Mohon tunggu...
Jordi Sahat
Jordi Sahat Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa STFK Ledalero

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Aku yang Cemas akan Negeri Ini

4 Desember 2020   14:50 Diperbarui: 4 Desember 2020   15:31 22 3 0 Mohon Tunggu...

Senja menyapa dengan kicauan burung-burung yang kembali dalam sarangnya. Matahari perlahan pergi meninggalkan bumi pertiwi. Hatiku kembali cemas. Cemas akan negeriku yang sudah lama berada dalam balutan kegelapan karena ulah manusia. Belum lagi kegelapan alami yang selalu datang ketika waktunya tiba. Ingin aku menahan sinarnya sang mentari untuk tetap menyinari negeri ini, namun hukum alam lebih berkuasa. Hukum yang tak bisa dikuasai oleh manusia. Sang mentari untuk sementara harus pergi. Sejenak dalam pikiranku terlintas, masih ada hari esok. Sang mentari akan kembali lagi untuk menerangi negeri ini. Namun, semuanya itu tak mengusik rinduku, karena hari esok itu selalu tentatif. Ah… sudalah biarkan dia pergi untuk sementara. Tak perlu memikirkan tentangnya. Bukankah semuanya harus demikian?

Sore itu tidak lagi seramai yang aku bayangkan. Setiap orang menyibukkan diri dengan pekerjaannya masing-masing. Memang bukan pertama kalinya kejadiaan seperti ini terjadi, namun aku bingung, kenapa mereka begitu sibuk dengan pekerjaan mereka. Bukankah semuanya sudah cukup dikerjakan pada siang hari tadi? Ah… dasar masyarakat biasa, selalu saja mencari keuntungan yang lebih.

Beberapa waktu yang berlalu aku bergulat dengan batinku sendiri. Suara jangkrik dalam gelapnya malam sudah mulai membising. Telingaku seakan terpekik karena suara itu, dikala aku sedang membaca sebuah buku yang ditulis oleh salah seorang cendikiawan ternama di Indonesia, yakni Preimodia Ananta Toer. Dalam bukunya itu, ia menulis dan menceritakan suatu negeri yang diliputi oleh kegelapan seperti kekerasan, penindasan, korupsi dan prilaku hoaks yang terus menyebar, yang menyebabkan kehidupan harmonis dalam sebuah negara dan masyarakat terancam. Suara jangkrik itu bagaikan rakyat yang menjerit karena kelaparan. Penguasa terus menghilangkan rasa laparnya dengan memeras hak milik rakyat. Rakyat tetap dan selalu direlung penderitaan. Ah. Sialan, “negeriku seperti cerita yang ada dalam buku ini? Entalah!

Aku pun kembali membacakan topik yang belum selesai dibacakan tadi. Isinya sangat menarik. Tetapi kali ini aku tidak begitu konsen dengan isi buku itu. Pikiranku tidak lagi terarah padanya karena suara jangkrik semakin membising keras. Dalam hati aku berseru: “jangkrik…jangkrik…, seandainya engkau tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini, engkau pasti mengerti. Aku sedang cemas dengan negeriku. Negeriku sama persis dengan cerita yang ada dalam buku ini. Ini tentang negeriku. Negeriku yang telah lama berada dalam balutan kegelapan. Korupsi semakin merajalela dan sekarang hoaks menyebar di mana-mana. Aku tak lagi paham dengan semuanya itu. Siapa yang harus aku persalahkan? Seandainya kamu memahami hal ini, akan ku biarkan engkau berteriak sesukamu. Apakah jadinya negeri ini ketika dipimpin oleh mereka-mereka itu? Andaikata engkau manusia seperti aku, engkau pasti merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan saat ini. Ya…engkau beruntung, diciptakan sebagai seekor binatang yang tau hanya berteriak dan bernyanyi sesukamu. Tak ada yang kau pikirkan. Tak ada yang kau sesali. Engkau bebas sampai kematianmu tiba. Tak seorang pun yang mengatur kehidupanmu. Engkau dengan bebas menguasai dunia ini. Engkau layaknya seperti penguasa yang dengan bebas menggunakan kuasa kepemimpinannya untuk menindas dan memeras hak milik rakyat. Memang suaramu terkadang membuat aku tertidur dengan lelap di malam hari, tetapi itu tak mengusik ketakutan yang ada dalam diriku tentang negeri ini. Negeriku berada dalam bayang-bayang kehancuran.” Dahulu mulut penguasa melontarkan janji manis hingga aku terpaut padanya, akan tetapi yang ku dapat tetaplah sama, yakni kelaparan. Bukankah negeri ini telah berubah? Aku yang hidup di era modern saat ini seakan masih berkelana di masah kolonialisme Belanda. Entah sampai kapan penderitaan ini akan berlalu?

Suarah jangkrik perlahan-lahan menghilang hingga tak terdengarkan lagi, seakan dia telah mengerti dan mengetahui isi hatiku. Aku pun kembali membuka buku itu dan lanjut membacakan topik yang belum selesai dibacakan tadi. Selang beberapa menit aku membaca, kini ngantuk yang datang mengganggu. Kali ini aku berusaha untuk menghilangkan rasa ngantuk itu sampai topik tersebut selesai dibacakan. Setelah itu aku pun bergegas menuju kamar tidur. Aku membantingkan badanku di atas kasur yang empuk dan melepaskan semua kelelahan serta berusaha untuk menutup mata lalu tidur. Namun, lagi-lagi dalam ingatanku terlintas rasah cemas akan negeri ini. Rasa ngantuk yang sebelumnya memaksaku untuk beristirahat, kini hanyut dalam bayang-bayang negeriku. Ah… Tuhan kenapa aku begitu cemas?

Aku pun kembali bangun dan menuju jendela kamar. Dari tempat itu aku melihat betapah indahnya rembulan malam dan seakan diselimuti oleh berbagai bintang yang menghiasi langit. Tuhan betapah indahnya ciptaan-Mu. Sahutku dalam hati “Aku ingin seperti bintang-bintang itu yang tak mau berkuasa atas yang lainnya dan kekompakan yang lebih diutamakan.” Aku bosan mendengar jeritan saudara-saudariku setiap hari. Mereka selalu mengeluh akan pemimpin di negeri ini. Ah, bukankah aku juga demikian? Percuma aku berorasi dalam batinku sendiri.

“Di sela dinding rumah-rumah tetangga aku melihat cahaya lantera yang sudah ada sejak zaman dulu. Tuhan betapa sedihnya kampung kami ini. Lagi-lagi nama Tuhan disebut dan seolah-olah Tuhan yang menghendaki semuanya itu. Dimanakah mereka yang selalu berkiprah dan mengucapkan janji tentang perubahan? Sudah puluhan tahun negeri ini merdeka, kami yang dipelosok belum begitu diperhatikan. Kapan kami harus merasakan penerangan seperti di kota-kota yang seakan tak ada malamnya? “Hidup…hidup… engkau sungguh-sungguh bukan diciptakan untuk menjadikan yang lain sebagai hamba, tetapi kau diciptakan untuk saling mengasihi satu sama lainnya.” Lantas, siapakah yang harus dipersalahkan? Apakah aku, mereka atau kita semua. Ah…Aku yang harus dipersalahkan karena aku terus berorasi dengan batinku sendiri yang tak pernah mau menguak dan mengungkapkan semuanya itu di tengah publik.

Tak sadar jam dinding menuju pukul 12:00 malam. Aku dikagetkan oleh ibuku. Dengan penuh kecemasan ibu bertanya padaku: “Apa yang sedang engkau pikirkan anakku? Sudah tengah malam, tetapi engkau belum juga tidur.” Saat itu aku tak mau menjawabnya dengan alasan ia tidak terlalu paham tentang apa yang aku pikirkan. Apa lagi yang berkaitan dengan negara. Mereka masih dibaluti oleh pemikiran kuno yang penuh dengan penindasan. Di mana-mana orang yang berkuasa selalu mengecam masyarakat kecil guna melaksanakan segala peraturan yang mereka utarakan. Hidup demokratis belum begitu ditegaskan. Negara seakan milik sebagian orang saja. Masyarakat kecil selalu dimanipulasi oleh kaum penguasa. Orangtuaku masih saja takut dengan hal itu. Mereka seolah-olah belum merdeka. Ingin aku berteriak kepada mereka bahwa negeri ini sudah merdeka termasuk kita. Namun, keinginan itu hanya sekedar lintas dalam anganku. Ya… sudahlah, tak perlu aku membahas hal itu lagi, karena mereka sebenarnya sudah tahu lebih awal tentang kemerdekaan itu.

Aku sudah lama menyelesaikan kuliah dalam bidang politik. Namun, sampai dengan saat ini pun aku belum juga mendapatkan pekerjaan. Bukan karena aku malas mencari pekerjaan, tetapi karena aku terlalu sibuk memperjuangkan hak kaum miskin. Aku tidak terlalu sibuk dengan uang. Betul sih uang punya nilai tersendiri dalam hidup. Namun, yang utama mesti aku lakukan sebagai seorang pemuda adalah memperjuangkan keadilan dan kesejateraan umum terutama bagi masyarakat kecil yang selalu ditindas dan dimanipulasi oleh pihak-pihak teratas.

Jordi Sahat

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x