Mohon tunggu...
Khoiron Katsir
Khoiron Katsir Mohon Tunggu... Wiraswasta

Pembelajar

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Inovasi "Tingwe" dan Mimpi Semu di Balik Naiknya Cukai Rokok

8 Februari 2021   01:00 Diperbarui: 10 Februari 2021   06:04 859 13 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Inovasi "Tingwe" dan Mimpi Semu di Balik Naiknya Cukai Rokok
Ilustrasi rokok tembakau. (sumber: SHUTTERSTOCK/Maren Winter via kompas.com)

Kaum perokok di negeri ini lagi-lagi harus menelan pil pahit setelah pemerintah kembali menaikkan cukai rokok rata-rata 12,5 % per 1 Februari kemarin. Salah satu tujuan kenaikan ini jelas, yakni untuk menekan tingginya angka perokok di Indonesia. Tapi, apakah kenaikan cukai rokok akan membuat kapok para perokok untuk membeli rokok?

Menurut WHO setiap tahun ada sekitar 225.700 orang di Indonesia yang meninggal akibat merokok. Bukan angka yang kecil, bukan?. Secara eksplisit WHO mau bilang bahwa "ini lho tiap tahun ada banyak sekali orang meninggal akibat merokok. Jadi, bagi Anda yang masih rajin ngebul, mbok ya sadar lah, rokok dapat merenggut nyawa Anda".

Apakah perokok takut dengan peringatan semacam itu?, sepertinya tidak. Jangankan WHO, peringatan dari orang terkasih seperti orang tua dan pasangan sekalipun kadang nggak mempan sama sekali.

Bukankah hampir semua elemen sudah turun tangan untuk mengatasi tingginya angka perokok? Mulai dari keluarga perokok sendiri, akademisi, tokoh masyarakat, relawan atau pegiat anti rokok, hingga pemerintah. Namun, nyatanya belum membuahkan hasil yang siginifikan. Yang ada malah bertambah.

Bisa dilihat data misalnya hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) oleh Badan Litbangkes Kemenkes RI, bahwa selama lima tahun terakhir, prevalensi perokok anak Indonesia usia 10-18 tahun terus meningkat. 

Dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% pada tahun 2018. Berarti upaya pemerintah untuk mengurangi angka perokok melalui strategi menaikkan cukainya setiap tahun bisa dibilang gagal.

Berbagai upaya juga sudah dilakukan oleh pemerintah. Misalnya pencantuman gambar dan kalimat menyeramkan di bungkus rokok. Peringatan untuk tidak diperjual-belikan pada wanita hamil dan anak usia dibawah 18 tahun. 

Kalimat "No Smoking" di hampir semua ruang umum, lengkap dengan ancaman denda dan pidana bagi pelanggarnya. Dan sepertinya cara yang dianggap paling efektif adalah dengan menaikkan cukainya.

Setiap tahun cukai rokok dinaikkan. Sepanjang 2013–2020 sudah lima kali pemerintah menaikkan cukai rokok. Bila 2015 naik sebesar 8,72%, 2016 sebesar 11,9%, 2017 sebesar 10,54%, dan 2018 sebesar 10,04%. 

Itu artinya, tahun 2021 ini merupakan era kenaikan cukai rokok terbesar selama kurun waktu delapan tahun terakhir. Tapi, nyatanya tren perokok masih mengalami kenaikan, khususnya usia muda. 

Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan angka prevalensi perokok muda mencapai 7,2%, tahun 2016 naik 8,8%, dan 2018 naik lagi menjadi 9,1%. Padahal, pemerintah menargetkan tren prevalensi perokok muda usia 10-18 tahun sebesar 5,4 persen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x