Mohon tunggu...
Kiki Ambarizki
Kiki Ambarizki Mohon Tunggu... Mahasiswa - Menyelami kata perkata dalam rincian Sebuah Noktah hingga menemui endingnya. | Pemantik kata dalam sebuah noktah Podcast (Prakata Rasa)

ENFJ-T | Done better than perfect, practice make perfect. |

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Binar Mata Papua

21 November 2022   02:41 Diperbarui: 21 November 2022   06:38 89
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Papua....
Sebagian jiwa yang dianggap berbeda
Padahal kita semua sama
Tanah luas hartanya terkuras sudah
Kekayaan melimpah ruah, kini tinggal ampasnya saja
Rakyatnya susah harga kebutuhan pokok menjajah
Anak-anak kecil berjalan tanpa alas kaki untuk melangkah
Ingin tetap berpendidikanpun rasanya susah
Lari kesana lari kesini dengan topangan tubuhnya
Berpakaian seadanya
Namun tetap dijalaninya
Tetap berjalan diatas kakinya dengan bermodal barter untuk tetap bernyawa
Mereka kaya akan segala halnya
Tapi serba susah sebab dirampas segala haknya
Mamak, bapak dengan suka rela menjamah tangan, berbagi bersama sekelilingnya
Tetap ramah terhadap sesama
Walau selalu diliputi sulit dan kesederhanaan dalam hidupnya
Senyum merona, gigi berderet dengan senyum penuh irama
Mata berbinar bak lautan syurga
Lihatlah mereka, betapa kita terlepas pandang terhadapnya.

Tanah yang sebenarnya subur, semakin gersang oleh sebab ulah manusia.

Bumi, 21 November 2022

Kiki Ambarizki

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun