa detik, tak bosan-bosannya menatap ke Elika. Elika tampak malu-malu, baru kali ini ia ditatap Dinal seaneh itu.

"Terakhir, sampai kapan pun saya tidak ingin menjadi pacarmu. Tapi percayalah saya bisa menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab buatmu," seketika Elika mengernyitkan dahinya.

"Dimatamu ada pesona Cleopatra. Bolehkah saya menyangkutkan anak rambutmu ke telingamu?," tanpa menunggu persetujuan Elika, beberapa helai rambut Elika yang menyentuh pipinya disangkutkan ke pangkal daun telinganya. Elika sangat heran akan perlakuan Dinal malam itu, tidak seperti malam-malam biasanya.

"Kalau besok kita tidak bertemu lagi. Aku ingin kau tidak mencariku. Karena memang saya tidak akan kemana-mana," Elika tidak bisa menahan senyumannya.

Esoknya pun Dinal tak nampak lagi, bak hilang ditelang bumi. Kamar indekosnya tertutup rapat-rapat. Di kampus pun tidak ada kabar. Sebulan, dua bulan bahkan dua tahun kemudian, kabar Dinal tidak terdengar lagi. Elika tidak bisa menutupi perasaan rindunya akan sosok laki-laki aneh itu.

Bagi Elika, Dinal ada sosok aktivis, kritis dan idealis. Ia penganut paham sosialisme garis keras. Banyak kelebihan dari diri Dinal, sayangnya semua itu tidak diakui orang-orang.  Elikalah orang pertama dan terakhir mengakui kehebatan tersembunyi yang ada pada Dinal.

"Lik, kau tahu Sutan Syahrir? Soe Hok Gie? Mereka itu tokoh pemuda yang berhaluan sosialis. Dan aku pun berpihak pada mereka."

"Lik, berpuluh-puluh tahun kita merdeka, kata sejahtera masih jauh dari pengharapan. Aku sangat kecewa, Lik akan hal itu. Bagiku yang terpenting adalah kesejahteraan rakyat."

Paling membuat Elika bingung, kenapa Dinal yang idealis nan kritis tak ingin berorganisasi. Hal tersebut pernah ditanyakan padanya, Dinal menjawab.

"Lik, adakalanya kita sebagai makhluk individualis dan ada saatnya sebagai makhluk sosial, kedua hal tersebut tidak bisa dipungkiri lagi. Namun perlu saya tekankan padamu, takutnya nanti ada dusta di antara kita. Selama ini mungkin kamu tidak tahu alasanku kenapa tidak bergabung satupun organisasi di kampus kita. Alasan yang pertama, mungkin saya memang ditakdirkan untuk tidak ikut organisasi manapun. Buktinya di matematika saya dikucilkan dan dianggap mahasiswa sastra. Dan di sastra, saya dianggap tak berbakat malahan diakui lebih cocok bergabung sama anak filsafat. Lain lagi di filsafat saya malahan sangat diakui sebagai matematika bangat.

Memang begitu cara mereka memperlakukan aku. Di himpunan eksternal kampus pun saya dituduh pengacau, perusuh, malahan dianggap serpihan-serpihan PKI. Alasan yang kedua, saya ingin buat organisasi sendiri. Saya kira kamu sudah mengerti." 

Sedari kecil Dinal memang dianggap sebagai keturunan antek-antek PKI, kakeknya anggota PKI ulung yang selamat dari pembantaian. Hal itulah yang membuat ia dikucilkan di lingkungannya. Bahkan saat  mendaftar SMA dulu, ada lima sekolah yang menolaknya dengan alasan yang sama. Di kampus pun begitu, ia dikucilkan layaknya orang asing. Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang salah dengan dirinya?

"Lik, sebenarnya bukan saya tak suka demo untuk menyuarakan aspirasi, saya diam bukan berarti menerima mentah-mentah semua kebijakan pemerintah. Mungkin kau tidak tahu kalau dalam diriku ada banyak keresahan, ada banyak keinginan, ada banyak unek-unek yang telah lama saya simpan sendiri. Untuk saat ini saya belum bisa, terasa mulut saya dibungkam oleh mereka. Tapi percayalah! Suatu hari nanti Tuhan akan memberikan kesempatan kepada saya untuk berbicara, membela hak-hak rakyat. Melawan pemerintah yang sewenang-wenang menindas rakyat kecil. Melawan mereka para koruptor sang perampok uang rakyat."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3