Mohon tunggu...
Kang marakara
Kang marakara Mohon Tunggu... Wiraswasta

Belajar dan mengamalkan.hinalah aku,bila itu membuatmu bahagia.aku tidak hidup dari puja pujimu

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Puisi | Sungai Berbuih Limbah Kata dan Sumpah

28 April 2020   10:34 Diperbarui: 28 April 2020   10:42 18 9 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Sungai Berbuih Limbah Kata dan Sumpah
dok pribadi

Di sana rumahku! Bertengger di dahan mawar putih, berbatas pabrik kata-kata konsumsi para priyayi. Hanya sejengkal sebelum kursi tinggi sebagi monumen, jalan beraspal dan berkarpet mahal, ribuan tanaman penghisap daya hidup berdampingan.

Ada slogan bercat merah di cetak besar, angin barat laut berulang kali ingin menjungkalkan, tonggak besar dari ikatan lidi menopang segala beban. Bunyi-bunyian seperti instrumen penyambutan selamat datang, berdentang melengking mengguncang isi pandangan.

Sungai itu tempat kami bermain. Memunguti aneka aksara yang tak terpakai, merangkai kembali janji-jani yang telah patah ujungnya. Kadang berenang di antara buih memabukan, sambil menghirup aroma persengkokolan yang tak mau hilang.

Kami hanya anak-anak. Mana peduli dengan papan peringatan di tiang jemuran, yang kalimatnya berganti-ganti setiap lima tahun sekali. Bukan tak sempat membaca, bukan kami tak mau membaca, tapi lidah kami telah keluh mengutip kata-kata, suara kami telah beku mengutuk sumpah-sumpah.

Datanglah sore ini, saat-saat sebelum waktu berbuka tiba. Ada jutaan kata-kata yang menjadi sampah, ada luapan janji-janji yang berupa buih berwarna jingga. Datanglah! Engkau pasti akan mengerti akhirnya.

Bagan batu, April 2020

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x