Mohon tunggu...
Kang marakara
Kang marakara Mohon Tunggu... Wiraswasta

Belajar dan mengamalkan.hinalah aku,bila itu membuatmu bahagia.aku tidak hidup dari puja pujimu

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Puisi | Perempuan-perempuan Penjejak Kegetiran

25 Februari 2020   20:42 Diperbarui: 25 Februari 2020   20:52 31 8 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Perempuan-perempuan Penjejak Kegetiran
pixabay.com

Seorang perempuan dengan riasan bidadari tengah menggendong malam. Berkelebat di antara dentum nyanyian getir kehidupan, menyatu dengan cahaya warna-warni pandangan menghujam harga diri. Matanya teduh, tetes air mata di sembunyikan di antara bulu mata palsu merubah penampilan. Senyumnya hambar, kepedihan ia sembunyikan di langit-langit hati, hingga yang tampak adalah senyum manis laksana dewi nirwana

Seorang perempuan memainkan peran sebagai kupu-kupu malam. menjajakan kepalsuan kepada manusia laknat yang terus di agungkan. Tempat salah dan nista telah di sandangnya, hujatan setajam belati telah terbiasa melukai hati. Siapa peduli. bahkan sekedar menegakan muka pun ia telah tak mampu lagi, pandangan tajam manusia berlagak suci telah memvonis diri. "Engkau nista. Engkau sampah." begitu kata dunia

Sekumpulan perempuan berjalan gontai setelah berjuang merelakan harga diri. Sepanjang jalan yang di lalui, batu-batu dan pasir menangisi tragedi ini, manusia -manusia menudingkan telunjuk bersiap menghakimi

Sekumpulan perempuan yang demi buah hati dan kerasnya kehidupan, menandai senja dengan bersalin rupa melukai hati. menatap cermin sambil mematut diri tentang dosa dan kemuliaan. "biarlah hina di pandangan manusia, tapi Tuhan ku yakin menyisahkan sudut syurga bagi hambaNYA." 

Bedak dan pupur telah di poleskan, gincu dan parfum pengganti kedukaan telah di kenakan. sekumpulan perempuan yang tega merelakan malam, membiarkan serigala-serigala mencabik tubuhnya hingga yang paling terdalam. Menangis atau merintih, siapa peduli

Bagan batu, ketika malam aku mengingatmu.

VIDEO PILIHAN