Mohon tunggu...
Kang marakara
Kang marakara Mohon Tunggu... Wiraswasta

Belajar dan mengamalkan.hinalah aku,bila itu membuatmu bahagia.aku tidak hidup dari puja pujimu

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Puisi | Ku Tanah Ku Tah

23 Oktober 2019   11:32 Diperbarui: 23 Oktober 2019   11:47 0 6 1 Mohon Tunggu...
Puisi | Ku Tanah Ku Tah
Pixabay.com

Ku palingkan pandangan dari tanah hampa, tertutup pendengaran dari riuh jeritan dan erangan, sejenak menyendiri di sebalik buih, tertunduk bersembunyi dari terangnya matahari

Seketika angin tenggara bersuara, erangan pedih kelelawar menguasai semesta, dahan bergoyang tanda duka cita, daun berguguran mengiringi kepergian dari yang nyata

Mengapa terjungkal angan di terangnya cahaya? Mengapa kesendirian menjadi pelarian lintasan peristiwa, ataukah temaram hutan sunyi adalah syurga, tempat mengubur segala kenangan yang tercipta

Biarlah dingin menyelimuti, biarlah hening menemani, pencarian tak pernah henti, perjalanan mustahil menemui tepi. Berapa lama mesti mengasingkan hati? Berapa lama jiwa ini kan memaknai sepi

Bagan batu 23 oktober 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x