Mohon tunggu...
Renita Yulistiana
Renita Yulistiana Mohon Tunggu... Literasi

Gerakan Suka Baca -- Yayasan Taman Baca Inovator

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Studi Kasus: Mengapa Covid-19 Terkesan Disepelekan?

27 September 2020   16:33 Diperbarui: 27 September 2020   16:34 54 10 1 Mohon Tunggu...

"Gak kak, saya gak mau. Lagian saya gak kemana mana juga kok, di dalam rumah aja. Saya takut nanti gak kenapa kenapa, dibilang positif lagi kak. Lagian rumah sakitnya jauh"

Itulah jawaban yang saya dapat, ketika mendapat tugas untuk mengajak para staff melakukan Rapid Test. Mereka adalah tiga orang ibu-ibu, di daerah Kabupaten Bekasi. 

Hal ini dilakukan, guna memastikan mereka baik-baik saja. Sebab, pekerjaan kami bersinggungan dengan anak-anak secara langsung. Meskipun, ada pembatasan dan pengetatan protokol kesehatan.

Saya agak setuju sih, kalau Rapid Test kurang efektif. Apalagi harus modal dengan biaya sendiri. Tapi, jika fasilitas itu disediakan. Tidak ada salahnya kita melakukan. Anggap saja menjaga manusia lain di sekitar kita juga. Setidaknya, kita lebih tenang jika sudah mengetahui hasil--bahwa kita tidak terpapar covid-19.

Omong-omong soal ini. Saya jadi penasaran. Lalu, saya iseng, ingin membuat studi kasus sederhana. Sekaligus latihan untuk program dalam pekerjaan saya ke depan, yang mana saya harus mendampingi staff dan anak-anak untuk lebih berpikir kritis. Mengembangkan kemampuan 3C (Critical Thinking - Complexity Problem Solving - Creativity).

Menurut saya, tantangan abad 21 susah sekali. Saya pribadi juga masih harus banyak belajar dan dituntut lebih peka terhadap masalah sekitar. Karena hal ini, saya jadi lebih aktif dari biasanya dan hobi bertanya ke mana-mana. 

Apa saja yang bikin bingung di kepala, saya pasti langsung tanyakan. Soalnya, kadang proses berpikir saya terjadi dari jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan. Tiba-tiba ada ide, tiba-tiba ada konsep, tiba-tiba saya tifus. Yang terakhir ini, jarang kok. Hehe.
***

Baiklah, saya akan coba membuat Studi Kasus dan berandai-andai setelahnya. Mengenai: "Mengapa covid-19 terkesan disepelekan?"

Studi Kasus:
Ibu Rima, Nurul, dan Yana adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka perempuan, berusia 37 tahun. Ketiganya tinggal di RT yang sama dan bertetangga. Desa Lamanajaya, Bekasi, RT 17. Dua minggu yang lalu, salah satu warga di RTnya positif covid-19. Dia adalah seorang buruh pabrik di kawasan Cikarang.

Menurut informasi, warga yang positif covid-19 menggunakan transportasi umum untuk berangkat kerja. Kemungkinan, terpapar dari situ. Sebab, pabrik tempatnya bekerja sudah menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Lalu, pihak RT mengimbau warganya untuk mengisolasi diri di rumah dan segera melakukan tes jika diperlukan selama 14 hari ke depan. Tapi, warga di RT ini tidak patuh. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa tanpa menjalankan protokol kesehatan. Sementara pihak RT hanya bisa mengingatkan tanpa melakukan apa apa.

Berita ini, didengar oleh salah satu komunitas yang fokus di bidang kesehatan, daerah Bekasi yang mayoritas anggotanya adalah mahasiswa. Mereka menawarkan bantuan akses Rapid Test gratis dan sosialisasi covid-19 bagi warga di desa tersebut.

Mari Berandai Andai:
1. Jika saya menjadi pihak RT, apakah saya akan menerima tawaran tersebut?
2. Bagaimana seharusnya langkah pihak RT untuk menangani warga di situasi pandemi seperti ini? Lebih tepatnya mencegah. Walaupun tidak ada bantuan dari komunitas?
***

Mari Berkhayal:

Poin pertama. Jika saya menjadi pihak RT, saya tentu akan menerima tawaran tersebut dengan mencari detail informasi terlebih dahulu. Jika aman dan dapat dipertanggungjawabkan. Seperti latar belakang komunitasnya, mahasiswa semester berapa, bekerja sama dengan pihak mana untuk Rapid Test, dan apa tujuannya melakukan bantuan ini. Apakah ada kepentingan politik, karena mau pilkada? Yang terakhir itu, penting. Hehe.

Poin kedua. Jika saya jadi pihak RT, yang pasti saya akan sosialisasi kepada warga bahwa "COVID-19 ITU BAHAYA". Saya juga sudah menyediakan skema terkait sosialisasinya:


1. Saya akan merekrut 2-3 mahasiswa dari warga saya

2. Setelahnya, saya akan meminta mereka untuk membuat google form yang nantinya bisa diisi data warga dan keperluan wawancara. Para mahasiswa ini juga akan saya minta untuk mengajak waga kampanye di sosial media tentang pencegahan covid-19

3. Lalu, saya akan membuat tim untuk berkunjung ke rumah warga satu per satu setiap sebulan sekali

4. Ketika melakukan kunjungan, saya juga akan membawa selebaran yang berisi informasi terkait covid-19 (stiker protokol kesehatan, informasi umum mengapa covid-19 berbahaya, daftar RS terdekat yang menyediakan Rapid Test beserta harganya dan RS rujukan pasien covid-19)

5. Sekaligus, saya dan tim melakukan wawancara. Seperti, pendataan ulang keluarga, bertanya bagaimana keadaannya, kapan terakhir kali keluar desa, apakah mengalami gejala, dsb.

6. Membuat kesepakatan warga (bagaimana jam aktivitas diberlakukan, bagaimana prosedur jika ada orang dari luar desa berkunjung, dan apa yang bisa kita lakukan jika ada warga positif. Misalnya ada iuran, subsidi silang, dan sebagainya). Selama ini, peraturan banyak dilanggar. Bisa jadi, karena warga tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan

Mungkin, dengan begitu, warga jadi merasa lebih aman karena mendapat informasi yang jelas dari pihak yang mereka percaya, selama ini kan warga bingung harus percaya ke siapa? Selain itu, kedekatan personal antar warga juga bisa semakin berkesinambungan dan merasa memiliki serta mengasihi satu sama lain.

Sekali lagi, ini hanya pengandaian. Bicara covid-19 di penghujung bulan September. Membuat saya skeptis bahkan tidak percaya dengan kebijakan yang dibuat pemerintah. Karena aspek ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan--seperti sudah mengalami "depresi". Sudah terlambat untuk menyelamatkan semua.

Tapi, kita masih bisa bergerak dong. Jika dampak besar sulit dilakukan. Saya rasa, dampak kecil bisa diupayakan.
***

Renita Yulistiana
Calon Walikota Depok 2029

VIDEO PILIHAN