Mohon tunggu...
Johan Japardi
Johan Japardi Mohon Tunggu... Penerjemah - Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Lulus S1 Farmasi FMIPA USU 1994, Apoteker USU 1995, sudah menerbitkan 3 buku terjemahan (semuanya via Gramedia): Power of Positive Doing, Road to a Happier Marriage, dan Mitos dan Legenda China.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Mindfulness: Terjebak di Masa Lalu, Cemas tentang Masa Depan?

13 September 2021   09:22 Diperbarui: 13 September 2021   09:20 366
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi. Sumber: Practical Mindfulness Book, hlm. 37.

Berada pada Momen Ini
Kita menghabiskan waktu terlalu lama di masa lalu dan masa depan sehingga gagal untuk hadir pada saat ini. Jika rasa bersalah adalah keluhan terhadap diri kita sendiri, masa lalu sering menjadi sebuah penyebab keluhan terhadap orang lain.

Amarah mudah dihidupkan kembali oleh memori kesalahan-kesalahan masa lalu, yang melonjak dalam agresi baru, sedangkan kebencian "mendidih," dengan permusuhan pada tingkat yang lebih rendah.

Melalui mindfulness, Anda bisa memanfaatkan kekuatan positif saat ini untuk mengubah hubungan Anda dengan masa lalu.

Tidak ada pertempuran bernada tinggi yang diperlukan. Saat ini hanya harus diperhatikan, dan kekuatan peristiwa masa lalu pun akan memudar.

Pembobolan Penjara
Terpenjara karena rasa bersalah atau malu, kita membutuhkan mindfulness untuk merencanakan pelarian besar kita. Kuncinya adalah belajar bagaimana berhenti menilai diri sendiri, lihat artikel saya: Mindfulness: Fokus Tanpa Penilaian.

Itu hanya persepsi kita yang terdistorsi dan lebih khusus lagi kurangnya rasa sayang terhadap diri sendiri, yang membuat sebuah penjara masa lalu.

Sel tempat kita terkunci adalah buatan kita sendiri dan meditasi mindfulness memberi kita kuncinya. Ketika kita memberikan perhatian pada momen saat ini, masa lalu membebaskan kita dari penawanan. Dengan kunci di tangan kita secara mindful kita membuka kunci pintu dan berjalan bebas.

Lihat gambar judul:
Jeruji Penjara Perasaan Bersalah
Menjadi putra, putri, atau orangtua yang buruk.
Menjadi pasangan yang buruk.
Menjadi tidak mampu mengatasi masalah.
Menjadi tidak mampu untuk sukses.
Menjadi egois.

Jeruji Penjara Perasaan Malu
Gagal untuk unggul.
Gagal untuk mengendalikan emosi Anda.
Gagal untuk bertanggungjawab.
Gagal untuk menjadi normal.
Gagal utuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Kepustakaan
1. Anneley, Mike, Time Warps, Stuck in the Past, Anxious about the Future? Practical Mindfulness Book, Future Publishing Limited,  London, UK, July 2021, hlm. 36-37.
2. Diary Johan Japardi.
3. Berbagai sumber daring.

Jonggol, 13 September 2021

Johan Japardi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun