Mohon tunggu...
Junaidi Mamuntu
Junaidi Mamuntu Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance

Buku, Kopi, Musik dan Jejak Langkah

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Beberapa Pikiran Para Filosof Modern tentang Pikiran

30 November 2022   14:23 Diperbarui: 1 Desember 2022   19:30 112
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Mulanya adalah Cogito Ergo Sum. Aku meragukan segala hal akan tetapi hanya satu yang aku tak mungkin meragukannya yakni kalau aku yang sedang meragu ini ada. Ujar, Filosof Rene Descartes. Buah dari perenungan yang radikal.

Dengan menyangsikan segala hal Descartes sampai pada kesimpulan cogito ergo sum yang tak mungkin disangsikan lagi. Meragu adalah sebab mengada atau bereksistensi, karena dengan meragu maka "aku" tak bisa mengelak keberadaan kalau aku yang sedang meragu itu ada. Ia meragukan segala sesuatu termasuk dirinya sendiri. Dengan meragukan segala sesuatu maka ia membuktikan ia ada, fakta bahwa ia sedang ragu-ragu menjelaskan atau membuktikan bahwa ia ada. Ceritanya gagasan ini bukan diturunkan dari aksioma silogisme sebagaimana sering disalahpahami melainkan dari intuitif filosofis.

Dalam kepala Descartes keraguan ialah cara untuk bisa sampai ke kebenaran atau kepastian pengetahuan. Ragu adalah awal mula bukan kesimpulan. Ragu sebab sesuatunya objek yang untuk diketahui belum jelas, tidak jelas, masih samar, sehingga dengan ragu metodis ini menurut Descartes bisa mengantarkan manusia sampai ke pintu gerbang yang jelas dan terang benderang.

Agar sesuatu objek bisa terang atau terpahami maka perlu menggunakan pola [clear and disting] yakni mengerti dengan jelas dan terpilah, ini adalah sebuah metode Descartes untuk memilah-milah dan menguraikan sebuah pemikiran.

Ketika hendak menjelaskan atau menerangkan sebuah konsep pemikiran maka yang harus dilakukan adalah memilah-milah konsep tersebut berdasarkan definisi, bagian-bagiannya, perbedaan dan persamaannya dan lain sebagainya. Misal, Konsep Idealisme vs Materialisme, Rasionalisme vs Empirisisme, Kebebasan vs Kekuasaan, Abstrak vs Kongkrit, atau Humanitas vs Dehumanisasi dan lain sebagainya. Tak selalu oposisi binner sederhana namun juga secara kompleks. Uraiannya mengenai pembedaan dan persamaanya.

Immanuel Kant menyimpulkan kemudian bahwa manusia yang mencapai fase kedewasaan adalah manusia yang berani berpikir sendiri. Memiliki pikiran sendiri. katanya sapare aude. Pikiran Sebagai aspek pembeda differentia antara manusia dalam kekanak-kanakan atau manusia yang masih sangat bergantung total pada tuntunan, arahan dari luar tanpa keberanian berpikir, tergantung dalam mengambil, menentukan pikiran sendiri.

Dimaksud Kant, sebelum berpikir harus dimulai dengan berani terlebih dahulu, itu salahsatu syaratnya. [Berani] sangat diperlukan, karena berpikir itu membutuhkan mentalitas tuan [Nietzsche]. "saya tidak takut menghadapi segala hambatan, segala akibat yang akan terjadi, (Ja sagen) semua akan ditanggung". Seperti pernyataan ini. Sebuah mentalitas yang berani, kuat bukan kepengecutan, kepecundangan, tunduk, patuh, yang dikonsepkannya sebagai mentalitas budak. Keberanian dimiliki hanya oleh manusia yang merdeka, manusia yang memiliki otonomi diri atau pendirian. [Berpikir sendiri] yakni menarik kesimpulan sendiri dari premis-premis yang memadai dan andal.

Pada kant, Berpikir adalah berpikir Kritis, buah pikiran "Idea" tidak bergantung total pada situasi eksternal. Bukan dalam pengertian tidak berdasarkan atau tidak memiliki hubungan sama sekali dengan situasi eksternal, hubungan dengan situasi eksternal memang terjadi dalam 'proses-proses mengada' namun maksudnya tidak lantas situasi eksternal secara total memengaruhi buah pikiran sehingga pikiran tidak memiliki independensinya lagi. Makanya menurut Kant, Pikiran itu salahsatu keunikannya bermula dari pengamatan faktual, bahwa pikiran juga dapat otonom terhadap situasi dan kondisi eksternal.

Kalau ke Edmund Husserl akan mendapati konsep Cogito yang lain, Baginya Cogito atau pikiran itu tidak tertutup dalam artian hanya terarah pada dirinya sendiri [pikiran itu sendiri] sebab pikiran atau kesadaran itu bekerja secara intensional dalam artian terarah pada sesuatu, itu menurutnya sebagai hakikat pikiran karena saat berpikir maka akan selalu berpikir tentang sesuatu [yang dipikirkan] entah itu objek diluar atau didalam diri subjek. Saat itulah pikiran menjadi intensional.

Berjumpa dengan Freud dan kemudian Lacan, menemukan pikiran atau sesuatu yang ada dalam pikiran ialah perwujudan dari ketidaksadaran. Freud membagi ketidaksadaran menjadi dua, wilayah Id adalah wilayah alam bawah sadar dan wilayah alam pra-sadar yaitu wilayah super-ego. Dalam dua pembagian itu, kesadaran atau pikiran sebagian besarnya hanyalah manifestasi dari ketidaksadaran.

Dalam sebuah analogi, Freud menerangkan kondisi itu seperti membayangkan gunung es dibawah laut yang dalam, dimana puncak es yang nampak dipermukaan katakanlah ukurannya hanya 1,5 meter membentuk persegi tiga. Itu penampakan kesadaran sementara pangkal gunung es mencapai ribu bahkan jutaan kilo meter dalam kedalamannya ialah ketidaksadaran itu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun