Mohon tunggu...
Juandi Manullang
Juandi Manullang Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Alumnus FH Unika ST Thomas Sumut

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Cuitan Andi Arief Kembali Menggemparkan Dunia Politik

11 Juni 2019   22:30 Diperbarui: 11 Juni 2019   22:36 0 10 1 Mohon Tunggu...
Cuitan Andi Arief Kembali Menggemparkan Dunia Politik
MI/BARY FATHAHILAH

Politisi partai Demokrat Andi Arief kembali menggemparkan dunia politik Indonesia. Kali ini cuitannya akan membuat politisi maupun partai lainnya heran dengan sikap Andi Arief yang biasa memainkan spekulasi dan sindiran.

Bayangkan saja,  cuitan melalui akun twitternya @Andi Arief_ menuliskan "Jika laporan Majalah Tempo benar, langkah partai Demokrat sudah tepat. Bukan menolak people power, tapi tidak ingin terlibat premanisme. Pengkhianat dalam koalisi adalah yang menggerakkan premanisme.  

Pernyataan tersebut kesannya menyindir oknum tertentu, akan tetapi, Andi tidak mau menunjuk hidung dari oknum tersebut.

Kita tak tahu siapa yang dimaksudkan oleh Andi Arief. Oleh karena itu, hal ini akan menjadi bahan perbincangan dan perdebatan di ruang publik. Bisa jadi pernyataan Andi Arief akan disorot media dan dibicarakan juga di media massa yang ada.

Memang setiap cuitan Andi Arief selalu menggemparkan dan seringkali viral untuk diperbincangkan. Sindiran yang dilakukan beliau memberikan mata terus melotot dan menantikan sensasi apa yang akan beliau lakukan lagi. Apa yang diserukan Andi akan dikatakan sebuah sensasi politik saja. Andi sering mencuit, tetapi tidak mau menunjukkan kebenarannya, data dan fakta yang ada. Jadi, tak heran kalau Andi Arief selalu membuat gebrakan  dan serangan kepada semua pihak.

Cari sensasi?

Kita semua bangsa Indonesia setuju bahwa namanya aksi premanisme harus dilawan karena tidak sesuai dengan nilai dan norma yang ada. Premanisme adalah kekerasan yang memang dilarang oleh hukum yang berlaku, sekaligus bertentangan dengan nilai luhur Pancasila.

Sebab itu, kita pasti sepakat dengan Andi Arief mengenai itu. Serangan kekerasan berbasis demonstrasi di tanggal 21 dan 22 Mei kemarin telah melukai sendi-sendi kehidupan kita. Melukai nilai kebangsaan kita.

Namun, perlu diingat juga bahwa Andi Arief dalam berpendapat harus punya bukti juga. Jangan mengatakan kemarin dengan sebutan "setan gundul" tetapi tak tahu siapa orangnya, hingga akhirnya rakyat bertanya-tanya. Kali ini, ada kata premanisme juga dan sepertinya menyindir salah satu pihak.

Saya meyakini bahwa cuitan tersebut akan menjadi bahan perbincangan. Akan banyak politisi yang komentar dengan cuitan itu, sehingga timbul perdebatan baru yang lebih sengit. Akan banyak politisi yang meminta Andi untuk klarifikasi dan menunjuk hidung pihak yang menggerakkan aksi premanisme itu.

Kalau begini terus cuitan Andi Arief, maka perpolitikan kita akan semakin kacau dengan perdebatan sengit terus menerus. Akan ada serangan juga ke Andi Arief sebagai balasan atas pernyataannya di twitter.

Diksi-diksi yang digunakan Andi Arief dapat menjadi bumerang bagi dirinya dan partainya. Maka, seharusnya, Andi Arief tidak terus menerus mencuit hal-hal yang tidak perlu. Apalagi yang menggemparkan dan buat geger masyarakat. Biasa saja dalam mencuit, tidak perlu menyindir, apalagi menyerang. Hanya karena itu koalisi bisa rusak, padahal sudah berjuang bersama-sama membangun koalisi dari awal.

Semoga Andi Arief tidak cari sensasi teman. Selalu saja cuitannya bersifat menyindir dan menyerang juga kalau saya amati. Yang diserang adalah koalisi sendiri. Makanya, selama ini timbul perdebatan antar koalisi 02. Semoga ini tidak memperkeruh suasana dalam politik dan dalam berkoalisi.

Salam Kompasianer!!