Junaidi Khab
Junaidi Khab Editor

Junaidi Khab lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya.

Selanjutnya

Tutup

Otomotif

Hati-hati dengan Cagang Motor Anda

14 November 2017   08:08 Diperbarui: 14 November 2017   09:57 821 0 0
Hati-hati dengan Cagang Motor Anda
Dokpri

Di Madura, khususnya daerahku di Sumenep, tepatnya di tempatku hidup di desa, desa Banjar Barat, kecamatan Gapura, istilah "cagang" disebut standar. Standar yaitu alat penyanggah motor di sebelah kiri. Itulah cagang. Tapi juga ada cagang tengah. Tapi cagang tengah jarang digunakan, karena untuk menggunakannya membutuhkan tenaga lebih daripada cagang yang hanya satu di sebelah kiri. Cagang kiri ada satu buah dan sering digunakan ketika motor diparkir. 

Sementara cagang tengah ada duah buah yang bercabang, digunakan ketika motor akan diparkir dalam keadaan lama atau tempat parkirnya sempit, sehingga agar bisa diparkir harus dicagang dua (tengah). Sepeda motor tidak memiliki cagang kanan, karena mayoritas manusia menggunakan sisi kiri yang lebih lumrah dan biasa. Begitu kan? Aku yakin kalian juga sama, yaitu menggunakan cagang kiri daripada cagang tengah. Benar kan?

Di rumahku, di desa Banjar Barat, kecamatan Gapura, kabupaten Sumenep, sepeda motor disebut "sepeda (motor)" atau orang rumah tempo dulu -- bahkan hingga sekarang -- masih menyebut "sepeda (motor)". Tapi banyak juga yang menyebut sepeda motor dengan sebutan "Honda". Ini sudah menjadi nama umum untuk sepeda motor. Mungkin sebutan "Honda" bagi sepeda motor karena pertama kali merek yang dikenal adalah "Honda".

Sehingga masyarakat menyebutnya "Honda" apa pun merek mesin sepeda motor tersebut. Seperti halnya minuman mineral dalam kemasan, mayoritas masyarakat sudah lumrah menyebut "Aqua", padahal yang dibeli bukan merek "Aqua". Masyarakat mau membeli air mineral merek "Club" tapi bilang "Aqua", karena sudah lumrah dan umum, sang penjual tetap memberikan air mineral dalam kemasan, apa pun mereknya yang ada di depan mereka. Ini merupakan pengaruh pasar oleh "Honda" dan "Aqua". Kalau "mobil" di rumahku disebut "motor". Aneh-aneh kan, tapi tidak usah heran, kita memiliki bahasa yang bisa digunakan di daerah kita masing-masing. Dan masih ada keanehan lainnya yang mungkin tidak mudah dipahami oleh orang lain di luar Banjar Barat, Gapura, Sumenep, Madura.

Kembali lagi pada judul tulisan yang dijadikan catatan dalam tulisan ini. Begini, aku teringat dengan suatu peristiwa yang menimpaku beberapa hari yang lalu. Tepatnya hari Rabu, 6 Mei 2015 jempol kakiku yang kiri terkena cagang ketika memundurkan motor teman yang mau kupakai. Rasanya bukan main, sakit benar-benar sakit. Peristiwa ini bukan pertama kali aku mengalaminya, tapi sebelumnya sudah pernah mengalami. Aku teringat dengan temanku yang jempol kakinya juga terkena cagang ketika memundurkan motornya. Kukunya copot hingga berdarah dan harus dibalut dengan perban. Tahu rasanya? Ingin tahu? Jangan deh, gak usah tahu rasanya yang asli. Sakit!

Teringat dengan peristiwa tersebut aku (sebenarnya sudah sejak dulu ketika jempol kaki kiri terkena cagang) akan berhati-hati, dan berusaha mengingat untuk menutup cagang motor ketika akan dimundurkan. Pada waktu itu Rabu, 6 Mei 2015, aku benar-benar lupa tidak menutup cagang terlebih dahulu, jadinya sakit deh jempol kiriku karena terkena cagang. Untung saja tidak cepat aku memundurkan motor untuk dikeluarkan dari garasi (tempat parkir). Seandainya cepat, mungkin kukuku juga copot dan berdarah-darah. Betapa sakitnya jika demikian yang terjadi, berjalan harus tertatih-tatih dan pelan-pelan. Sungguh ribet!

Teringat hal itu, ketika aku jumatan di masjid Ulul Albab, UIN Sunan Ampel Surabaya, di kampusku. Setelah jumatan selesai, aku melihat salah satu jamaah yang jempol kaki kirinya dibalut perban. Aku hanya menerka-nerka, ini pasti terkena cagang motor hingga harus dibalut. Entah benar atau tidak dugaanku itu, aku tidak tahu. Aku hanya menganalogikan dengan luka yang dialami oleh temanku dan aku sendiri yang terkena cagang, pasti jempol kaki yang kiri. Soalnya begini, ketika akan memundurkan motor, pasti kaki yang kanan berada di belakang, dan kaki yang kiri ada di depan. Jadi, secara otomatis kaki kiri jadi ancaman terkena cagang jika cagang motor yang kita pegang tidak kita tutup.

Yang lebih berbahaya, jika cagang lupa ditutup hingga digunakan. Jika motor dikendarai dalam keadaan cagang terbuka, maka ancaman kecelakaan bisa berada di hadapan. Di mana kecelakaan akan terjadi, yaitu ketika menikung ke arah kiri. Meskipun tidak celaka, diri kita akan kaget. Maka dari itu, kita harus hati-hati, waspada, dan selalu berusaha untuk mengingat ketika mau mengeluarkan motor. Tutup cagangnya, baru jalankan motor ke arah belakang untuk digunakan. Semoga catatan sederhana ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Oleh: JUNAIDI KHAB

 Surabaya, 8 Mei 2015