Mohon tunggu...
John Lobo
John Lobo Mohon Tunggu... Guru - Pegiat Literasi dan Penggagas Gerakan Katakan dengan Buku
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Guru di SMA Negeri 2 Kota Mojokerto Jawa Timur

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Merawat Karakter Religius Siswa Katolik Selama Masa Pandemi

29 September 2021   09:22 Diperbarui: 29 September 2021   20:43 411
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Oleh : John Lobo

Wabah Covid-19 ( Corona Virus Disease 2019) telah merubah tatanan dunia dan membawa dampak perubahan terhadap seluruh sektor kehidupan manusia termasuk bidang pendidikan. Dalam rangka meminimalisir dan memutus mata rantai penyebaran virus serta tetap terjaga jarak fisik dan jarak sosial yang aman, maka pemerintah mendesain dua bentuk pelaksanaan proses pembelajaran.

Pertama, kegiatan pembelajaran yang biasanya berlangsung pada ruang real-konvensional yang berbasis klasikal bergeser ke ruang virtual dalam bentuk komunikasi langsung tanpa bertemu secara nyata, namun menyerupai seperti nyata, melalui berbagai platform seperti YouTube, Zoom, Google meet, Google Classroom, Moodle, blog, dll.

Ketika sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring mulai diberlakukan pada bulan Maret 2020 banyak pihak yakin dan optimis bahwa kendati pandemi hak dasar anak akan pendidikan tetap terpenuhi sehingga kondisi kejiwaan orang tua, guru,serta siswa tetap terjaga.

Hal penting dari pelaksanaan pendidikan dalam masa darurat Covid-19 adalah aktivitas dan tugas pembelajaran dilakukan secara variatif tergantung pada kondisi siswa dan kesenjangan akses atau fasilitas belajar di rumah. Bahkan oleh Mendikbud melalui Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 menekankan bahwa peran guru tidak hanya memberikan pekerjaan, namun tetap membangun interaksi dan berkomunikasi dengan siswa.Melalui komunikasi akan terbangun sikap positif antara guru dan siswa sehingga hubungan baik diantara keduanya tetap terjaga misalnya saling menyayangi, saling menukar ide, saling menguatkan, mengkritik, dan menegur.

Kedua, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas. Pelaksanaan PTM Terbatas mengacu pada Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri yakni Menteri Pendidikan Riset dan Teknologi, Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. Alasan mendasar pemerintah mengeluarkan keputusan PTM Terbatas adalah menghindari terjadinya gejala learning loss atau berkurangnya jam belajar dan semangat belajar peserta didik.

Regulasinya berdasarkan Surat Edaran Tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka Tahun Akademik 2021/2022 yang diterbitkan pada tanggal 13 September 2021.PTM terbatas dilakukan dengan koordinasi antara sekolah dan aturan gubernur di tiap wilayah sedangkan aturan penerapannya pada tiap tingkatan pendidikan dimana setiap warga sekolah harus patuh pada protokol kesehatan.

PTM Terbatas jam pelajarannya sangat dibatasi yakni satu jam pelajaran yang biasanya dihitung 45 menit pada masa normal kini menjadi 15 menit. Seperti PAK-BP pada situasi normal pelaksanaanya berlangsung selama 3 jam tatap muka atau 135 menit berkurang menjadi 45 menit. Oleh karena itu institusi menghimbau agar selama kegiatan PTM yang terbatas, materi esensial saja yang disampaikan kepada peserta didik.

Ditengah optimisme tentang pemenuhan hak dasar siswa, terselip juga sejumlah petaka yang mengintai dan bisa mengancam bahkan mendegradasikan moral dan kehidupan iman peserta didik selama mengikuti PJJ, antara lain pertama, pengaruh dan penggunaan jaringan internet yang terlalu lama dimana pesona iklan seperti; makanan yang tidak sehat, stereotip gender dan konten lain yang tidak sesuai dengan perkembangan usia siswa tentu akan menggoda hingga mengalihkan fokus pembelajaran mereka.Kedua, penggunaan gawai sebagai media pembelajaran yang tidak terkontrol dengan baik tanpa terasa bisa menyeret siswa menjadi sosok yang  egois dan apatis terhadap sesama dan lingkungannya.Yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun