Mohon tunggu...
Jefry Go
Jefry Go Mohon Tunggu... pegawai negeri -

Learning by Reading & Learning by Writing

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Merindukan Musik Indonesia Era ‘90an

20 Januari 2016   09:52 Diperbarui: 20 Januari 2016   09:52 784
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa.

Percayalah padaku akupun rindu kamu, ku akan pulang melepas semua kerinduan yang terpendam…..

Sepenggal lirik lagu Dewa 19 berjudul Kangen membawa memori ini kembali ke era tahun 1990an. Suatu era dimana musik Indonesia sangat majemuk, sungguh berbeda dengan iklim industri musik tanah air masa kini.

Saya masih ingat betul, pada masa-masa tersebut, sering sekali mendengarkan radio yang memutar lagu-lagu Indonesia. Tapi, saat mendengar segmen musik dalam negeri, rasanya telinga tidak pernah bosan. Sebab, berbagai genre musik mendapat porsi yang cukup seimbang. Beragam pilihan disajikan kepada pendengar bak menu sebuah rumah makan.

Kalau kita ingin makan pedas tinggal pesan menu yang banyak cabenya. Saat mood ingin yang segar-segar tinggal pesan sup atau makanan berkuah lainnya. Sama halnya dengan musik, saat hati ini lagi mellow, bisa dengarkan lagu-lagu pop dari band-band berkualitas seperti Dewa 19, Base Jam, Kla Project, Kahitna, dan Java Jive. Di kala feeling sedang energik, bisa switch ke Gigi maupun Potret. Jiwa rockstar sedang on, ada Boomerang, Jamrud, /RIF, hingga Powermetal yang siap mengisi hari-hari anda. Di sisi boyband/girlband/vocal grup, beberapa nama layak masuk playlist misalnya, AB Three, Trio Libels, dan Lingua. Vocal grup tersebut (saya yakin) lebih mengandalkan kualitas suara dan harmoni antar anggotanya dibanding sekadar tampilan tarian di atas panggung.

Saat ini, kondisi permusikan sungguh berbeda. Publik seakan dipaksa menerima menu yang sama menuruti keinginan pasar. Di luar sana, banyak yang beranggapan grup band Padi dan Sheila on 7 merupakan generasi terakhir band berkualitas di Indonesia. Jika demikian, sungguh kasihan para penikmat musik rock, alternative, jazz, atau musik-musik anti-mainstream yang memang kurang mendapat perhatian dari pelaku bisnis musik. Dalam hal ini, tampaknya major label dan media punya tanggung jawab moral.

Berdalih merujuk keinginan pasar, major label jelas sekali terkesan hanya mengejar keuntungan dengan mengesampingkan keinginan pendengar. Terpaan arus musik melayu pada awal 2000an (entah mengapa) berdampak pada mati surinya aliran musik lainnya dalam industri rekaman. Major label ramai-ramai mewadahi band-band atau musisi dari satu jenis aliran musik saja. Sehingga tak heran, perlahan penikmat musik yang cerdas mulai menghapus lagu dalam negeri dalam playlist gadget. Mereka lebih memilih ‘mengkonsumsi’ musik mancanegara yang dinilai lebih berkualitas.

Parahnya, arus negatif major label juga ditiru oleh media massa. Saat peralihan musik melayu, hampir semua acara-acara musik menampilkan band-band beraliran melayu. Hampir tidak ada pilihan saat menyalakan televisi. Pasalnya, televisi A dan B memperdengarkan musik yang nyaris sama, hanya artisnya saja yang berbeda.

Selain itu, major label dan media (sayangnya) juga lebih memberi porsi kepada grup musik/figur instan yang mendadak terbentuk namun cepat bubar atau tenggelam. Mungkin musisi-musisi dadakan tersebut lebih mengandalkan faktor ‘tenar’ yang sudah dimiliki sebelumnya. Sebagian besar, sebelum jadi musisi, kebanyakan dari mereka sudah terkenal dari jalur pemain sinetron, komedian, dan sebagainya. Berbeda dengan perjuangan band-band era ‘90an yang memang banyak merintis karir bermusik dari bawah.

Inkonsistensi para pelaku musik masa kini berdampak pada kebingungan publik mengidentifikasi figur musisi yang layak dijadikan idola. Contoh simpelnya, tengok saja acara musik pagi hari di sejumlah stasiun televisi swasta. Acara tersebut banyak didominasi musisi-musisi instan yang mungkin kurang dikenal lewat karyanya. Parahnya lagi, (mungkin) lantaran sudah kehabisan ide musik yang berkualitas, acara musik tersebut mulai mencampurkan konsep dengan dance, game, dsb yang (lucunya) terkadang durasinya justru lebih lama dari tampilan musisi di layar kaca.

Dengan kondisi tersebut, tak salah jika masyarakat lebih memilih mendengarkan Ed Sheeran, Sam Smith, Meghan Trainor, atau musisi-musisi mancanegara lain yang lebih in saat ini. Karena memang, di dalam negeri mereka tidak mendapat apa yang mereka inginkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun