Toto Priyono
Toto Priyono Teknisi

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Cinta dan Sisi Paradoksnya

15 Mei 2019   19:30 Diperbarui: 19 Mei 2019   23:51 60 0 0
Cinta dan Sisi Paradoksnya
Gambar diambil dari pixabay.com

"Semestinya aku tak perlu mengkahwatirkan waktu, lagi dan lagi serasa aku masih mempertahankan itu. Ketidakpastian dalam rasa ini membuat cemas, ya menjadi tua memang rumit, mungkin serumit rambutku jikalau ia panjang, keriting dan tidak beraturan".

Lajang memang menggalaukan, sendiri, sepi dan tanpa objek mengantungkan nasib. Serasa hidup ini untuk siapa dan untuk apa, selalu menyisakan tanya, apakah kesedirian itu suatu kutukan? Setiap waktu berkutat dengan diri sendiri, selalu diri sendiri. Ketika aku lihat yang lain, apakah juga tetap pada dalam kegalauan yang sama jika sudah berkeluarga?

Aku rasanya ingin berbicara dengan rumput malam ini, dengan batu-batu. Adakah bidadari datang untuk menyapaku malam ini? Ya rumput mengapa kau hanya diam begitu? Tak mampukah kau berbicara sedikit padaku?Bercerita tentang bagaimana aku dan semua masa depanku? Kau tahu tetap kupegangi kening ini, aku belum mampu memikat yang lain.

Saat ini bicara seakan tak mampu lagi, seperti dirundung gelap gelisah tanpa permisi. Ia menghantui bak romansa yang seharusnya sudah bisa aku rasa malam ini. Mungkin seharusnya harapan itu tiada agar gelisah ini dapat direda. Apakah harapan untuk merajut asa itu akan terputus dirundung rasa kecewa pada dunia ini?

Pikiran ini serasa sudah jauh melayang, meroket setinggi awan ketujuh, jauh tak terlihat sama sekali. Hanya sedikit kabut tipis yang berlatar belakang biru. Sepertinya sudah tak mau aku hisap lagi asap rokok ini, tetapi dialah teman dalam sepi. Selagi masih menyisakan berbagai pertanyaan tidak tahu kapan lagi aku akan berhenti menghisapnya. Pucuk kegalauan yang menyerang ini memang akan terus aku lawan.

Seberapa kuat dia, apakah aku si rapuh itu? Akankah aku menjadi kuat bagai baja diatas kepalaku ini? Burung biarkanlah aku bernyanyi untuk kali ini, memandangi kilau bintang yang indah dan menawan, untuk kusambut hari besok pagi. Bunga menarilah dalam pikiranku, kepala ini terasa sudah berat, ringankan lah dia, seringan sampah yang terbawa angin.

Tetapi siapa yang akan tahu matahari akan bersinar melebihi apa yang kita kira? Senja terkadang tidak meninggalkan jejak yang berdeda, semua sama disetiap senjanya. Hari ini aku ingin semua berbeda, menjemput dan melihat senja secara berbeda. Senja yang manis datanglah dengan harapan-harapanmu, padaku, bersamaku.

Aku rasanya memang tidak bisa mengira apa yang terjadi diesok hari. Bahagia rasanya dimulai dari hari-hari sebelumnya. Tentang apa yang telah kita bangun, semua yang membuat kita kecewa dan melihat orang berbahagia bersama kita, tawa, sedih dan setiap untaian kata semangat. Berbaur ketika ia datang, melebur ketika ia menggoda, pasrah ketika ia meradang.

Memang ada saat kita bertanya pada semua yang sudah terlampaui. Untuk apa dan menjadi apa? Lihatlah orang yang hidup untuk apa dan untuk siapa? Mereka bergairah dengan setiap harapan-harapannya, mereka juga tersenyum pada perjuanganya, karna ketergantungannya, hidup untuk apa dan siapa, untuk cinta yang tak bisa terbeli, juga untuk sesuatu yang tidak bisa disangkal, bagi mereka yang pantas diperjuangkan.

Senja, tawamu tidak usah kau tahan lagi, lepaskan semua itu, beri dia jejakmu, jejak dimana kita terus bersama untuk melakukan sesuatu yang sama, membuat kita bersemangat menjalani semua ini. Biarkanlah mereka yang tak paham kata cinta memperlakukan cinta dengan semaunya sendiri.

Nanti kau akan lihat senja, dimana orang yang tak paham cinta dan tak pernah melakukan sesuatu atas dasar cinta akan ditinggalkan oleh cinta yang lahir dari dirinya sendiri. 

Mereka yang tak paham hanya menunggu waktu, dimana ia terasing, ia menjauh, dan ia tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Ketika pemahaman akan cinta itu salah, ia merupakan keburukan yang indah dan ketika cinta itu benar ia adalah kebaikan yang mempesona.

Saat terpesonannya cinta memanggil perasaanku seakan tertarik magnet yang kuat. Setiap kali aku ingin berbicara padanya, dengannya dengan hatinya. Aku tak tahu mengapa aku bisa begini, aku lihat langit masih terang-terang saja, tiada hujan bahkan mendung, tetapi mengapa aku tetap tertarik pada gravitasi yang sama? tetap tentang aku dan kamu, bercengkrama setiap waktu?

Aku kira jatuh cinta tidak akan begini, setahuku hanya rasa kagum, malu bahkan merasakan getaran dari kejauhan tentang keindahan cinta itu sendiri. Namun kini aku sadar cinta seperti itu bukanlah cinta. Cinta sebenarnya akan membuat kita jatuh hatinya, jika diantara keduanya saling tertarik satu dengan yang lainnya rasanya setiap saat adalah rindu.

Aku menunggu hari itu datang, hari dimana kita bertemu. Disini aku tetap dengan imajinasi-imajinasi itu, membawakan bunga yang cantik untukmu, membuatmu kagum denganku, dan pertemuan berkesan kita. Juga bernyanyi tentang perasaan kita.

Cintaku yang manis, sampai kapankah kau terus hanya membekas dikepalaku saat malam menjelang tidur tiba? Seperti si miskin cinta, aku hanya berpikir dan merasa cinta ini ada, semua ada pada kamu. Sungguh aneh, semua terlihat seperti nyata dalam bayang-bayang ku. Aku ingin imjainasi ini berlalu seperti badai ditengah ombak.

Si kancil menjelma menjadi aku yang sedang bernyanyi malam hari, ia terus menghibur dirinya. Seperti sedang menggelorakan dirinya dengan cinta, tidak lebih dengan dirinya sendiri. Mencoba dan terus mencoba mengimprovisasi pikiranya dengan cinta, kelembutan, bahkan tentang dimana ia akan menjadi kapal bagi para penumpangnya.

Berbahagia, mungkinlah mereka yang pandai merubah setiap gairah menjadi sepucuk rasa bahagia. Meskipun hanyalah rasanya saja namun cukuplah untuk mengisi hari dan sedikit rasa. Tentang anak-anak yang lucu, mirip siapakah dia? Aku atau dirimu? Kurasa sangat indah panggilan ayah bagiku, ibu bagimu!

Aku tunggu hari-hari dimana kita berjuang untuk melindungi kita, keluarga kecil kita, membuat gubuk kecil yang patut ditinggali, tertawa bersama, sedih saling berpelukan. Rasanya indah sekali dunia ini, cinta bisa merubah itu sayang! Aku merindukanmu cinta, aku menunggumu, maukah kau menikah denganku cinta? Membangun dunia dengan cara kita?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3