Mohon tunggu...
kibal
kibal Mohon Tunggu... Petani

Catatan dari Desa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Karantina, dari Kecemasan, Penyesalan, dan Bayang Kematian

7 Mei 2020   05:12 Diperbarui: 8 Mei 2020   01:09 585 16 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Karantina, dari Kecemasan, Penyesalan, dan Bayang Kematian
ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Dan akhirnya saya telah sampai, bahkan melewati beberapa hal yang saya anggap keputusan-keputusan ini, tapi tidak untuk mengamankan diri. 

Kuputuskan untuk pulang setelah melewati pertimbangan yang cukup panjang dan ternyata tidak matang, membawa kecemasan untuk diri sendiri, dan "mungkin" membuat risih orang-orang sekitarku -- tentu terkecuali ibu dan bapak.

Saya  tiba dengan rasa cemas yang menggunung, padahal beberapa belas jam sebelumnya kecemasan ini masih mampu kubungkus rapat-rapat dengan perencanaan-perencanaan yang telah kubuat sebelum berangkat, semisal otak yang harus kupastikan tetap aktif mengawasi kalau-kalau tanganku bergerak baik itu disengaja maupun refleks. 

Juga bagaimana mensiasati aktivitas-aktivitas seperti ke kamar mandi, bagaimana nantinya jika hendak berjemur yang katanya baik untuk daya tahan tubuh, makan dan cuci piring sendiri hingga menentukan cara tidur yang akan selalu kubarengi dengan niatan meminimalisir resiko. 

Di luar dari hal-hal seperti itu, kupastikan akan lebih banyak diam. Tak lupa kuingatkan pada diri sendiri agar berpikiran yang sewajarnya saja.

Sekonyong-konyong bangunan perencanaan itu runtuh setiba dirumah saat terpaksa harus menahan diri mencium tangan bapak dan mencium kening ibu sebagai legitimasi bahwa lanangnya benar-benar telah pulang dimasa peceklik ini. Tiba-tiba saja pikiran akan resiko-resiko tumpah, dan tak terbendung hanya oleh sekedar berpikir positif.

Dan astaga, kabut tebal serasa memenuhi mataku. Berdiri beberapa meter sebagai tanda mengatur jarak, Bapak menghajarku dengan sorot yang tajam seolah Ia mendapati luapan perasaan yang kukepal, sedang Ibu, dengan senyum tersimpul mendekat lalu kutampik dengan mengambil beberapa langkah ke belakang. "Ya Tuhan, saya membahayakan mereka" batinku meringis. Tak ada percakapan.

Sesegera mungkin menuju kamar mandi membersihkan badan dan mencuci baju yang kukenakan sesuai protokol pencegahan.  

Apalagi di batas Desa tadi, pasukan gugus tugas telah menghujaniku -- bukan menyemprot -- cairan disinfektan yang sebenarnya belum jelas apakah itu baik untuk kesehatan. Setelahnya masuk kamar mengamankan diri.

Ya, kamar. Seperti biasa setiap kutinggalkan, akan selalu kujumpai kamar ini dalam keadaan nyaris tanpa debu sebutir pun. Ibulah yang rutin membersihkannya, meskipun di rumah hanya ibu dan bapak, ruangan yang kurang lebih 2x3 meter ini tak pernah luput dari perhatian mereka.

"Wooww dan selamat datang lagi, Bung! wahahaha!" seolah disambut girang oleh kursi, meja baca, kasur, lemari, botol-botol minuman keras yang dijadikan hiasan.

Beberapa buah buku yang tempo hari kutinggalkan, gambar wajah Marx, Ernesto, Pram, Tan dan beberapa tokoh lain, hingga tumpukan kertas revisi skripsi. Tapi saya terlanjur terhuyung.

Sejenak mengingat pesan WhatsApp teman dengan nada "Weh jammoko dulu pulang, baek pi". astaga pulangko, masih hijau di kampung nah". "mu bahayakan orang di kampung kalo pulang ko". Saya menyesal, cemas, sesak kemudian *hening.

