Mohon tunggu...
Kompas.com
Kompas.com Mohon Tunggu... Kompas.com

Kompas.com merupakan situs berita Indonesia terlengkap menyajikan berita politik, ekonomi, tekno, otomotif dan bola secara berimbang, akurat dan terpercaya.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Mau Apa Kita Setelah 20 Tahun Reformasi?

23 Mei 2018   09:19 Diperbarui: 23 Mei 2018   09:18 1123 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mau Apa Kita Setelah 20 Tahun Reformasi?
Ribuan mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR saat unjuk rasa menuntut Soeharto mundur sebagai Presiden RI, Jakarta, Mei 1998.

DUA hari lalu, sebuah acara talk show di KompasTV menarik perhatian saya untuk menontonnya sampai selesai. Judulnya "Membaca Ulang Reformasi".

Dalam beberapa segmen, Budiman Tanuredjo, sang host, mewawancarai mereka yang menjadi saksi mata langsung peristiwa berhentinya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998, yang menjadi awal era baru di negara ini yang sampai sekarang dinamai "Era Reformasi". Mulai dari wartawan senior Kompas, J Osdar, sampai para aktivis mahasiswa tahun 1998 dan penggagas organisasi massa mahasiswa dan pemuda, semisal Forkot (Forum Kota).

Lama setelah mematikan televisi, saya jadi pengin diam sebentar, lalu mengenang apa yang teringat pada 18-21 Mei 1998 di Gedung Kura-kura kompleks DPR RI Senayan.

Gedung yang dibangun tahun 1965 dan menjadi ikon rumah rakyat, rumah parlemen Indonesia ini pada 18-21 Mei 1998 menjadi saksi bisu ribuan mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut mundurnya Presiden Soeharto.

Demonstrasi itu terjawab dengan pidato mundurnya presiden dalam 32 tahun kepemimpinan yang dinamai Orde Baru pada pagi hari 21 Mei 1998. Tanda sekaligus runtuhnya semua "produk" masa Orde Baru.

Saya dan ratusan wartawan media massa dalam dan luar negeri beruntung menjadi para peliput di tengah-tengah situasi yang semoga tak lagi terulang itu.

Saksi mata, seperti juga dalam acara "Membaca Ulang Reformasi", amat penting untuk membaca ulang sebuah peristiwa yang telah berlalu berpuluh tahun lamanya.

Kami yang akrab dalam penulis biografi terkait sejarah, sering menyebut tuturan para saksi mata sebagai refleksi, yang tentu saja sangat subjektif dari sudut pandang para penutur.

Akan tetapi, catatan-catatan refleksi banyak saksi mata sejarah dapat dikumpulkan utuh sebagai sebuah telaah. Paling tidak, ada sebuah pelajaran bagaimana menyikapi ini di masa selanjutnya.

Seperti pemeo, sejarah pasti berulang. Maka, dengan semangat untuk mencegahnya terulang lagi atau semangat apa yang bisa kita lakukan setelah peristiwa berlalu berpuluh tahun, catatan ini saya buat. Paling tidak, anak saya bisa membaca kelak.

Anggota polisi berjaga setelah kerusuhan meletup di Simpang Grogol, Jakarta, 13 Mei 1998.
Anggota polisi berjaga setelah kerusuhan meletup di Simpang Grogol, Jakarta, 13 Mei 1998.
Majalah D&R di pengujung Orde Baru

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN