Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Demi Wanita, Apa Salahnya"Prio" Pindah Agama?

8 November 2019   18:42 Diperbarui: 8 November 2019   19:44 0 4 1 Mohon Tunggu...

Seperti yang telah menjadi jejak para manusia yang; "ia membutuhkan sosok wanita didalamnya". Wanita bukan saja indah tetapi seyognyanya seorang anak adalah mereka para laki-laki itu dalam menjadi manusia.

Sampai kapanpun peranannya sebagai laki-laki, mereka akan tetap membutuhkan wanita, dan tentang wanita disana; "ia bisa saja tidak butuh laki-laki". Sebab ia; "wanita" bisa menjadi ibu bagi dirinya sendiri.

"Wanita yang mandiri bukan saja mereka yang sudah mampu untuk hidup sendiri, tetapi mereka kuat, mereka tangguh akan semua beban-beban rasa yang kehidupan tawarkan kepada mereka dalam menjalani hidup ini".

Dan wanita mandiri tersebut hanya akan memandang cinta dari mana; "ia bukan saja menemukan diri bersama kesejatiannya sebagai wanita". Tetapi lebih dari itu; wanita tidak akan pernah mau lagi terjatuh dilubang yang sama ketika mereka pernah merasakan cinta yang dangkal dan kesakitan itu terasa padanya sampai dasar hatinya.

Rinasih mungkin kini menjadi seorang wanita pemikir, padahal wanita adalah seorang perasa pada dasarnya. Namun pembawaannya yang berbeda dari wanita kebanyakan itu, `"ia Rinasih adalah seorang yang lembut" tetapi karena dunia menuntut, ia menjadi wanita yang tangguh di dunia ini, ia juga menjadi wanita yang berbeda dari kebanyakan wanita. Namun perbedaan dari wanita itulah yang menjadi tantangannya, siapkah laki-laki lebih tangguh untuk mencintainya, dan cintanya dapat dipercaya oleh wanita pemikir seperti Rinasih itu?

Sejak kecil ia "Rinasih" ditinggal oleh ibunya menuju surganya. Karena itu dunia menuntutnya untuk menjadi seorang yang mandiri. Tetapi dalam kemandirian wanita selalu terselip tanya bagi laki-laki, apalagi jika wanita itu pernah tersakiti oleh cintanya sendiri.

"Apakah wanita tangguh tidak akan membutuhkan cinta lagi? Tanya seorang laki-laki bernama "Prio" yang tanpa dia mengenal lebih dalam Rinasih, ia tahu banyak tentang Rinasih. Tentu perjumapaannya kala itu; Prio tahu dari temannya bahwa; seorang wanita jika terpentok cinta; ia cenderung skpetik dalam memandang cinta di hari berikutnya.

Kepentok cinta disini berarti; ia pernah tersakiti oleh cinta, tetapi tahu apa Prio tentang cinta; Prio bukan hanya lelaki paling bebal di abad 21, tetapi juga paling bodoh dalam memandang cinta, ia saja pacaran belum pernah!

Tetapi entah mengapa, ruang hidup "Prio" begitu sempit, dia adalah orang introvert, jika dihadapkan pada pergaulan pun bukan memilih, tetapi lebih nyaman dengan lingkungan kecil yang mengerti dia sebagai orang introvert itu sendiri. Prio menyukai ruang yang kecil tetapi dalam pembicaraannya sendiri begitu dasar dan intim. Ia bukan saja cinta pengetahuan tetapi juga cinta pada nilai-nilai hidup yang memang; ia berpikir tidak ada lagi yang manusia kejar selain untuk menjadi makna bagi dirinya sendiri.

Oleh karenannya waktunya dihabiskan bertahun-tahun lamanya untuk menulis, entah apa yang ditulis Prio; menulis seperti terapi, teman, bahkan object yang paling mengerti dia sebagai manusia yang terkadang terasing oleh dunianya sendiri.

Jika ingin dibayangkan hidup Prio sendiri; ah "dia bukanlah orang yang ideal di idamkan para wanita toxic disana". Karena Prio pun bukan orang yang bahagia dengan dirinya sendiri, karena itu tidak mungkin dia digantungkan sebagai pembawa selamat atau juru selamat bagi wanita yang ingin bahagia dalam hidupnya. Tetapi jika prio sebagai dirinya sendiri di inginkan, mungkin kebahagiaan Prio dari aktivitas menulisnya itu dapat dibagikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5