#

Saya menyesal, saya mengakui kesalahan, dan tanpa tedeng aling-aling, saya benar-benar berada dalam kepanikan yang luar biasa. Tidak ada cara lain selain mengurung diri di kamar, memang sekilas tampak berlebihan. Namun bagaimana lagi, protokol memvonisku sebagai ODP (orang dalam pantauan), sedang kecemasan menyeretku pada kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Itulah yang memaksaku menjalani hari-hari dengan waktu yang terasa begerak lebih lamban dalam masa karantina, diperparah dengan khawatir yang kian menjadi-jadi.

Banyak terjaga sepanjang malam, dan hanya mengintip matahari di selah papan setiap pagi. Satu hal yang tidak bolehku lewatkan hanyalah pagi, tepat ketika embun tebal jatuh pada bukit atau turun di seng-seng rumah di kampung kecil kami. Itu yang membuatku kadang melankolis.

Hingga kembali kehilangan pijakan dalam menyeimbangkan antara waspada, panik, dengan perasaan bersalah. Bagaimana menyikapinya dengan bijak jika kau sudah mulai berfikir bahwa wabah itu ada di tubuhmu, pertama akan menghabisi Ibu dan Bapakmu, kemudian virus yang lain kau simpan dibelakang rumah dan akan mengancam sampai menghabisi orang se-desamu.

"Huaah", saya pembunuh bahkan lebih menjijikkan dari pelaku bom bunuh diri. Kelak diantara tetangga-tetangga yang selamat, mereka akan mengenangku sebagai penyebab dari kematian orang di desa, menciptakan ketakutan.

Sayalah yang membuat orang-orang di desa lari ke hutan- hutan meninggalkan harta benda dan kebahagian yang mereka bangun selama berpuluh-puluh tahun. Lebih parah dari itu, suatu saat keluarga kami masih menanggung itu dan dicap sebagai pembawa petaka.

"Yaah Tuhan, jikalau hanya kehilangan nafas, jantung yang berhenti bekerja kemudian saya putus nyawa, saya sangat rela". Atau sekiranya kematian adalah kembali kepangkuan-Mu, saya bersedia kembali tanpa Engkau pangku asalkan tidak menjadi bencana bagi orang-orang sekitarku. *sekali lagi hening.

#

Sepertinya saya depresi karena terlampau cemas. Mungkin juga sudah mendekati gangguan kejiwaan. Tapi itu,... bagaimana jadinya jika hanya teledor lantas berbuah petaka bagi orang lain.

Saya memang masih bugar secara fisik, gejala-gejala penyakit seperti yang menjadi ukuran pun tak saya rasakan, bahkan saya mampu menghabiskan berbatang-batang rokok dan bergelas-gelas kopi dalam waktu yang terbilang singkat.

Namun sayang, itu belum mampu menjadi jaminan saya tidak terinfeksi, sungguh celaka jika virus ini serupa bom waktu di tubuhku dan hanya menunggu durasi untuk meledak.

Atau apapun itu, saya yang pecundang ini bakal menciptakan kengerian pada orang-orang sekitarku. "Hei!, ingat, yang kau bahayakan itu adalah para bapak tani yang rela sejak subuh hingga petang bertelanjang kaki di ladang, bergelut dengan tanah demi harapan taraf hidup yang lebih layak dalam masa serba merosot ini.

Ibu-ibu tani yang bermandi peluh di bawah terik, tulus hati tangan layunya tercabik-cabik duri di kebun demi memastikan tungku tetap berasap.

Juga anak-anak mereka, yang selalu riuh menyambut Ibu-bapak tani di rumah, memeragakan jenis permainan yang dimainkan pada siang hari, sembari tetap menyimpan angan-angannya menyantap ayam goreng tepung, seperti yang pernah ia lihat di Tv. Semua itu sekelap mata sirna hanya karena kau yang serampangan".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x