Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Serat Wedhatama Refleksi Menjadi Manusia?

21 Oktober 2019   16:29 Diperbarui: 22 Oktober 2019   21:48 0 5 1 Mohon Tunggu...
Serat Wedhatama Refleksi Menjadi Manusia?
Sumber gambar: dictio.id

Tergerumul pada angan, bukan saja ini akan menjadi tanda tanya  besar: karena akhirnya semua akan tetap menjadi tanya yang terus ditanyakan oleh manusia. Memang seperti yang sudah terlahir sebelumnya, ia "manusia" bukan saja akan merepresentasi dirinya tetapi juga mereperesentasi apa yang menjadi kesenangannya.

Tentang kesenangan; apakah dapat disandingkan dengan kebahagiaan? Sepertinya akan menjadi jelas; benar kesenangan adalah kebahagiaan itu sendiri. Seperti orang-orang yang senang pada kebercandaannya, mengobrol tentang dirinya, dan berbagi kisah-kisah dalam bentuk hal yang dapat membuat orang lain tertawa. Tentu semua hal itu merupakan: " tentang apa yang menjadi kesenangan hidup manusia".

Setitik tanya ini, bukan lagi: mungkinkah mereka "manusia" senang? Apakah mereka benar-benar senang? Adakalanya pemasangan raut wajah manusia dalam menjadi dirinya sendiri terkadang memang menipu, ya: sepertinya semua orang memang terlahir untuk menjadi penipu. Jelas disini yang ditipunya adalah diri mereka sendiri, manusia dapat berucap, dapat berpikir, tetapi mempertanyakan diri sendiri dalam merasa.

Jadi bagaimana dengan kedalaman manusia? Bukan kedalaman pada isi bicaranya, tetapi pada kedalaman "isi" dari setiap rasa-rasanya sendiri. Ini memang akan menjadi sebuah jejak, manusia memang butuh keluar untuk masuk ke dalam, tetapi; yang terkadang menipu itu, manusia sering berada diluar bahkan untuk yang dalam: ia pun hanya didalam, tidak sedikit untuk menuju keluar dirinya sendiri. Sepertinya keterbatasan itu bukan ada pada manusia, tetapi pada keadaan lahir mereka; dimana mereka menemukan manusia ketika menjadi sesuatu yang diinginkannnya termasuk membangun kesenangannya sebagai dirinya.

Bagi manusia, keseimbangan tetap akan menjadi sebuah beban, dan apa yang kurang sebagai manusia? Mereka manusia merasa, yang kurang bukanlah apa yang membuat mereka senang tetapi sesuatu yang membuat mereka merasa kurang sebagai manusia. Saat manusia ekstrovert harus menjadi introvert, begitu juga dengan sebaliknya. Apakah mereka senang jika bukan menjadi dirinya sendiri yang tengah menjadi kekurangan sebagai representasi hidup itu saat nyaman dengan lingkungan kecil dan harus berada dalam lingkungan yang ramai?

Inilah beban hidup, tetapi setiap manusia: tidak senang jika ada yang kurang dari dirinya sendiri. Karena tetap ia menginginkan sesuatu untuk mengutuhkan dirinya dalam kesenangan dan manusia akan terus dalam ketidakpuasan jika mereka harus melihat bagaimana orang lain dalam merepresentasi hidupnya, yang menurutnya lebih senang dari pada dirinya sendiri.

Terkadang dalam diam itu mereka: " manusia" bertanya; bagaimanakah menjadi ramah? Seperti apa menjadi ceria? Dan bagaimana menjadi pencerita yang baik didalam kerumunan banyak manusia? Tentu agar menjadi pribadi yang menyenangkan, tetapi apakah praktis pribadi yang menyenangkan hidupnya itu senang?

Berbagai pertanyaan ini jelas; ditanyakan oleh orang-orang yang kurang kadarnya sebagai orang yang pendiam, sinis, dan cenderung hanya menjadi pendengar, sama sekali bukan pribadi yang menyenangkan ideal menurut pandangan banyak orang. Tetapi; dikala ada di kerumunan kecil: ia sanggup juga menjadi dirinya sendiri sebagai pembicara. Jadi bagaiamana dengan arah penafsiran ini? Apakah memang pribadi yang tidak menyenangkan akan merasa senang saja, atau mungkin hanya orang yang menyenangkan yang merasa senang hidupnya?

Tafsir memang merupakan sebuah pertanyaan, dan manusia itu sendiri seperti bayang-bayang yang selalu membayangkan tentang apa yang kurang, dan dianggap dalam angannya sebagai kesenangan (kebahagiaan). Seperti yang sendiri ditafsir dalam angan menjadi bersama, apakah akan sesuai dengan tafsiran angannya itu: saat bersama menjadi bahagia? Memang adakalanya dipertanyakan, namuan hasrat yang kurang, apalagi akan dianggap sebagai kebahagiaan: ini merupakan tujuan manusia karena " sepertinya tujuan hidup manusia adalah rasa penasarannya sendiri, terhadap apa yang belum pernah ia rasakan didalam hidupnya saat masih sebagai manusia".

Jika dirasa  dalam kenyataannya, bukankah didalam realitas itu tidak pernah akan menjadi abadi? Dimana terkadang keabadian antara relitas dan angan "fiksi" harus disandingkan agar: bukan untuk mencari sesuatu yang abadi melainkan sesuatu yang dapat saling mendistorsi agar manusia terima dengan angan dan realitasnya termasuk; untuk hidup bersanding dengan senang maupun susah, yang harus mereka jalankan sebagai manusia?

Yang memang benar adanya, fiksi atau pengangan-angan lebih indah dari kenyataan itu sendiri, sebab dengan fiksi manusia dapat mendistorsi kenyataan, begitupula kenyataan; hanya dapat dilawan dengan mendistorsi juga menjadi sesuatu yang indah-indah dalam bayangannya atau berfiksi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3