Mohon tunggu...
MArifin Pelawi
MArifin Pelawi Mohon Tunggu... Mahasiswa S3

PNS yang lagi dibayarin LPDP untuk belajar pendanaan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Peluang Industri Pendidikan Tinggi

10 Mei 2018   15:30 Diperbarui: 10 Mei 2018   18:36 537 0 0 Mohon Tunggu...

Pendidikan adalah industri. Istilah yang selalu berusaha untuk dihindari dan tidak disukai oleh seluruh scholar di bidang pendidikan.

Namun, tidak ada yang bisa membantah bahwa dunia pendidikan melibatkan jumlah uang yang besar, sumber lapangan kerja sekaligus penyedia tenaga kerja dan penggerak ekonomi suatu negara.

Pendidikan tinggi yang bisa dikatakan sebagai industri daripada tingkat pendidikan lain. Kota London mendapatkan sumbangan ekonomi dari pendidikan tinggi sebesar 3.45 milliar pound (hampir 7 Triliun rupiah). Nilai yang sangat fantastis dan karenanya pendidikan tinggi diakui sebagai salah satu penggerak ekonomi di London.

Selain Inggris, Amerika Serikat dan Australia adalah negara utama penyerap mahasiswa asing. Nilai dari mahasiswa asing cukup besar bagi negara tersebut.

Hal lain yang menjadi sumber adalah kondisi dua negara pengekspor mahasiswa terbesar di dunia yaitu India dan China. Kondisi India yang membatasi jumlah biaya spp pada universitas mereka sebagian besar universitas memiliki kualitas rendah karena kekurangan pendanaan. Di China, efeknya lebih ke arah kekurangan jumlah universitas untuk menampung permintaan.Pada sisi lain walau keterbukaan untuk universitas asing dan dosen tapi adanya pengekangan kebebasan berpendapat menghalangi keinginan universitas asing buka cabang diChina. Besarnya kenaikan jumlah kelas menengah membuat permintaan atas pendidikan tinggi berkualitas tidak mampu dipenuhi oleh kursi yang tersedia. Banyak pelajar  dari kedua negara tersebut lalu memilih untuk belajar ke luar negeri. Malaysia dan Singapura mendapatkan limpahan yang besar dari mahasiswa kedua negara tersebut. Dalam jangka pendek ini, permintaan akan terus bertambah. Dan ada kecenderungan terlihat penurunan keinginan mahasiswa asing ke Amerika dan Inggris. 

Indonesia harus mengambil kesempatan yang ada. Pada saat ini, dua negara yang merupakan tempat favorit bagi kedua pelajar kedua negara tersebut sedang bermasalah. Amerika Serikat bermasalah pada sisi Trump.

Kebijakan visa yang berat dan rasisme menjadi marak yang menyebabkan banyak mahasiswa dari kedua negara tersebut menjadi menurun untuk pergi kesana. Pada sisi Inggris, masalah Brexit juga memberikan ketakutan yang sama walau dengan intensitas lebih rendah.

Namun, pada sisi lain juga universitas top di Inggris sedang menghadapi banyak tekanan untuk mengurangi biaya pendidikan tinggi. 

Walaupun ada keengganan untuk pergi ke kedua negara tersebut namun keinginan untuk berkuliah di universitas dari kedua negara tersebut masih tinggi. Universitas pada kedua negara tersebut pada sisi lain juga membutuhkan untuk terus memperbesar dan merekrut mahasiswa yang mampu bayar.

Ada supply berlebih dari sisi akademisi yang mereka hasilkan yaitu lulusan PhD yang tidak cukup menarik bagi industri di luar pendidikan tinggi. Pada sisi lain, biaya hidup yang tinggi di kedua negara tersebut cukup mengurangi permintaan. Solusi yang mereka dapatkan adalah membuka cabang di luar negeri sehingga tetap bisa menerima mahasiswa asing dengan lebih banyak dan mudah serta menyalurkan hasil lulusan PhD yang berlebih.

Malaysia dan Singapura adalah negara di Asia Tenggara yang berhasil merebut kesempatan tersebut. Jumlah mahasiswa dari China dan India sangat besar menuntut ilmu di cabang universitas asing di sana. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN