Mohon tunggu...
David Abdullah
David Abdullah Mohon Tunggu... Lainnya - —

Best in Opinion Kompasiana Awards 2021 | Kata, data, fakta

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Rahim Artifisial, Solusi Kepunahan Peradaban?

9 Februari 2022   13:15 Diperbarui: 10 April 2022   12:41 1722
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Konsep itu amat identik dengan Doktrin Pengulangan Abadi yang ditulis dalam berbagai bentuk sejak masa kuno. Lalu, dijelaskan ulang pada abad ke-19 oleh Heinrich Heine dan Friedrich Nietzsche, yang berbunyi: sejarah berulang dengan sendirinya.

Gejala pengulangan sejarah pun telah menampakkan tajinya ketika negara di seluruh dunia diterjang pandemi Covid-19 yang mana menjadi repetisi pandemi pada masa lalu, seperti Black Death dan Flu Spanyol.

Merujuk data Woldometers, tercatat ada 5,7 juta lebih kasus kematian akibat virus corona. Walaupun tidak sedramatis Black Death, pandemi Covid-19 sudah lebih dari cukup mengakibatkan penyusutan populasi di beberapa negara.  

Ketegangan dan konflik antar-negara yang sewaktu-waktu bisa menjelma jadi peperangan pun dapat memungkinkan keruntuhan peradaban. Setidaknya akan mengurangi populasi sebagai akibat dari krisis dan jatuhnya banyak korban jiwa.

Penurunan populasi ini sejatinya menjadi kabar baik untuk lingkungan karena akan ada sedikit orang yang menghasilkan gas rumah kaca dan polutan lain. Akan tetapi, pada saat yang sama, nasib manusia juga berada dalam ancaman serius.

Sayangnya, saat ini dunia masih belum siap menyikapi penurunan tajam angka kematian. Terlebih, sejumlah peneliti telah memprediksi angka kelahiran akan menurun signifikan pada masa depan.

Sebuah penelitian baru menunjukkan era peningkatan populasi manusia mungkin akan segera berakhir, dengan implikasi besar bagi masyarakat global, ekonomi, dan ekologi.

Tingkat kesuburan global. | BBC.com
Tingkat kesuburan global. | BBC.com

Studi Jurnal The Lancet memperkirakan populasi dunia bisa mencapai sekitar 9,7 miliar pada tahun 2064, naik dari sekitar 7,8 miliar angka saat ini. Sebelum lantas menyusut signifikan menjadi 8,8 miliar pada akhir abad ini.

Studi Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) itu bertentangan dengan perkiraan Divisi Kependudukan dari PBB–yang memprediksikan bahwa populasi pada 2100 akan mencapai 10,9 miliar, dan akan terus meningkat.

Proyeksi penyusutan populasi pada 2100. | BBC.com
Proyeksi penyusutan populasi pada 2100. | BBC.com

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun