Mohon tunggu...
Zahrotul Mujahidah
Zahrotul Mujahidah Mohon Tunggu... Selalu berjuang di jalan yang diridhai Allah

Blog: zahrotulmujahidah.blogspot.com, joraazzashifa.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kali Ini tentang Aku dan Sahabat Kecilku

13 Juni 2019   05:24 Diperbarui: 13 Juni 2019   05:30 0 5 2 Mohon Tunggu...
Kali Ini tentang Aku dan Sahabat Kecilku
Ilustrasi: kelascinta.com

Aku adalah perempuan yang sudah memasuki usia kepala tiga. Di usia yang cukup matang ini aku tak seperti sahabat-sahabatku. Jika mereka sudah memiliki keluarga dan segala kerepotannya. Aku masih asyik sendirian ke sana kemari selepas pulang kerja. 

Aku tak peduli dengan pandangan orang terhadap statusku itu. Aku begitu menikmati hidupku. Sesekali aku mendapatkan kesempatan untuk studi banding dari kantor ke beberapa sekolah bonafide. 

Perjalanan aku nikmati. Meski terkadang dalam rombongan sering aku  diledek dan "dijodohkan" dengan seorang lelaki yang kebetulan masih single atau sesekali ada duda, aku tak ambil pusing. Bagiku perjalanan kerja itu bukan berarti aku mencari sosok calon pendamping. 

Mungkin bagi orang lain aku dinilai terlalu perfeksionis. Terlalu memilih dalam mencari jodoh. Bukan! Aku bukan seperti itu. 

Hanya saja ada sesuatu yang tak aku ceritakan kepada orang lain. Aku masih menjadi perempuan seperti perempuan normal lainnya. Ingin mencintai dan dicintai oleh orang spesial. Aku ingin itu. 

Ketika aku merasa dekat dengan seorang laki-laki, dan laki-laki itu berkunjung ke rumah, aku sering mendapati sikap temperamen bapak. Aku kurang paham, apakah kesalahan laki-laki itu atau mungkin salahku. 

Sejak aku kecil, suara keras bapak tertangkap telingaku, hampir di setiap hari. Entah karena kesalahan sedikit almarhumah simbok, keterlambatanku sampai rumah, teman yang dolan ke rumah dan sebagainya. Kalau sudah seperti itu, aku sangat takut jika laki-laki yang kukenal akan melakukan hal serupa kepadaku ---dan anak-anakku kelak---. 

Akhirnya aku memutuskan tak mengambil langkah lebih jauh atas hubunganku. Aku lebih memilih untuk menjaga hatiku, aku tak mau ambil resiko dengan tindakan gegabah untuk hidup bersama laki-laki. Meski usia sudah termasuk kadaluarsa, kata teman-temanku. 

Sakitkah aku mendengar perkataan mereka? Aku lebih banyak diam, menahan rasa sakit dan marah. Traumaku melihat sikap buruk bapak tak mereka ketahui, jadi aku harus sabar, begitu pikirku. 

Hingga saat reuni dengan teman SMP, aku bertemu lagi dengan sahabat sejak SD sampai SMA. Aku tak tahu kenapa kami dulu bisa satu sekolah terus. Kami sering bertengkar, saling mencari, dolan bareng, dan terkadang perang dingin. 

Kulihat sahabat kecilku itu menjadi sosok yang dewasa. Jika teman-teman banyak yang bekerja di kota, merantau. Aku baru saja tahu kalau dia berwirausaha. Mengembangkan usaha kerajinan batik lokal kabupaten di tempat simbahnya. Sambil merawat simbah, begitu ceritanya. 

Ya... aku tak melihatnya di kampungku. Terakhir aku bertemu dengannya dengan kondisi perang dingin. Entah kenapa dia melakukan itu. Aku tak begitu memikirkannya. 

Sampai saat ini dia masih sendirian. Dan itu menjadi bahan olok-olokan bagi kami. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu. 

**

Satu hari setelah reunian, laki-laki ---teman sejak aku kecil--- menemuiku di rumah. Bapak kebetulan masih di sawah. 

"Ada apa, Yan? Tumben ke sini..."

"Ketus amat sih, non. Cantiknya hilang loh nanti..."

Aku mendengus kesal dengan ucapannya itu. Lama tak ketemu, begitu ketemu malah mulai mengajak perang saja. 

Aku lihat di ujung jalan bapak pulang dari sawah. Sambil menenteng cangkul dan topi caping melindungi kepalanya. Melindungi rambut yang mulai memutih dimakan usia. 

"Sudah. Kamu pulang saja, Yan. Biar nggak dimarahi bapakku..."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2