Mohon tunggu...
Irine Jasmine
Irine Jasmine Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Pazzo

20 Maret 2017   07:44 Diperbarui: 20 Maret 2017   18:00 528
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

            Sharene membuka mata dengan perlahan, Sharene melihat seorang lelaki menggunakan jas putih dan mengalungkan stetoskop. Di ruangan itu juga ada Olgave. “Aku dimana? Mengapa kalian melihatku dengan tatapan itu?” tanya Sharene dengan takut, seakan orang yang ada di ruangan itu adalah orang jahat. “Kamu tadi pingsan di toilet. Kamu mengurung diri di toilet, Sharene” jawab Olgave dengan menenangkan Sharene. Karena kejadian pembullyan waktu itu, Sharene masih tidak berani untuk menatap mata orang. Untuk mengobrol dengan seseorang pun, Sharene masih trauma berat. “Jangan takut, Sharene. Kamu hanya kelelahan. Percayalah padaku, jangan takut pada siapapun.” ucap sang dokter dengan nada menenangkan Sharene. “Kamu memandangku dengan tatapan itu, aku benci itu!” teriak Sharene dengan sangat ketakutan.

            “Olgave, bisa ikut saya keluar sebentar?” tanya dokter kepada Olgave. “Tentu, dok.” jawab Olgave. Dokter dan Olgave keluar ruangan klinik, sepertinya ada sesuatu yang penting.

            “Ada apa, dok?” tanya Olgave. “Jadi gini, kamu adalah teman Sharene. Kamu harus membantu Sharene. Menurut analisis saya, sepertinya teman kamu mengalami kelelahan sehingga dia perlu semangat dari sahabat seperti kamu. Untuk saat ini, keadaannya sangat tidak memungkinkan bisa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang banyak.” jawab Dokter. “Kelelahan?“ tanya Olgave.

             “Bukan begitu maksud saya Olgave, tapi keadaannya benar-benar butuh kasih sayang dan orang yang bisa memperbaiki dan membantu dia untuk menghadapi semua ini.”

            “Saya yakin, saya bisa membantunya dokter.”

            “Syukurlah jika kamu mau membantunya. Maafkan saya, saya tidak bisa membantu lebih banyak lagi” ucap dokter, dengan nada yang benar-benar perihatin dengan keadaan Sharene.

           “Terima kasih banyak” ujar Olgave, seketika Olgave meninggalkan dokter.

Olgave sangat perihatin dengan keadaan Sharene. Karena lelaki brengsek yang bernama Ruttafa itu bisa membuat temannya hampir seperti ini. Olgave, langsung menemui Sharene di ruangan klinik. Olgave melihat Sharene duduk di lantai dan di tangan Sharene ada sebuah pisau buah yang telah siap untuk menancap ke perutnya Sharene. Olgave pun panik, dan langsung ingin memberhentikan tindakan temannya itu.

           “Sharene. Berhenti!!” teriak Olgave yang seketika berlari dan mencegah tangan Sharene untuk menancapkan pisau ke perut Sharene.

           “Apa yang kau lakukan? Ini tidak benar Sharene. Kamu bisa menghadapi semuanya Sharene” ujar Olgave, dengan tangan yang masih menahan sebuah tangan yang memegang pisau.

          “Kamu!! Aku sudah tidak kuat lagi untuk hidup, Gave. Kamu mau ikut mati denganku? Mari kita mati bersama” sahut Sharene dengan mata yang telah bercucuran air mata dan dengan tangan yang telah siap menancapkan pisau kepada siapa saja.  Pisau itu sekarang berubah tujuan, pisau itu telah siap menusuk tangan Olgave.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun