Mohon tunggu...
Jawani Eka Pyansahcilia
Jawani Eka Pyansahcilia Mohon Tunggu... Administrasi - Resensor Pemula

Seorang statistisi yang terjebak di dunia akuntansi, mencoba lari sejenak menjadi peresensi

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

"Dia Adalah Kakakku", Tampilan Baru dari Novel Bidadari-Bidadari Surga

30 Desember 2018   23:25 Diperbarui: 31 Desember 2018   07:15 4345
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Sejak dulu, bagi Mamak, urusan perjodohan tergantung anak-anaknya. Ia tidak melarang, tapi juga tidak menyuruh. Sepanjang calon pasangan mereka berakhlak baik, bertanggung-jawab, pandai membawa diri, dan saling menyukai, itu sudah cukup. Sisanya bisa dicari saat menjalani pernikahan." (hlm.376)

--

Novel ini sedikit banyak menceritakan masa kecil mereka di Lembah Lahambay. Yashinta yang senang diajak Kak Laisa untuk melihat berang-berang yang lucu. Sempat juga Yashinta pasrah untuk tidak sekolah karena dengan pikiran polosnya bahwa yang wajib sekolah hanya anak laki-laki.

Dalimunte yang dari kecil sering melakukan eksperimen-eksperimen, memiliki otak yang cerdas membuat ia berani memberikan ide ke warga kampung untuk membangun kincir air agar dapat mengairi tanah pertanian mereka tanpa harus menunggu hujan datang.

Lain halnya dengan Ikanuri dan Wibisana, mereka anak yang bandel. Sering bolos sekolah untuk pergi ke Kota Kecamatan sampai malam tiba. Membuat Mamak dan Kak Laisa kesal dan mengelus dada dengan tingkah mereka. Hingga suatu saat, atas kebandelan mereka sendiri, mereka harus menghadapi Si Penguasa Gunung Kendeng. Kak Laisa tidak pernah terlambat untuk menolong adik-adiknya.

"Ikanuri, Wibisana, suatu saat nanti kalian akan melihat betapa hebatnya kehidupan ini. Betapa indahnya kehidupan di luar sana. Kalian akan memiliki kesempatan itu, yakinlah... Kakak berjanji akan melakukan apa pun demi membuat semua itu terwujud." (hlm.150)

Sebuah janji Kak Laisa untuk adik-adiknya, dengan penuh harap agar mereka menjadi orang yang sukses. Tidak hanya sekedar janji, Kak Laisa membuktikan sendiri kepada Mamak dan ke empat adiknya bahwa janji tersebut bisa ia wujudkan.

--

Setiap bab disampaikan dengan kisah saat itu (alur maju) dan kisah masa lalu (saat lampau), salah satu ciri khas Om Tere dalam menyampaikan cerita pada setiap novel yang beliau tulis.

Halaman 106 terdapat kesalahan penulisan yang mengakibatkan salah makna, "Juwita dan Delima memutuskan untuk tidak banyak berdebat lagi. Membiarkan saja putri-putri tunggal mereka membawanya...". Sedangkan, Juwita dan Delima adalah anak Wulan dan Jasmine. Sehingga, pada kalimat tersebut nama Juwita dan Delima harusnya diganti menjadi Wulan dan Jasmine.

Terlepas dari kesalahan tersebut, tidak mengurangi makna cerita yang ingin disampaikan dari novel ini. Sebuah perjalanan hidup yang bisa kita teladani dan ketahui bahwa diluar sana ada orang yang memikul beban hidup yang lebih besar daripada hal sepele yang sering kita keluhkan. Bagaimana seorang Mamak mendidik anak-anaknya dan seorang Kakak yang rela mengorbankan diri sendiri agar adik-adiknya sukses.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun