Mohon tunggu...
Kemal Jam
Kemal Jam Mohon Tunggu... Freelancer - Belajar Menulis dan Mengamati sekitar.

Mengamati apa yang nampak, dan menggali apa yang tak nampak. Kontak langsung dengan saya di k3malj4m@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

7 Perubahan Sosial Efek Zonasi, Mencari Equilibrium Baru

2 Juli 2019   15:26 Diperbarui: 2 Juli 2019   19:51 938
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kebijakan zonasi dapat dilihat dari kacamata perubahan sosial. Dalam tulisan sebelumnya, saya membahas pengaruh sistem zonasi terhadap cara pandang seseorang mengenai bermimpi sekolah di sekolah favorit. Zonasi juga akan mengubah perilaku masyarakat dalam memilih dan menyekolahkan anaknya, yang sebelumnya berebut mendapatkan bangku di "Sekolah Favorit" sedikit demi sedikit akan berubah. Karena sesuai pernyataan Mendikbud bahwa "Era sekolah favorit telah usai". Berarti kita akan masuk ke dalam era yang baru.

Baca tulisan sebelumnya: Zonasi, Belokan Tajam Memupuskan Mimpi

Dalam tulisan-tulisan sejarah sebuah era ditandai oleh ciri-ciri, peristiwa atau kebiasaan khusus masyarakat pada masanya. Jika "Era Sekolah Favorit" ditandai dengan perilaku kolektif keinginan masuk dalam sekolah-sekolah favorit, maka bergantinya era tersebut ke "Era Zonasi" akan melahirkan pola pikir dan perilaku yang baru pula.

Mengenai arah perubahan sosial, Talcot Parson seorang sosiolog Amerika, menggagas sebuah teori yang disebut dengan "Sosial Equilibrium" atau diterjemahkan bebas dengan "Keadaan Keseimbangan Sosial". Parson mendalilkan bahwa semua sistem sosial akan cenderung mencari keadaan keadaan keseimbangan, meskipun tidak ada yang akan benar-benar mencapainya secara hakiki.

Sosial Equilibrium adalah keadaan teoritis dimana terjadinya keseimbangan di sebuah sistem sosial, baik keseimbangan internal yaitu interaksi antar anggotanya dan juga keseimbangan dengan lingkungan eksternal yang mempengaruhinya. Saat terjadi sebuah perubahan baik dari internal maupun eksternal, sistem sosial akan cenderung mencari titik keseimbangan baru.

Sistem Pendidikan Indonesia sebagai sebuah sistem sosial sedang terjadi perubahan yang diinisiasi oleh salah satu anggotanya yaitu pemerintah, melalui kebijakan zonasi. Sehingga anggota sistem yang lain seperti sekolah, pekerja pendidikan (guru, dll), pelajar, maupun wali murid mau tidak mau harus menyesuaikan diri.

Secara umum penyesuaian diri itu dapat berbentuk afirmasi seperti dukungan, mengikuti, memandang positif dan lain-lain. Tetapi juga dapat berwujud sebaliknya seperti protes, penolakan, perbedaan gagasan, kritik dan lain-lain. Ini semua wajar karena masing-masing anggota sistem sedang menyesuaikan dengan aturan baru. Bahkan tidak menutup kemungkinan pemerintah sebagai inisiator juga belajar dari respon-respon tersebut, semisal dengan menerima beberapa masukan serta perubahan yang dianggap positif. Sehingga semuanya belajar saling menyesuaikan diri.

Yang menarik berikutnya adalah mencari tahu apa yang terjadi apabila kebijakan zonasi itu secara ajeg (tetap) diterapkan. Kestabilan aturan mengenai PPDB secara alamiah akan menemukan titik equilibrium baru, artinya akan ada nilai-nilai dan pola perilaku baru. Berikut ini potensi-potensi tersebut.

1. Sekolah Swasta Naik Kasta
Pada era Sekolah Favorit kebanyakan orang memandang bahwa sekolah yang baik adalah sekolah favorit negeri, kedua adalah sekolah negeri, baru yang ketiga adalah sekolah swasta. Sehingga bisa dibilang swasta menjadi sekolah kasta ketiga setelah sekolah negeri. Pandangan itu tidak hanya di masyarakat bagi para pengelola sekolah swasta ini sudah disadari, tecermin dari sistem penerimaannya yang sangat menyesuaikan dengan jadwal dan sistim sekolah negeri. Mereka akan terus tetap buka menunggu sekolah negeri selesai selesi penerimaan.

Alhasil, mau diakui atau tidak ada semacam pandangan bahwa sekolah swasta adalah sekolah buangan dari sekolah negeri, karena kecenderungan mereka yang masuk swasta adalah mereka yang terpaksa karena tidak masuk ke sekolah negeri. Meskipun ini tidak semua memandang demikian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun