Mohon tunggu...
Juwinda Ningrum
Juwinda Ningrum Mohon Tunggu... Guru - Guru PAUD

Lulusan Managemen Dakwah, suka topik dan baca buku #SelfImprovement, (e): windelafi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Terima Kasih Ibu, Cinta Kasihmu Tanpa Syarat

23 Desember 2022   11:55 Diperbarui: 23 Desember 2022   12:07 612
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Masih teringat jelas di memoriku, perjuangan dan kerja keras ibu dalam membesarkanku. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Aku dua bersaudara, selisih usiaku dengan adikku hanya terpaut 2 tahun. Bapak bekerja di sebuah restoran cina yang tak jauh dari tempat tinggal kami, Sedangkan ibu menjadi ibu rumah tangga. Hingga suatu Ketika keluargaku di hadapkan dengan permasalahan ekonomi yang mengharuskan ibu untuk bekerja membantu perekonomian keluarga.

Ketika aku masih duduk di bangku 3 SD ibu memulai bekerja, beliau bekerja di pabrik kayu. Meskipun pendapatan yang di terimanya tidak seberapa tapi ibu tak pernah mengeluh karena ibu tidak ingin anak-anaknya putus sekolah. Beliau mengupayakan agar aku dan adik bisa menempuh pendidikan agar kelak kami bisa sukses dan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. 

Setiap hari ibu bangun pagi dan menyiapkan semua kebutuhan anaknya dan bapak sebelum dirinya berangkat kerja. Setiap hari ibu berangkat pukul 05.30 wib,  tempat tinggalku jauh dari jalan raya, hingga mengharuskan ibu berjalan sekitar kurang lebih 2 KM untuk bisa naik angkutan umum.

Hari-hari di laluinya dengan penuh semangat dan tak pernah mengeluh, semua peran yang di jalaninya di kerjakan dengan selesai. Mulai dari menjadi ibu yang menyiapkan semua kebutuhan anak-anaknya, menjadi seorang istri yang melayani suaminya, dan menjadi ibu PKK yang harus terus bersosialisasi dengan ibu-ibu yang lainnya. Tak pernah ada kata mengeluh yang keluar dari bibirnya, walaupun tubuhnya letih dan batinnya Lelah, tapi ibu tidak menunjukkan semua itu kepada anak-anaknya. ibu selalu tersenyum agar anak=anaknya tak merasakan beban dan letihnya. 

Ibu adalah Wanita Tangguh yang aku miliki, aku bersyukur bisa menjadi anak ibu.

Pada saat aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Pabrik tempat ibu bekerja mengalami kebangkrutan, hingga akhirnya banyak karyawan yang terkana PHK. Kejadian itu membuat keadaan ekonomi keluarga menjadi kacau, karena yang biasanya ibu bisa membantu mencukupi kebutuhan keluarga tapi karena di PHK ibu tak lagi bisa membantu ekonomi kerluarga. Saat itu kebutuhan terbesar adalah biaya pendidikanku dan adikku.

Bukan ibuku jika tak berusaha untuk keluarga demi keluar dari masa-masa kesulitan itu. Semenjak ibu keluar dari pabrik, ibu mencari informasi lowongan pekerjaan mulai dari bertanya kepada teman-temannya, bertanya kepada tetangga, sodara hingga akhirnya ada lowongan untuk mengecat tembok di proyek ITS surabaya.

" win, meneh ibu kerjo nang ITS [win, besok ibu kerja di ITS]". Kata ibu dengan nama sedikit senang

" kerjo opo bu? [Kerja apa bu]". Tanyaku

" kerjo dadi kuli bangunan, ngecat tembok [kerja jadi kuli bangunan, mengecat tembok]". Jawab ibu dengan tegas

Mendengar jawab ibu, hatiku terasa teriris dan teramat sangat sedih. Bagaimana bisa seorang Wanita yang melahirkanku, melakukan pekerjaan keras yaitu menjadi seorang kuli banngunan. Saat itu aku ingin sekali melarangnya, tetapi apalah dayaku yang masih belum bisa membantu perekonomian keluarga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun