Mohon tunggu...
Juan Manullang
Juan Manullang Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Lepas

Alumnus FH Unika ST Thomas Sumut IG: Juandi1193 Youtube: Juandi Manullang

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Ngeri-ngeri Sedap: Pesan Penting yang Tersirat dan Patut Dijadikan Pelajaran

19 Juni 2022   20:23 Diperbarui: 19 Juni 2022   20:27 4885
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto bersama di Bioskop saat menonton Ngeri-ngeri Sedap (dokpri)

Kemarin, tanggal 18 Juni 2022, saya bersama kedua teman menonton film Ngeri-Ngeri Sedap yang menjadi film terpopuler akhir-akhir ini. Para pengguna media sosial, baik itu Facebook maupun Instagram, begitu ramai memposting di story medsos mereka film Ngeri-Ngeri Sedap ini.

Bahkan, mereka mengungkapkan perasaan ketika menonton film tersebut. Bagaimana rasa bangga, terhibur dan juga sedih dirasakan. Hingga akhirnya saya juga merasakan hal yang sama.

Selesai menonton film tersebut, saya mendapatkan pesan-pesan penting yang bisa kita jadikan pelajaran buat kehidupan kita kedepannya. Meskipun alur ceritanya tentang kehidupan keluarga Batak, namun semua orang bisa mengambil hikmah yang sama.

Beberapa poin yang bisa saya ambil:

Pertama, Film tersebut menceritakan tentang kerinduan seorang Ibu kepada anaknya yang tak kunjung pulang ke kampung halaman untuk melihat orangtuanya.

Si Ibu sudah sangat rindu kepada anaknya sehingga si Ibu dan si Bapak bersepakat untuk membuat skenario atau sandiwara bahwa mereka akan bercerai demi membuat anak-anak mereka pulang dan melihat Bapak dan Ibunya.

Kedua, Film tersebut juga bercerita bagaimana seorang Bapak yang sudah berjuang menyekolahkan anak-anaknya sampai sukses, ingin sekali si anak mendengarkan saran, nasehat dan keinginan hati anaknya.

Si Bapak ingin sekali anak pertama yang diperankan Boris Manullang menikah dengan Boru Batak agar membuat orangtuanya senang. Selain itu, ingin anaknya yang diperankan oleh Lolox yang merupakan lulusan Fakultas Hukum agar menjadi Hakim ataupun Jaksa. Selanjutnya, anak terakhir diinginkan untuk pulang ke kampung halaman selesai menamatkan kuliah agar ada yang mengurus orangtuanya dan akan diberikan harta warisan.

Namun, ketiganya tidak mau memenuhi keinginan orangtuanya tersebut dan berharap orangtua bisa mengerti.

Dari kedua hal itu, kita bisa memahami bahwa sesungguhnya zaman sudah berubah. Apa yang menjadi kebiasaan dulu kala tidak bisa diterapkan lagi di kehidupan sekarang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun