Mohon tunggu...
Kristianto Naku
Kristianto Naku Mohon Tunggu... Penulis Daring

Saya Kristianto Naku (Penulis Daring dan Blogger). Aktif menulis di blog pribadi, jurnal ilmiah, majalah, surat kabar harian, dan menjadi editor majalah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Alibi Pasar Menentukan Kecantikan Perempuan

22 November 2020   13:02 Diperbarui: 22 November 2020   13:06 7 2 0 Mohon Tunggu...

De facto, kecantikan itu tidak ada. Pasarlah yang menentukan seorang perempuan itu cantik atau tidak. Benar gak? Program diet, yoga, training, dan penurunan berat badan sungguh menampar logika interaksi sosial dewasa ini. Ada kisah-kisah pilu di balik semua usaha ini. Kisah penolakan, kisah pernah dicibir, dicuekin, tak dihargai, kadang datang dari kandasnya usaha masing-masing pribadi untuk menetukan penampilannya di muka umum. Pasar, seakan-akan mengontrol eksistensi seseorang. Jika terlalu gemuk, maka 'tak dilirik. Jika langsing, maka banyak dilirik.

Ukuran penentuan pasar memang sungguh menggantikan penilaian manusiawi ketika mengevaluasi seseorang. Ada perasaan: "Kok, aku terlalu gemuk?" Di industri hiburan dan brand-brand produk tertentu, kalkulasi matematis kecantikan tidak lagi ditakar secara normal. Cantik, tak lagi didefiniksan sekadar kata sifat, tetapi merangkul seluruh, seperti bentuk tubuh, pakaian yang digunakan, dan yang paling aneh adalah soal erotisme. 

Dimulai dari kisah seorang artis Inggris bernama Emma Watson (22) yang berusaha untuk mengakui bentuk tubuhnya selama bertahun-tahun -- melangsingkan tubuh. Kebanyakan perempuan membiarkan diri ditekan oleh harapan memiliki tubuh yang indah melebihi realitas dirinya. 

Dalam sistem kapitalisme, tubuh sesorang identik dengan produk yang ditakar secara visual. Laura Penny seorang Jurnalis Inggris dalam bukunya Meat Market: Female Flesh under Capitalism (2011), berusaha menolak pandangan yang salah tentang tubuh (perempuan).

Dewasa ini, perempuan seperti tidak memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Ini ditandai dengan adanya input yang bergelimang -- tubuhmu tidak oke, tidak ngejamin, karena itu perlu diubah. Perempuan seperti tak mandiri, semuanya diatur oleh pihak dari luar dirinya -- program diet, program senam, personal trainer yang diidealkan oleh tren.

Perempuan sejajar dengan kaum buruh yang selalu menerima aba-aba dari majikannya. Indikasi bahwa kapitalisme diam-diam menjadikan tubuh perempuan sebagai produk ekonomi. Jika perempuan tidak hot, perempuan adalah pribadi yang tidak bernilai. Nilai estetika tampaknya kurang jika tolok ukur yang dipakai hanyalah kecantikan. Ironisnya, hal penyangkalan diri ini sering muncul dalam diri seorang artis.

Mereka sudah cantik, tetapi merasa diri tidak cantik. Muncul pertanyaan, apa sesungguhnya kriteria kecantikan itu? Kecantikan ditakar dengan dua parameter, yakni cantik de facto dan ukuran yang ditentukan oleh pasar. Realitas menunjukkan bahwa perempuan yang overweight dibayar murah dibandingkan dengan mereka yang berbadan ideal.

Tragisnya hal ini tidak berlaku untuk kaum lelaki. Misalkan saja seorang politikus tambun, jelek, kumisnya berantakan, tetapi orang masih menghargainya. Perempuan kendati tidaklah demikian, yang pertama-tama akan dinilai adalah penampilan luarnya. Politik tentunya tidak ada sangkut-pautnya dengan kecatikan sebab politik bukan merupakan panggung kecantikan.

Yang muncul malah sebaliknya di mana partai-partai politik sekarang gemar merekrut artis-artis cantik. Lantaran tidak menganggap remeh mereka, tetapi apakah para artis tersebut memiliki kompetensi di bidang politik atau tidak? Indikasi ini menunjukkan kapitalisme atas tubuh beroperasi melalui cadar politik!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x