Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Filosofi Bucin sebagai Tren Zaman

12 November 2019   17:37 Diperbarui: 12 November 2019   19:41 0 7 2 Mohon Tunggu...
Filosofi Bucin sebagai Tren Zaman
medium.com/@opankarangora

Permainan dalam kosa kata seperti telah menjadi hal yang lumrah dalam memandang pergaulan masa kini. Setiap jaman pasti akan menciptakan suatu narasi yang; "kita "manusia" seperti dituntut untuk menelanjangi diri, di mana apa yang dibutuhkan dalam menjalani hidup seyogianya hanyalah untuk sebuah candaan, tentu agar keinginan kita menjadi kabur, dan tidak memperkeruh perkara-perkara apa yang harus dibutuhkan dalam menjadi manusia termasuk memandang cinta itu sendiri.

Mungkin akan menjadi aneh ketika manusia tidak menyadari sebuah kata "Tren" di abad 21 ini. Memang tidak semua manusia dapat di seragamkan bahwa; mereka "manusia abad ke-21" hidup harus mengikuti trend, namun disini yang harus disadari: "tidak semua orang hidup bersama dengan "Tren".

Seperti yang banyak terlihat sekarang. Tren sendiri bukan berarti hanya isu yang diperbicangkan orang secara berlebihan.

Barang dan bahasa juga termasuk dalam "Tren" di dalamnya yang hangat juga untuk diperbincangkan, yang terkadang tidak disadari tetapi hal tersebut merupakan identitas budaya baru menjadi pijakan manusia untuk menanggapi suatu feonomena diri bersama dengan jamannya.

Namun tentang budaya yang terbangun itu, sebenarnya sudah lama ada, hanya saja tidak disadari dan belum sempat ternamai sebagai simbol itu sendiri.

Perkara menjadi anak muda dan berbudaya, bukan saja ia harus merubah segala sesuatunya sebagai identitas dari jamannya, tetapi juga sebagai titik pijak, dimana akan ada sesuatu yang mengingatkan dari hidup manusia ketika kita membangun budaya "Tren" dalam menjalani hidup ini.

Yang mungikin kini menjadi ingatan kolektif para generasi milenial disana. Tren akan Grup Band dan karya-karyanya di tahun 2010-an kebelakang yang mereka banyak menyinggung kata cinta didalammnya. Waktu itu generasi mereka "milenial" berada didalam gelora anak muda yang mencirikan sebagai "pemain cinta".

Dan, hiburan dari apa yang disebut patah hati, bahagia atas nama cinta, dan kenangan-kenangan pengalaman dari menjalani cinta itu seperti termanifestasikan dari karya-karya berupa lagu dari Grup Band pada masanya.

Saya kira milenial yang patah hati mengenal baik lagu Vagetoz, atau dengan mereka yang menginginkan indah dan bahagianya "cinta" akan terus-menerus mendengarakan lagu dari Grup Band Naff.

Kemudian dengan mereka yang menatap impian, mencoba mengais-ngais karya dari J-Rock dengan music yang menghentak untuk meraih mimpi.

Tidak disadari juga sebagai budaya masa itu oleh milenila bahwa; mereka "milenial" mengikatkan diri pada wadah "fans" dimana Grup Band yang menjadi representasi perasaannya; itulah yang menjadi identitas dalam pergaulannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x