Mohon tunggu...
John Lobo
John Lobo Mohon Tunggu... Guru - Pegiat Literasi dan Penggagas Gerakan Katakan dengan Buku
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Guru di SMA Negeri 2 Kota Mojokerto Jawa Timur

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Merawat Karakter Religius Siswa Katolik Selama Masa Pandemi

29 September 2021   09:22 Diperbarui: 29 September 2021   20:43 411
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Zoom SK3. (dok. pribadi)

Ketiga, adanya keengganan peserta didik untuk mencari referensi dari buku seperti buku pelajaran, Kitab Suci, dan sumber informasi lain yang berkualitas secara fisik karena ada persepsi yang tertanam dalam benaknya bahwa internet mampu memenuhi semua kebutuhan akan ilmu pengetahuan dan merupakan sumber belajar yang tak tergantikan.

Akses siswa yang sangat terbatas untuk memperoleh dan membaca buku bukan karena ketiadaan dan keterbatasan peluang serta infrastruktur media penyalur tetapi lebih disebabkan oleh tercerabutnya minat baca karena dominasi internet. Persoalan tersebut lebih diperburuk lagi dengan tingginya budaya tutur (lisan) dan nonton daripada budaya baca dan menulis. Situasi ini akan menyeret anak pada sebuah kebiasaan untuk menjadi penonton pasif (melihat dan mendengar) saja. Jika itu yang terjadi maka anak akan jadi sasaran atau obyek karena tiap hari anak dibombardir oleh berbagai informasi entah yang bersifat mendidik maupun yang melemahkan  daya imajinasi, inisiatif dan kreativitas.

Merawat Karakter Religius

Merawat karakter religius siswa Katolik di masa pandemi merupakan ikhtiar untuk memelihara dan menjaga agar peserta didik tetap patuh dan taat terhadap ajaran agama serta menjalaninya dalam hidup sehari-hari kendati pembelajaran itu dilakukan secara online atau daring dan PTM Terbatas. Ketika pemberlakukan pembelajaran jarak jauh, hal yang tidak bisa diingkari adalah keterbatasan  teknologi untuk menjangkau hal paling mendasar dalam pendidikan yaitu pendidikan karakter.

Baca Kitab Suci di rumah. (dok. pribadi)
Baca Kitab Suci di rumah. (dok. pribadi)

 Demikian juga dengan peran guru dalam merawat karakter siswa selama masa pandemi. Walapun pembelajaran dilakukan dari rumah, peran guru tidak hanya terbatas pada mendesain bahan pembelajaran, melakukan transfer pengetahuan dan menilai hasil pembelajaran siswa. Dalam pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) guru juga berperan untuk membimbing dan melatih peserta didik serta mengawal agar proses pendidikan (karakter) tetap berjalan seperti layaknya ketika pembelajaran tatap muka.

Dalam konteks merawat karakter religius siswa agar tidak terjebak dalam pemanfaatan internet yang terlalu lama, desain strategi yang dilakukan adalah  merancang materi Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti (PAK-BP) menjadi lebih sederhana sesuai dengan tuntutan kurikulum dalam rangka tanggap darurat bencana pandemi covid-19. Upaya penyederhanaan tersebut tidak mengabaikan atau menghilangkan strukutur atau tahapan wajib dalam KBM daring yang dilakukan oleh peserta didik yakni berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran.

Melalui doa peserta diajak untuk memohon agar PJJ berlangsung dengan baik dan berterima kasih atas penyertaan Tuhan selama mengikuti pembelajaran daring. Melalui doa peserta didik juga diajak agar terhindar dari segala bentuk godaan media yang bisa melemahkan iman mereka. Lewat doa juga peserta didik mampu menggali serta menimba kekuatan agar memiliki sikap tenang dan sabar juga optimisme dalam menghadapi dampak Covid-19.

Membangun persepsi dan sikap peserta didik agar mampu memahami dan memanfaatkan gawai sebagai piranti elektronik secara bijaksana tanpa mengabaikan aspek sosial dan kemanusiaan. Hal apapun yang dibangun berbasis teknologi memang mengasyikan, banyak sensasi, dan fantasi. Jika ingin bermain, anak tidak membutuhkan lapangan dan teman bermain secara fisik. Dalam kesendiriannya dan bermodalkan smartphone dan komputer siswa terlibat dalam area permainan yang seru dan bahkan mampu menemukan jawaban apa saja yang terkait dengan pertanyaan selama kegiatan pembelajaran. Kemudahan yang didapat tanpa kita sadari telah menyeretnya menjadi sosok yang egois dan tidak peduli dengan dunia sekitarnya. Cukup menunduk dan menggerakkan buku-buku jari saja semua persoalan teratasi.

Melalui zoom meeting dalam kegiatan ekstra Kurikuler Kristen dan Katolik (SK3) yang dilakukan setiap hari Sabtu jam 10.00 -- 11.00 WIB maupun doa pagi bersama setiap jam 06.30 di lapangan basket peserta didik diajak untuk memahami akan keberadaan dirinya sebagai makhluk pribadi dengan segala kelebihan dan keterbatasan serta makhluk sosial yang memiliki tanggung jawab moral agar peduli dengan sesama sebagai ciptaan Tuhan. Mengabaikan sesama apalagi dimasa pandemi adalah perbuatan yang berdosa. Bentuk kepedulian tersebut tampak dalam doa-doa yang dilantunkan bersama yakni doa pagi, doa untuk orang tua, doa untuk orang yang sakit dan menderita, doa untuk guru, doa untuk pemimpin pemerintah, dll.

Membangun pemahaman dan sikap peserta didik agar memiliki minat baca yang baik selama masa pandemi dengan memanfaatkan buku sebagai referensi utama dalam pembelajaran melalui ajakan, himbauan, dan penugasan untuk membaca Alkitab serta menulis artikel tentang pengalaman selama belajar dirumah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun