Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Si Burung Besi yang Kehilangan Langit, Cerita Karantina di Wisma Atlet Jakarta

10 Agustus 2020   05:45 Diperbarui: 10 Agustus 2020   05:44 1073 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Si Burung Besi yang Kehilangan Langit, Cerita Karantina di Wisma Atlet Jakarta
Situasi T3 Soekarno-Hatta Airport (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis @ Fauji Yamin)

Musim pandemi ini merupakan sebuah kejatuhan besar pada industri penerbangan. Dalam berbulan-bulan bandara benar-benar sepi dan terlihat mencekam.

Seperti yang dirasakan oleh Fauji Yamin yang belum lama ini mengunjungi terminal 3 bandara Soekarno-Hatta Jakarta:

Jika mampu digambarkan, maka kata yang tepat ialah mencekam. Bukan karena khayalan tentang makhluk halus, jin atau genderuwo yang senang punya tempat baru, melainkan di sini, kematian benar-benar sedang terjadi. Kematian ekonomi.

Selain itu, Kompasiana juga mendapatkan artikel populer lain yang hadir kemarin (09/08). Yaitu cerita dari Kompasianer Dion Kassel, pasien Covid-19 yang menjalani karantina di Wisma Atlet, Jakarta. Seperti apa situasi di sana?

Simak selengkapnya dalam 5 daftar konten terpopuler kemarin:

Si Burung Besi yang Kehilangan Langit

Foto: Dokumentasi Pribadi penulis
Foto: Dokumentasi Pribadi penulis
Di tengah pandemi dan resesi saat ini, banyak sektor penyumbang PDB terkena dampak yang sangat luar biasa. Laporan beberapa minggu ini yang mengungkapkan fakta bahwa Indonesia sudah resesi ialah gambaran global di mana industri-industri utama sama-sama mengalami nasib yang tak baik.

Kebijakan pemerintah dipandang sangat penting untuk mengambil langkah-langkah taktis namun praktis agar dapat menyelamatkan berbagai sektor bisnis dari jurang krisis. (Baca Selengkapnya)

Hari Ketiga Karantina di Wisma Atlet: Siapa pun Bisa Menjadi Korban Covid-19

Aktivitas pagi di lantai 16 Wisma Atlet (dok pribadi penulis)
Aktivitas pagi di lantai 16 Wisma Atlet (dok pribadi penulis)
Jujur, saya agak ngeri bersinggungan dengan pasien yang sedang beraktivitas pagi. Tapi untungnya pasien disini punya pemikiran yang sama, sehingga mereka dengan sadar menjaga jarak satu dengan lainnya. Setelah melakukan aktivitas jogging, saya lalu duduk dan beristirahat.

 Virus ini dapat merebut nyawa siapa saja. Tak terkecuali anggota keluarga kita, orang yang kita sayangi, sahabat kita, bahkan orang tua kita.

Jangan lagi ada korban-korban berikutnya. Teman-teman lakukan yang bisa kalian lakukan. Physical dan social distancing harus terus kalian lakukan. (Baca Selengkapnya)

Ubahlah 3 Pola Pikir Ini, Lalu Hidupmu Akan Jadi Lebih Bermakna

Belajar meracik hidup lebih bermakna dengan mengubah pola| Gambar oleh Pexels dari Pixabay
Belajar meracik hidup lebih bermakna dengan mengubah pola| Gambar oleh Pexels dari Pixabay
Penting bagi kita untuk menjadi sosok yang lebih bermakna dalam hidup ini. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan sedikit mengubah pola pikir. Dalam tulisan ini, akan kusajikan 3 pola pikir yang kiranya penting untuk kita ubah. (Baca Selengkapnya)

Bagaimana Individu Mempersiapkan Diri Hadapi Resesi?

ilustrasi resesi global. (sumber: shutterstock.com via kompas.com)
ilustrasi resesi global. (sumber: shutterstock.com via kompas.com)
Investor individu dapat mempersiapkan diri untuk resesi dengan mengurangi risiko dalam portofolio mereka.

Ini dapat dicapai pertama kali dengan mempertahankan portofolio investasi yang terdiversifikasi dan menghindari terlalu banyak konsentrasi di satu aset

Selain itu, individu harya menghindari investasi pada aset yang tidak likuid yaitu aset yang tidak dapat dijual dengan mudah. (Baca Selengkapnya)

Bagaimana Hidup dan Nasib Profesi Politisi di Masa Depan?

KOMPAS>COM/KRISTIAN ERDIANTO
KOMPAS>COM/KRISTIAN ERDIANTO
Politik akan mengalami perubahan yang luar biasa, kalau anda masih bertahan dalam politik tradisional dimana pikiran anda masih terkooptasi dengan kerumunan orang yang mengelukan anda maka bisa dipastikan anda termasuk manusia statis.

Di masa depan setiap orang politik harus menjadi pemimpin, mereka bersikap dan berpikir untuk mencari solusi dalam membangun regulasi bagi kemaslahatan hidup ummat, tidak ada masa lagi politisi berleha dalam tampilan dan sekedar gaya.

Mereka dituntut profesinal dalam tanggung jawabnya dan dituntut berpikir lebih dibanding masyarakat biasa. (Baca Selengkapnya)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x