Mohon tunggu...
Peter Jeandrie
Peter Jeandrie Mohon Tunggu... Menulis ketika ingin. Rehat ketika ingin. Mengkritik ketika diperlukan. Diam ketika mengendalikan. Seorang penulis lepas yang kadang omong kosong di dalam tulisannya. Namun kadang menyelipkan pesan tersembunyi di dalam tulisannya. Sekian.

Pengamat

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Studi Kasus pada Film Dokumenter "Pertaruhan"

4 April 2017   13:45 Diperbarui: 4 April 2017   14:12 1416 0 0 Mohon Tunggu...

"Pertaruhan" merupakan film dokumenter yang terdiri dari 4 cerita berbeda mengenai isu-isu persoalan yang menimpa perempuan yang berkaitan dengan seksualitasnya. Empat isu tersebut antara lain: 

  1. Keberanian perempuan untuk mengambil tindakan bagi dirinya (kesehatan fisik dan psikis) yang terhalang oleh pandangan normatif masyarakat; 
  2. Sunat pada perempuan yang daripada ISUNYA sebagai pengendali syahwat perempuan, tapi lebih upaya dominasi laki-laki atas perempuan; 
  3. Akses layanan kesehatan berupa pap smear pada perempuan yang masih menyandang status 'nona'; serta 
  4. persoalan ekonomi 9kemiskinan) yang membuat sejumlah perempuan dari ekonomi yang buruk menjalankan profesi ganda, yakni sebagai pemecah batu dan sebagai pekerja seks. 

Pertaruhan mengungkapkan bagaimana perempuan dikekang secara fisik maupun psikis oleh berbagai pemikiran normatif masyarakat. Sejumlah pemikiran yang 'kolot' yang mendiskriminasi perempuan, bahkan sampai pada layanan untuk mengakses kesehatan sebagai buah pikir dari pemikiran masyarakat normatif bahwa perempuan yang melakukan hubungan seks di luar pernikahan merupakan suatu kejahatan, hal yang belum tentu akan dilabelkan pada laki-laki. Tubuh perempuan tidak lebih dianggap sebagai 'benda' daripada sebagai 'jiwa-raga', atau bahkan mungkin tidak dianggap sama sekali eksistensi dan harkatnya. Namun, beberapa justru memutarbalikkan pemikiran tersebut dengan pernyataan bahwa tubuh perempuan merupakan 'bait yang suci', sehingga apabila perempuan melakukan hubungan seks di luar pernikahan maka akan dilabel negatif dan tidak akan mendapat akses pelayanan kesehatan karena tidak dalam ikatan pernikahan. Kasus yang sama pada cerita pap smear, di mana dalam kasus ini perempuan tidak akan mendapat layanan pap smear tanpa ada izin dari suami ataupun orang tua/wali, meskipun ia telah berada pada kategori di atas usia atau untuk alasan pengecekan kesehatan dini pun tidak boleh. 

Persoalan yang cukup parah adalah bagaimana perempuan sendiri termakan oleh kuasa dari pandangan atau budaya patriarkal. Persoalan ini diceritakan pada isu pertama dan kedua dalam film ini. Meskipun dalam cerita terdapat beberapa tokoh yang menolak kontrol tersebut, namun yang tetap menjadi ironi adalah fakta bahwa perempuan masih berada dalam kontrol laki-laki sebagai 'objek suci'. Ketakutan untuk melakukan tindakan penyembuhan diurungkan karena proses operasi dilakukan pada vagina (sebab adanya pandangan bahwa perempuan harus menjaga 'kesuciannya') - cerita/isu pertama. Pasangan lesbian harus menyembunyikan hubungannya dari masyarakat asalnya yang normatif. Isu kedua juga mengungkapkan bagaimana ketidakberdayaan dari mayoritas perempuan dalam melepaskan dirinya dari jerat kepentingan patriarkal, yakni sunat pada perempuan. Bahkan sejumlah tokoh perempuan malah memuliakan hal ini sebagai praktik yang memperempuankan diri perempuan. Film ini mengungkapkan bagaimana hal-hal perempuan atas tubuh, seksualitas, kesehatan reproduksi, serta psikisnya dikubur oleh kepentiangan patriarkal. 

 


VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x