Mohon tunggu...
Ang Tek Khun
Ang Tek Khun Mohon Tunggu... Freelancer

Alumni Psikologi (Ubaya), gemar pada narasi & visual storytelling, hanya menulis hal-hal yang menggerakkan hati & menggairahkan pikiran, dituturkan populer dari sudut psikologis, tentang hidup keseharian. #jogja #genpi #localguides 9 • Street View Trusted Photographer • editor • Social Media Platform & Content Strategist • Pemangku hashtag #ceritakhun #khunjungan #khunliner #writingkhun • Menulis di Instagram @angtekkhun1 • Mencuit di Twitter @angtekkhun & @ceritakhun • Nyetatus di FB angtekkhun

Selanjutnya

Tutup

Atletik Pilihan

Pheidippides, Battle of Marathon, dan Mandiri Jogja Marathon

21 Mei 2019   23:44 Diperbarui: 21 Mei 2019   23:59 0 1 2 Mohon Tunggu...
Pheidippides, Battle of Marathon, dan Mandiri Jogja Marathon
Foto: Kompas.com

Langit Athena tampaknya tak akan pernah menjadi biru lagi. Kegagahan Datis dan Artaphernes dalam memimpin pasukan, tak perlu diragukan. Jika seorang Thanos mampu menggelegak para Avenger, maka duet Datis dan Artaphernes sungguh tak terbayangkan. Keduanya dan seluruh pasukan, kian membara disulut oleh ambisi besar Raja Darius I untuk menguasai Athena.

Sejarah memberinya nama "Battle of Marathon". Pertempuran di Teluk Marathon ini membara pada 490 SM, menandai invasi pertama Persia menggasak Yunani. Serbuan pasukan Persia dalam komando Datis dan Artaphernes, siap mengganyang warga Athena, sekalipun dibantu sepasukan kecil tentara Plataia. Gabungan kedua pasukan ini, bergerak menyongsong Marathon, menutup dua jalur keluar dari dataran tersebut. Kebuntuan memuncak selama lima hari, sebelum Athena memutuskan untuk menyerang Persia.

Jumlah prajurit tak selalu menjadi garansi bagi terbitnya fajar kemenangan. Sekalipun kalah jumlah, pasukan Athena jauh lebih efektif melawan infanteri Persia yang kurang terlindungi. Athena berhasil menghancurkan sayap barisan Persia, sebelum mengobrak-abrik bagian tengah dan kemudian mencatatkan kemenangan.

Di antara pekik kemenangan dan jatuhnya korban pertempuran, melesatlah seorang pembawa pesan bernama Pheidippides. Tujuannya jelas: Yunani! Pesannya jernih: Musuh ditaklukkan. Misi ini, diselesaikan Pheidippides dengan baik. Namun, ada yang harus ia korbankan. Nyawanya sendiri, akibat kelelahan yang tak kuat ditanggung tubuhnya.

Pesona Pheidippides

Pheidippides bukanlah pelari "Kelas Teri". Sebagai pembawa pesan, ia telah sering berlari dalam jarak yang sangat jauh. Sebelum melakukan "lari kemenangan" tersebut, Pheidippides telah lulus dalam berlari antara Athena dan Sparta. Dalam catatan sejarawan Yunani bernama Herodotus, Pheidippides menyelesaikan jarak 158 mil (kisaran 254 km) itu dalam waktu satu hari. Ia beristirahat sejenak, lalu kembali berlari dari Sparta menuju Athena. Pergi dan pulang itu, diselesaikan Pheidippides dalam waktu dua setengah hari.

Olimpiade di era modern mengadopsi sejarah tersebut, menjadikan nomor atletik disebut dengan Marathon. Pada penyelenggaraan pertama di tahun 1896, jarak yang ditempuh sekitar 40km, dari Marathon menuju Athena. Namun jarak ini tidak konsisten di Olimpiade berikutnya, disebabkan banyaknya rute alternatif antara Marathon-Athena.

Pesona Prambanan

Foto: Kompas.com
Foto: Kompas.com
Sejarah telah mencatat nama Pheidippides dengan guratan emas. Namun, saat duduk dan menuliskan kisah ini serta membayangkan Mandiri Jogja Marathon (MJM) yang telah saya saksikan sendiri, saya menjadi ragu akan ketepatan waktu yang mampu diraih Pheidippides. Penyebabnya, cukup sederhana. Saya menduga Pheidippides tidak akan melewati begitu saja keindahan rute tempuh MJM yang dirancang oleh penyelenggara.

Mandiri Jogja Marathon adalah event yang layak membubung namanya di mata dunia karena dirancang menjadi arena terbaik yang memadukan keeksotisan kawasan Candi Prambanan. Menteri Pariwisata Arief Yahya tak pernah lelah mengemukakan dalam setiap kesempatan bahwa terdapat tiga kualifikasi sukses sebuah destinasi, terutama konteks Indonesia. Pertama, tentu saja faktor keindahkan alam (nature). Kedua, daya pikat budaya (culture). Ketiga, adalah jenis destinasi rancangan, buatan manusia (man made).

Mandiri Jogja Marathon adalah ajang premium, berkelas global. Dalam kacamata pariwisata, ketiga kata kunci ini (nature, cultural, man made), dalam tiga uraian Menpar Arief Yahya, dirangkum menjadi satu. Menjadikan event ini layak dikemas dan diperkenalkan sebagai secara serius dalam kacamata Sport Tourism untuk bergema di mancanegara dan masuk dalam jajaran lomba marathon kelas elite.

Candi Prambanan adalah candi Hindu abad ke-9, ditujukan untuk Trimurti. Dewa Pencipta (Brahma), Dewa Pemelihara (Wisnu), dan Dewa Penghancur (Siwa). Pembangunan candi ini dimulai pada zaman Rakai Pikatan, maharaja Mataram Kuno, pada tahun 856 Masehi (778 Saka). Candi Prambanan dibangun dengan rancangan tiga Halaman yang tersusun secara konsentris--memusat pada pada Halaman Pertama sebagai yang paling sakral. Di Halaman Pertama, terdapat 16 candi. Di Halaman Kedua, ada 224 buah. Sementara itu, di Halaman Ketiga, tidak ditemukan satu pun candi.

Menteri BUMN Rini Soemarno di antara peserta (Foto: Tribunnews via Kompas.com)
Menteri BUMN Rini Soemarno di antara peserta (Foto: Tribunnews via Kompas.com)
Kehebatan yang mungkin tidak terduga oleh banyak orang, kedudukan ketiga dewa tercermin melalui ukuran bangunan candi. Urutannya jelas, Candi Siwa dengan ukuran besar dan tinggi yang mencapai 47,6 m, dengan 4 bilik yang menghadap ke empat penjuru angin. Candi Brahman dan Candi Wisnu, masing-masing hanya memiliki satu bilik.

Candi Prambanan dihiasi relief naratif yang mengisahkan epos Hindu Ramayana dan Krishnayana. Relief Ramayan menggambarkan bagaimana Shinta sang istri Rama, diculik oleh Rahwana. Hanuman, panglima bangsa wanara (kera), datang ke Alengka untuk membantu Rama mencari Shinta.

Di dinding luar bagian bawah, candi dihiasi oleh ceruk yang menyimpan arca singa diapit dua panel yang menggambarkan pohon hayat bernama Kalpataru. Pohon suci ini dalam mitologi Hindu-Buddha dipandang sebagai pohon yang memenuhi harapan dan kebutuhan manusia. Pola singa diapit Kalpataru adalah pola khas yang hanya ditemukan di Prambanan.

Banyak kisah lain yang bisa diulik sepanjang berlembar-lembar. Itulah kekayaan yang tak ternilai dan layak diekpos menjadikan kekayaan pribadi yang menata keluhuran budi kita. Semakin lengkap saat Candi Prambanan menjadi bagian dari situs warisan dunia UNESCO, dan tercatat sebagai Candi Hindu terbesar di Indonesia, bahkan menjadi salah satu candi Hindu terbesar di Asia Tenggara.

Pesona Mandiri Jogja Marathon

Dok Humas Bank Mandirri via Kompas.com
Dok Humas Bank Mandirri via Kompas.com
Mandiri Jogja Marathon (MJM) dirancanf dengan rute yang melintasi 13 desa di Jogja dan 3 destinasi wisata utama, yaitu Candi Prambanan, Candi Plaosan, dan Monumen Taruna. Selama peserta memacu ayun langkahnya, suguhan visual eksotis tak henti-hentinya menghadirkan pemandangan alam, jejak peninggalan sejarah, persawahan yang menyegarkan, serta nuansa pedesaan yang mendatangkan rasa damai.

Lebih dari itu, yang patut diapresiasi, MJM melibatkan masyarakat desa setempat dalam menyuguhkan kesenian lokal dan makanan tradisional. Itu semua tersaji sepanjang rute yang harus ditempuh peserta. Dari sisi layanan untuk para peserta, ajang ini bukan hanya dibuka untuk kelas internasional, melain juga memberi kesempatan luas kepada masyarakat umum dan para newbie marathon melalui variasi kategori. Ada Full Marathon dan Half Marathon, demikian pula dengan kategori 10K dan 5K. Tak ada alasan bagi penggemar marathon untuk gigit jari.

Dengan peserta yang terus bergerak menuju ke angka 10.000 ribu dan partisipasi sekitar 10 negara, MJM telah menjadi bagian dari sport tourism yang menggiurkan. Di tengah melejitnya sektor pariwisata Indonesia yang berhasil menempati posisi kedua penerimaan devisa negara, penyelenggaraan MJM dalam tiga tahun terakhir adalah "bayi" emas yang memanggil untuk dirawat bersama. Dukungan Bank Mandiri telah berada di garda terdepan, support dari peserta melalui partisiasi dan kegembiraan dari masyarakat luas untuk hadir, melengkapinya dengan aura psikologis.

Tidak berlebihan kan kalau lirik lagu "A Thousand Years" Christina Perri menjadi soundtrack para runner:

"Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt, suddenly goes away somehow
"

VIDEO PILIHAN