Mohon tunggu...
Jonny Hutahaean
Jonny Hutahaean Mohon Tunggu... tinggi badan 178 cm, berat badan 80 kg

Sarjana Strata 1, hobby membaca

Selanjutnya

Tutup

Politik

Edhy Prabowo Ditangkap, Elektabilitas Gerindra Bisa Naik

27 November 2020   13:18 Diperbarui: 27 November 2020   13:23 76 9 0 Mohon Tunggu...

Tertangkapnya Edhy Prabowo oleh KPK disinyalir oleh banyak orang akan menggerus suara yang memilih Gerindra tahun 2024 nanti, bahkan ada yang mengatakan peristiwa itu menghancurkan peluang Prabowo Subianto pada pilpres 2024. Menurut saya, sama sekali tidak.

Apapun peristiwa tahun 2020, atau tahun 2021, atau tahun 2022, tidak berpengaruh ke pilpres dan pileg tahun 2024. Kita tidak memiliki ingatan sepanjang itu, rakyat mudah terbuai oleh janji kampanye, dan masyarakat menantikan serangan fajar. Janji  surga adalah janji paling menarik, baik menurut makna konotatif atau ataupun makna denotatif.

Masih segar dalam ingatan, orang yang melecehkan perempuan dengan cara nikah siri lalu tiga hari kemudian menceraikan wanita itu, menceraikan itupun dilakukan lewat telepon, setahun kemudian orang itu terpilih untuk duduk di DPR dari jalur DPD. Ingatan kita tidak sampai setahun.

Kepada Gerindra beserta semua fans, jangan khawatir. Di negara kita, lupa sudah lama menjadi hobi yang digemari. Kaul jalan kaki dari Yogja ke Jakarta hingga kini tidak ada realisasi, yang mengucap kaul dan yang mendengar kaul sama-sama sudah lupa. Dalam hal kaul jalan kaki ini, lupa itu menjadi hal yang bagus. Sebab jika yang berkaul menjalankan kaulnya, besar kemungkinan saat tiba di Jakarta orangnya langsung sekarat menjemput maut. Kaul potong telinga, kaul potong jempol, semua lupa, semuanya nihil.

Hanya peristiwa tahun 2023 yang mungkin dapat mempengaruhi hasil pileg atau pilpres tahun 2024. Tetapi yang paling menentukan hasil adalah bagaimana kampanye dikemas, artis dangdut yang mana yang diundang. Selain bangsa pelupa, kita juga adalah bangsa yang sangat mencintai kemasan dan simbol. Kita banyak menghabiskan energi untuk menghadapi persoalan tentang kemasan dan simbol ini.

Saya malah menaruh rasa hormat kepada bapak Edhy Prabowo ini. Bukan terhadap tindakan yang berkaitan dengan jabatannya, tetapi terhadap sifat gentleman-nya itu. Mengakui dan meminta maaf, lalu mengundurkan diri dari dua jabatan prestisius, itu tindakan yang perlu diapresiasi. Terhitung sejak reformasi, Edhy Prabowo mungkin adalah orang pertama yang melakukannya.

Jika tindakan mengakui dan meminta maaf lalu mengundurkan diri terjadi di negara lain, itu biasa dan tidak perlu diapresiasi, itu bahkan keharusan dan sifat seperti itu adalah sifat yang paling minimal.

Tetapi pengakuan dan permintaan maaf lalu mundur dari dua jabatan prestisius itu terjadi di sini, di Indonesia ini. Di sini, anda pasti sangat kesulitan untuk mencari siapa pejabat terdakwa yang dengan berani mengakui dan meminta maaf atas perbuatannya lalu mundur dari semua jabatan yang disandang, siapa ayo.

Yang banyak terjadi adalah, si tersangka mendadak jadi sangat agamis, membandingkan penderitaannya dengan penderitaan para nabi yang dizolimi, dan tiba-tiba sangat fasih mengutip ayat-ayat dari kitab suci, lalu kemudian patentengan di TV, dan jika mungkin lalu melarikan diri. Semua terdakwa selalu berteriak saya dizolimi, saya dizolimi, aparat tebang pilih, ini rezim yang banal.

Edhy Prabowo melakukan hal yang jauh lebih baik dibanding semua pejabat yang pernah menjadi terdakwa, dan itu dilakukan saat statusnya masih tersangka, belum menjadi terdakwa. Menurut anda, apakah sifat ini tidak layak diapresiasi?

Gerindra juga bertindak elegan, hingga saat ini terlihat sangat menghormati proses hukum. Bandingkan dengan parpol-parpol lain, semua memberikan perlindungan kepada kadernya yang menjadi terdakwa. Alasan mereka sih terdengar hebat dan mulia, menjamin agar si terdakwa memperoleh hak-hak hukumnya. Saya lihat, Gerindra memilih sikap untuk mempercayai proses hukum, itu sesuatu yang membuat saya mulai melirik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN