Mohon tunggu...
Jumardin Muchtar
Jumardin Muchtar Mohon Tunggu... Dosen - Peneliti / Dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda

Info contact instagram @jumardinmuchtar

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Benarkah Maulid Nabi SAW Bid'ah Tidak Ada Dalil?

19 Oktober 2021   04:10 Diperbarui: 19 Oktober 2021   04:54 620
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Abu bakar: Kalau saya lebih jauh daripada itu saya lebih percaya. Karna saya tidak melihat Muhammad tapi yang saya lihat adalah yang maha kuasa, kalau yang maha kuasa berkeinginan mau dibawa kemana?.

 Nah disinilah Abu Bakar diberi gelar "As-Siddiq" yaitu maha membenarkan karna membenarkan cerita nabi.

Nah... yang terjadi ini adalah proses dakwah, siapa yang mengndang ? yaitu Abu jahal sebagai panitia dan bertindak sebagai protokol dan siapa pembicaranya? yaitu Nabi Muhammad. Melaksanakan acara seperti ini adalah upaya untuk mendekatkan umat kepada nabinya apabila peristiwa maulid. 

Justru ulama-ulama dulu melihat, kelihatannya ini umat semakin lama dan perkembangan islam ini semakin berkembang kelihatannya semakin jauh kepada nabi dan semakin jauh dari ajaran yang dibawa oleh beliau. Oleh karena itu kita perlu memiikirkan upaya bagaimana cara untuk mendekatkan beliau kepada nabinya ajarannya serta akhlaknya. Justru itu rahasianya mengapa diadakan? justru diadakan orang dulu itu ia lebih kuat imannya dan lebih kuat cintanya kepada Rasulullah. Justru sekarang ini makin lama makin jauh, coba saja remaja-remaja kita andaikata menyebarkan angket dan menuliskan siapa idola kamu? Kira-kira tidak ada yang menulis nabi Muhammad. Kalau laki-laki yang ditanya siapa idola kamu? Palingan ia menjawab Messi, Ronaldo. Kalau anak perempuan yang ditanya pasti artis ia tulis. Tidak ada lagi yang ditulis nabi Muhammad atau sahabat-sahabat nabi. Inilah suatu hal yang memperihatinkan buat umat. Dan ini hal yang lumrah karena kenapa?. Karena tidak ada yang diajarkan di sekolah-sekolah sejarah Rasulullah. 

Coba saja di sekolah pemerintah ini pendidikan agama disatukan semua dan hanya 2 jam mata pelajaran dalam satu minggu artinya 2 jam mata pelajaran itu 90 menit dalam satu minggu semuanya disitu. Sudah tidak ada lagi sejarah nabi, tidak ada pelajaran akhlak padahal di dalam undang-undang tujuan pendidikan nasional disebutkan mengenai takwa dan akhlak mulia tetapi lucunya tidak ada masuk didalam kurikulum. Justru yang tidak termasuk dalam undang-undang itu yang memadati kurikulum sehingga tentunya lumrah kalau anak-anak kita tumbuh tambah pandai tambah kurang ajar biasa saja terjadi semacam itu.

 Oleh karena itu kita prihatin dalam situasi ini, memang perlu berpikir kira-kira bagaimana cara kita lakukan untuk membuat umat kita ini lebih dekat dengan umatnya dan lebih cinta dengan umatnya. Kita bisa melihat apa yang menjadi topik dari pembicara atau pembawa hikmah itu. Saya melihat bahwa tidak lepas dari tiga hal :

 1. Apakah menyampaikan dengan sedikit dari kisah-kisah beliau Dalam perjuangannya ini?.

 2. Ataukah menyampaiakan sedikit daripada akhlak mulia beliau untuk diteladani. 

3. Sebagian dari ajaran yang dibawah oleh beliau yang dianggap relevan dalam situasi dalam sekarang ini.

 Tidak lepas dari 3 hal ini yang dibawakan oleh muballiq. Hanya gayanya itu macam-macam ada yang sedikit bumbunya, ada yang tidak ada bumbunya, ada yang lebih banyak bumbunya. Nah.. kita lihat apa hukumnya dari tiga hal ini dalam agama? apa hukumnya berkisah, mengisahkan nabi?.

 Pertama,didalam Al- qur'an Surah al-a'raf ayat 176 justru disitu ada perintah dalam Al-Qur'an untuk berkisah dengan kisah yang menjadi pelajaran bagi umat manusia. Jadi berkisah itu ada perintah didalam alqur'an, kalau saja sembarang kisah diperintahkan dalam Al-Qur'an untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia kira-kira bagaimana dengan kisah nabi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun