Mohon tunggu...
jjveuxky
jjveuxky Mohon Tunggu... hei-!!

𝖊𝖛𝖊𝖗𝖞𝖙𝖍𝖎𝖓𝖌 𝖍𝖆𝖘 𝖎𝖙𝖘 𝖙𝖎𝖒𝖊 .

Selanjutnya

Tutup

Novel

Galaksi Biru (2)

21 Februari 2021   16:19 Diperbarui: 21 Februari 2021   17:04 38 2 0 Mohon Tunggu...

Pak Devano menghampiri kami, dan memberi nasehat agar tidak seperti itu lagi. Pak Devano memang guru yang baik dan sabar, dia mengajar ipa. Pak Devano menyuruh kami masuk kelas. Gue dan Nathan jalan barengan. Saat ingin masuk ke kelas, gue ngeliat Arkan. Sepertinya dia daritadi melihat gue dan Dimas yang bertengkar. Berhubung gue kelupaan bawa buku cetak, jadi Nathan deluan masuk kelas sedangkan gue harus pergi ke perpustakaan dulu buat minjem buku. 

Perpus sekolah gue emang yang terbaik. Semua jenis buku ada, ya nggak semua sih. Kecuali buku tentang cinta, mana ada di perpus buku seperti itu. Sebelum mencari buku cetak, gue pengen baca buku yang diceritain tadi di kelas. Kata mereka ada buku yang mereka temuin di pojok perpus. Gue penasaran, buku tentang apa itu. Akhirnya gue nyari, dan ketemu ! Gue baca sekilas, isinya tentang cerita anak remaja yang menjalani kehidupan sekolah dengan masalah-masalah yang mereka hadapi. Tapi, gue gak ada waktu buat baca buku itu walaupun dibawa di rumah. Lu harus tau, gue nonton drakor tiap hari tiap waktu. Selesai nugas pasti nonton drakor. Tapi gue gak lupa waktu. 

Buku itu gue letakkan kembali pada tempatnya, dan lanjut mencari buku yang menjadi tujuan gue ke perpus. Letak bukunya ada di rak paling atas, dengan tinggi rak melebihi tinggi yang gue bisa capai. Tinggi gue 165 cm, dan rak itu mungkin 180 cm. Mau bagaimana lagi, gue harus jinjit buat ngambil buku itu, tapi tetap gak bisa. Tiba-tiba ada tangan yang meraih buku itu, gue kaget dan langsung melihat ke belakang. Dan ternyata itu Arkan !

"Lah lu ngapain disini?" dengan nada kaget

"Inikan buku yang lu mau ambil? Kalau mau ambil buku di tempat yang tinggi minta bantuan, udah tau lu pendek" memberi buku cetak tadi

"Dih, sok tinggi lu, btw makasi"

"hm"

Ya, itu pertama kalinya dia ajak gue bicara dengan santai, tapi agak kesal sih dia ngatain gue pendek. Gue emang sadar gue pendek, tinggi gue setara dengan bahunya Arkan, tapi seharusnya dia nggak bilang gitu. Gue emang gak ambil hati dan gak peduli. Gue buru-buru ke kelas takut guru sudah masuk. 

Bel pulang sekolah berbunyi, seperti biasa gue pulang dengan Nathan. Orang tua gue mempercayai Nathan untuk nemenin gue berangkat dan pulang sekolah. Pas mau keluar dari sekolah, gue ngeliat Arkan yang terburu-buru entah pergi ke mana. Gue ngira dia punya urusan pribadi. Akhirnya gue pergi ke kelas nya Nathan. Sebelum itu, gue harus ngembaliin buku yang tadi gue pinjem di perpus. Nathan menunggu di ruang tunggu.

Gue ngembaliin buku nya sama petugas perpus, dan mau meminjam buku ensiklopedia, gue bukan kutu buku, tapi meminjam buku ensiklopedia bisa membantu gue dalam mengerjakan tugas-tugas. Ruangan perpus sangatlah besar. Gue harus melihat satu persatu rak. Handphone gue berbunyi, dan ternyata Nathan yang menelpon. Sebelum gue mengangkat telpon nya Nathan, gue mendengar cowok nangis. Dan sepertinya berasal dari ruang buku tua. Gue beraniin diri buat ngecek. Perlahan gue memegang gagang pintu dan mendorong pintu dengan mata tertutup, gue takut itu...

Setelah beberapa detik, gue langsung membuka mata dan buumm. Itu Arkan ! Gue heran kenapa Arkan nangis. Sepertinya dia bukan menangis karena masalah sepele. Kalau lu bilang Arkan anak cengeng, anak kecil, lu salah. Cowok juga bisa nangis. Gue hampiri Arkan dan bertanya apa masalahnya.

BERSAMBUNG . . .

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
21 Februari 2021