Imam Maliki
Imam Maliki Entrepreneur

Entrepreneur

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Mesin Keruk Uang di Wana Wisata Coban Rais

2 Januari 2019   05:55 Diperbarui: 3 Januari 2019   17:42 2926 15 14
Mesin Keruk Uang di Wana Wisata Coban Rais
Dokumentasi pribadi

Kemarin (31/12/19) sepulang berkunjung dari rumah orangtua di Kediri dalam rangka mengisi liburan sekolah. Anak istri minta mampir ke tempat Wana Wisata Coban Rais. Saya pun mengabulkan permintaan anak istri. Dengan ekspektasi tinggi karena foto destinasi wisata di Instagram, tempat tersebut terlihat menarik, kami pun yakin masuk ke area wisata.

Coban Rais terletak di Desa Oro-oro Ombo Batu, Malang. Tidak sulit untuk menemukan tempat ini. Hanya tanya sekali saja kepada orang di sekitar Alun-alun Batu penulis sudah paham rutenya. 

Batu yang mentahbiskan sebagai Kota Wisata atau Kota Wisata Batu (KWB) menjadikan apapun yang ada di Batu sebagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Sebut saja Jatim Park, Museum Angkut, Predator Fun Park, Batu Night Spectaculer, Kusuma Agrowisata, air panas Songgoriti, Selekta dan lainnya.

Kembali ke Coban Rais. Masuk pintu gerbang wana wisata penulis langsung disambut dengan petugas jaga yang menyodorkan 2 karcis masuk untuk saya, Rp. 20.000. Belum sampai 5 meter saya diarahkan untuk parkir sepeda motor, Rp. 5000. Dongkol pertama, kok gak sekalian waktu masuk.

Baru keluar dari tempat parkir disambut oleh beberapa orang berjaket biru yang mirip buruh angkut terminal. Eh, ternyata mereka tukang ojek. Menawarkan tumpangan untuk sampai ke coban. Meskipun dengan tutur kata yang sopan. Risih juga di kanan kiri mereka bersahut-sahutan sambil bilang Coban Rais masih 1 kilometer, capek jika tidak naik motor. Dongkol kedua, di tempat wisata kok ada tukang ojek.

Saya dengan keluarga memutuskan untuk jalan kaki saja, sambil menikmati pemandangan. Jika naik ojek apa gunanya rekreasi ke wana wisata. Coban Rais ternyata tidaklah jauh, untung tidak naik ojek sepeda motor, hemat Rp. 20.000.

Sepanjang kiri kanan jalan menuju Coban Rais pemandangan alam sangatlah indah. Di sepanjang jalan menuju coban terdapat beberapa destinasi wisata dan spot foto. Spot foto paralayang, salju, area kolam renang, area permainan anak dan lainnya, tapi sayang sekali semua diberi pagar. Saya membayangkan destinasi itu bukan untuk umum. Ekslusif. 

Bagi orang-orang berduit. Bagi orang kota yang berlibur ke desa. Tidak untuk warga desa di sekitar Coban Rais. Karena mereka hanya petani, terlalu sayang untuk membayar spot foto yang menurut penulis biasa saja.

Sampai penulis di ujung jalan tempat para pria berjaket biru mangkal. Ternyata di situ yang para tukang ojek bilang berjarak 1 kilometer. Dari kejauhan terlihat hamparan bunga yang indah. Itupun berpagar. Tidak semua orang boleh masuk. Harus berduit. Eksklusif.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Saya mencoba mendekati sebuah tempat seperti aula terbuka banyak orang antre. Ternyata tempat pembelian tiket masuk spot foto. Saya langsung teringat sebuah restoran di Malang yang menjual beraneka macam makanan yang terlihat enak. Kalau di wana wisata itu yang dijual bukan makanan, tapi spot foto. Semua spot foto dibawahnya diberi tarif. 

Saya yang sebelumnya antusias, menjadi illfeel. Sudah tidak berminat lagi. "Mesin pengeruk uang" saya membatin. Di saku celana masih adalah beberapa lembar uang untuk memasuki semua destinasi wisata, tapi saya harus mempertimbangkan jika saya harus mengeluarkan uang lagi kesehatan keuangan akan terancam. 

Mending ke tempat wisata mahal lain misalnya museum angkut. Sekali bayar di muka sudah bisa menjelajahi semua obyek wisata. Maka sayapun merayu anak untuk putar balik, tidak usah masuk ke area spot foto. Meskipun sulit akhirnya berhasil juga.

Seorang teman yang bekerja sebagai pemandu wisata, Ernie, mengatakan wana wisata Coban Rais dengan destinasi yang ada sangatlah mahal. Dia merasa menyesal ketika mengajak tamunya dari Jakarta ke Coban Rais dan tamunya kaget dengan tarif masuk di tiap spot foto. Tapi untungnya rombongan tamu dari Jakarta itu bisa berbesar hati, "gak apa-apa mahal, penting sudah tidak penasaran lagi".

Seorang teman lain juga mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan. Sudah di depan tempat pembelian karcis. Hujan turun. Menjadi peraturan wana wisata jika hujan turun area spot foto akan ditutup dan uang tidak bisa diambil lagi. Untungnya teman saya tadi belum membeli tiket.

Ketika saya menulis artikel ini baru pulang dari mengajak anak istri pulang dari berenang di tempat wisata baru di Malang timur yang bernama Embung Cempaka. Hanya Rp. 2000 untuk masuk tempat wisata itu dengan kepuasan yang berlebih. Begitu seharusnya tempat wisata, memberi rasa puas pada pengunjung. 

Tempat wisata jika ingin pemasukan lebih bisa menjual merchandise, kuliner atau arena wisata yang membutuhkan penanganan khusus, misal: naik kuda, permainan air softgun dan lainnya.

Esensi dibangunnya tempat wisata sebenarnya untuk menyegarkan fisik dan psikis dari pengunjung, setelah penat menghadapi pekerjaan dan permasalahan kehidupan. Obyek wisata juga berfungsi sebagai waktu berkualitas untuk keluarga (quality time). Setelah keluar dari tempat wisata pengunjung akan segar kembali dan produktivitas menjadi tinggi.

Paradigma prinsip ekonomi, dengan menghasilkan uang sebanyak-banyaknya dengan bermodal kecil haruslah diubah. Pemerintah harus membuat peraturan yang mengatur tarif dan standar pariwisata. Sependapat jika pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi, tapi haruslah tidak meninggalkan prinsip utama pariwisata sebagai arena refreshing warga Negara.