Mohon tunggu...
Karla Wulaniyati
Karla Wulaniyati Mohon Tunggu... Membaca dan menulis sebagai satu kecintaan

Let the beauty of what you love be what you do (Rumi)

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Pelajaran dari Sebatang Pensil

6 Desember 2018   19:28 Diperbarui: 6 Desember 2018   19:52 0 1 1 Mohon Tunggu...
Pelajaran dari Sebatang Pensil
pexels.com

Saya suka membaca buku berbagai kategori. Ada yang mudah saya pahami, ada juga yang sulit dipahami sampai seperti mengunyah makanan alot.

Buku tulisan Paulo Coelho menjadi salah satu buku favorit untuk saya baca walau saya belum banyak membaca dan memiliki bukunya. Buku  berjudul Seperti Sungai yang Mengalir adalah buku pertama Paulo Coelho yang saya punya. Saya suka bahasannya. Salah satu bahasan yang menarik perhatian saya berjudul Kisah Sebatang Pensil.

Perbincangan antara seorang nenek dan cucunya yang membicarakan kearifan hidup dengan memaknai sebatang pensil.

Saya tuliskan kesimpulan yang didapat dari tulisan tentang konsep menjalani hidup dengan memaknai fungsi sebatang pensil :

1. Jika sanggup melakukan hal-hal besar jangan lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkah.
Kita menyebutnya tangan Tuhan dan Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak Nya

2. Meraut pensil.
Pensil akan merasa sakit sedikit tetapi sesudahnya akan menjadi jauh lebih tajam.

Harus mau menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan karena akan menjadikan orang yang lebih baik.

3. Menghapus kesalahan.
Tidak apa-apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada dijalan yang benar untuk menuju keadilan.

4. Yang penting itu bukan luarnya yaitu kayu, tapi bahan di dalamnya,  grafit. Perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.

5. Pensil selalu meninggalkan bekas.
Apa yg dilakukan dalam hidup selalu meninggalkan bekas maka berusaha untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.

Saya suka dengan kelima konsepnya. Saya ingin mengaitkan kelima konsep tersebut dengan kehidupan.

Seperti konsep pertama membicarakan bahwa sehebat apapun yang sudah kita lakukan adalah karena ijin Yang Maha Segala sehingga semua bisa terjadi, kalau tidak diijinkan hal sederhana sekalipun tidak akan bisa dilakukan. Jadi buat apa kita sombong padahal sebenarnya kita tidak berdaya upaya kalau tanpa seijin-Nya.

Konsep kedua tentang meraut pensil adalah tentang kesulitan dalam hidup. Bahwa kesulitan adalah hal yang akan bersanding dengan kehidupan. Karena dengan kesulitan bukan agar hidup kita jadi sulit atau susah tapi justru untuk meningkatkan kualitas hidup dan menjadi ladang bekal kepulangan ke kampung akherat.

Konsep ketiga tentang menghapus kesalahan. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting memperbaiki dan kesalahan yang dilakukan bisa  menjadi pelajaran agar menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Konsep keempat tentang kepentingan isi pensil dibanding luarnya. Buat saya ini seperti pengenalan diri. Kenali diri dengan sebaiknya agar mengerti peranannya sebagai manusia yang diciptakan di dunia. Bagaimana berlaku pada sesama dan kepada Sang pencipta.

Jika isi dalam diri manusia sudah baik akan tertanam dalam pikirannya, ucapannya dan tingkah lakunya. Jika ada yang tidak baik dari salah satunya berarti ada bagian yang tidak difungaikan seperti yang Alloh kehendaki.

Konsep kelima pensil selalu meninggalkan bekas. Buat saya ini seperti jejak yang akan kita tinggalkan. Untuk itu berusaha untuk selalu meninggalkan jejak kebaikan.

Jika jejak yang ditinggalkan buruk atau salah ada penghapus yang akan membersihkan atau jika dalam kehidupan melakukan kesalahan perbaiki  walau jejak kesalahannya seringkali masih terlihat untuk itu jangan dilupakan dan jadikan pelajaran.

Selalu bersyukur jika diijinkan dengan masih bisa belajar memaknai hidup dari konsep yang Alloh berikan lewat jalan manapun termasuk buku yang dibaca.

Saya ingin berbagi semoga ada manfaatnya walau sedikit dan sederhana.


Karla Wulaniyati untuk Kompasiana

Karawang, 6 Desember 2018

KONTEN MENARIK LAINNYA
x