Mohon tunggu...
Sri Kristiyani
Sri Kristiyani Mohon Tunggu... Guru - Menulis itu perlu ide dan ide itu perlu dicari dan direnungkan

Panggilan menjadi seorang guru bukannya semakin mudah, tetapi kita akan mampu melewatinya jika kita menggunakan hati kita untuk menjalani panggilan tersebut.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Ranah Kognitif Bloom dalam Pembelajaran Bahasa

18 Oktober 2021   22:40 Diperbarui: 18 Oktober 2021   22:49 181 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Benjamin Samuel Bloom adalah seorang psikolog pendidikan dari Amerika Serikat, yang berkontribusi dalam penyusunan taksonomi tujuan pendidikan. Bloom membagi tujuan pendidikan ke dalam 3 ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dari ketiga ranah tersebut, ranah kognitif yang banyak digunakan dan dikembangkan dalam tujuan pendidikan, bahkan telah direvisi oleh mahasiswa Bloom, yaitu Lorin Anderson. 

Revisi itu begitu jelas pada perubahan jenis kata yang digunakan, dari kata benda menjadi kata kerja dan bagian C5 dan C6. Bloom lama terdiri pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi, sedangkan Bloom revisi menjadi: mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Bloom revisi inilah yang dipakai sampai sekarang dan dijabarkan secara detail dalam kata kerja operasional.

Taksonomi Bloom ranah kognitif membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran, yang dimulai dari tahapan tingkat sederhana sampai tingkat yang kompleks. Dengan demikian, setiap tahapan kognitif Bloom, khususnya yang termasuk low order thinking, yaitu mengetahui dan memahami, tidak bisa diabaikan oleh guru karena hal itu merupakan dasar pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik untuk bisa ke tahapan berikutnya, yaitu tingkatan yang high order thinking, dimulai dari menerapkan sampai mencipta.

Berkaitan dengan low order thinking dan high order thinking, saya agak terhenyak ketika mendengarkan presentasi dari teman satu kelas tentang teori belajar yang dikemukakan oleh Bloom pada bagian kekurangan, yaitu tertulis "Dengan adanya tingkatan perbedaan LOT dan HOT, pengajar cenderung mengabaikan proses berpikir tingkat rendah dan berlomba-lomba mengejar tingkat atas". Mengapa saya terhenyak? Hal itu dikarenakan saya tidak sependapat kalau guru cenderung mengabaikan proses berpikir tingkat rendah dan berlomba-lomba mengejar tingkat atas, salah satunya adalah saya.

Sebagai seorang guru, saya tidak pernah mengabaikan tingkatan mengetahui dan memahami. Saya mengajar Bahasa Indonesia dengan menggunakan kurikulum 2013, yaitu pembelajaran berbasis teks untuk semua level, dari kelas 7 sampai kelas 12. Setiap teks yang dipelajari memiliki karakteristik tersendiri, seperti teks pidato akan berbeda dengan teks tanggapan, teks cerita inspiratif, teks cerpen, teks diskusi, teks eksemplum, dll. 

Sebelum peserta didik menguasai kompetensi dasar yang ditetapkan, dia harus menguasai konsep teks yang dipelajari, seperti pengertian, ciri-ciri, struktur teks, dan aspek kebahasaan. Keempat hal itulah yang merupakan tingkatan LOW, yaitu C1 (mengetahui) dan C2 (memahami) yang tidak bisa diabaikan atau dilewatkan oleh peserta didik meskipun kedua tingkatan itu tidak akan diujikan dalam proses penilaian. 

Tetapi penguasaan konsep terhadap 4 hal tersebut bersifat wajib serta penting untuk dikuasai dengan baik agar peserta didik bisa melangkah pada tahapan berikutnya, yaitu C3 sampai C6 yang merupakan tingkatan HOT. Untuk lebih jelasnya. saya akan memberikan contoh penerapan taksonomi Bloom revisi pada pembelajaran teks diskusi.

Salah satu kompetensi dasar ranah kognitif dalam teks diskusi adalah mengidentifikasi informasi teks diskusi berupa pendapat pro dan kontra dalam teks diskusi yang dibaca atau didengar. Untuk mencapai kompetensi dasar tersebut, Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut.

  • Peserta didik menjelaskan pengertian teks diskusi. (C1)
  • Peserta didik menyebutkan ciri-ciri teks diskusi. (C1)
  • Peserta didik menjelaskan struktur teks diskusi. (C2)
  • Peserta didik menjelaskan aspek kebahasaan teks diskusi. (C2)
  • Peserta didik menemukan 4 informasi berupa pendapat pro dan kontra dalam teks diskusi yang dibaca. (C3)
  • Peserta didik memberikan satu argumentasi untuk setiap pendapat pro dan kontra yang sudah ditemukan dalam teks diskusi yang dibaca secara mandiri. (C5)
  • Peserta didik membandingkan antara argumentasi sendiri dan argumentasi peserta didik lain melalui diskusi kelompok. (C4)  
  • Peserta didik menyususn kembali semua argumen berdasarkan hasil diskusi kelompok dalam bentuk peta konsep secara mandiri. (C6)

Dengan melihat langkah-langkah pembelajaran tersebut, peserta didik harus menguasai konsep poin 1-4 dengan baik terlebih dahulu sebagai dasar dalam menemukan pendapat pro ataupun kontra dalam teks diskusi dengan mudah. Dengan demikian, saya tak ada sama sekali kecenderungan untuk mengabaikan tingkatan C1 dan C2 dalam pembelajaran saya di kelas.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan